MERAHPUTIH.COM - KASUS hantavirus kembali menjadi perhatian publik setelah muncul laporan penularan di kapal pesiar MV Hondius yang menyebabkan sedikitnya lima penumpang mengalami gangguan pernapasan serius. Meski tergolong penyakit langka, hantavirus dikenal berbahaya karena dapat berkembang cepat dan menyebabkan komplikasi fatal jika tidak segera ditangani. Situasi tersebut membuat banyak orang mulai bertanya-tanya: sebenarnya apa itu hantavirus?
Seperti dilansir laman resmi World Health Organization, Hantavirus adalah kelompok virus yang ditularkan terutama melalui hewan pengerat, seperti tikus. Virus ini dapat menginfeksi manusia ketika seseorang menghirup partikel udara yang telah terkontaminasi urine, air liur, atau kotoran tikus yang membawa virus. Penularan juga bisa terjadi melalui kontak langsung dengan benda yang terpapar, bahkan dalam beberapa kasus melalui gigitan tikus.
Penyakit ini pertama kali dikenal luas setelah muncul wabah di wilayah Amerika Serikat pada awal 1990-an. Sejak saat itu, berbagai jenis hantavirus ditemukan di sejumlah negara dengan karakteristik yang berbeda-beda. Beberapa jenis menyerang sistem pernapasan, sedangkan jenis lain lebih banyak memengaruhi fungsi ginjal.
Salah satu bentuk paling berbahaya dari infeksi ini yakni Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), kondisi yang menyerang paru-paru dan menyebabkan gangguan pernapasan berat. Pada tahap awal, gejalanya sering menyerupai flu biasa, seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, lemas, menggigil, hingga mual dan muntah. Namun, setelah beberapa hari, kondisi pasien dapat memburuk dengan cepat hingga mengalami sesak napas akibat cairan yang memenuhi paru-paru.
Baca juga:
WHO Soroti Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar, Ini Gejala Awal yang Sering Dikira Flu
Selain HPS, ada juga jenis infeksi lain yang disebut Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), yang lebih banyak menyerang ginjal. Gejalanya meliputi demam tinggi, nyeri punggung, gangguan penglihatan, tekanan darah rendah, hingga gagal ginjal dalam kondisi berat.
Hal yang membuat hantavirus cukup mengkhawatirkan yakni tingkat fatalitasnya yang tinggi. Pada beberapa kasus HPS, angka kematian bisa mencapai lebih dari 30 persen apabila pasien terlambat mendapatkan penanganan medis. Hingga saat ini, belum ada obat antivirus khusus untuk hantavirus, sehingga pengobatan umumnya berfokus pada perawatan suportif, seperti bantuan oksigen dan pemantauan intensif di rumah sakit.
Meski sebagian besar penularan berasal dari hewan pengerat, beberapa varian tertentu seperti Andes hantavirus diketahui memiliki kemungkinan penularan antarmanusia dalam kontak yang sangat dekat. Namun, kasus seperti ini tergolong jarang terjadi jika dibandingkan dengan penularan langsung dari tikus. Risiko paparan hantavirus biasanya lebih tinggi di area yang memiliki populasi tikus tinggi, lingkungan yang kurang bersih, gudang tertutup, loteng, atau tempat yang jarang memiliki sirkulasi udara baik. Oleh karena itu, menjaga kebersihan lingkungan menjadi langkah penting untuk mencegah penyebaran virus ini.
Masyarakat juga diimbau berhati-hati saat membersihkan area yang terdapat kotoran tikus. Membersihkan dengan sapu atau vacuum cleaner dapat membuat partikel virus beterbangan di udara dan mudah terhirup. Penggunaan masker, sarung tangan, serta cairan disinfektan sangat disarankan saat membersihkan area berisiko.
Walaupun tergolong penyakit langka, hantavirus tetap perlu diwaspadai karena dapat berkembang cepat dan memicu komplikasi serius. Mengenali gejala awal dan memahami cara penularannya menjadi langkah penting agar risiko infeksi dapat ditekan sedini mungkin.(far)
Baca juga: