MerahPutih.com - Misteri kelam yang menyelimuti insiden hilang kontaknya rombongan jurnalis di kawasan perairan Selat Sunda perlahan mulai terjawab.
Tim forensik berhasil mengonfirmasi secara ilmiah identitas jasad yang terdampar jauh hingga pulau terluar Indonesia itu Surakman atau Sukarman, salah satu kru kapal KM Arupadatu I yang membawa rombongan jurnalis.
Berdasarkan hasil pemeriksaan DNA operasi DVI Pusdokkes Polri terhadap jenazah yang ditemukan di Pulau Enggano, secara genetik dengan kode PM/62/P.Enggano/01, teridentifikasi sebagai Sukarman, ABK kapal ,
Kapolda Banten Irjen Pol Hengki, Rabu (23/9).
Baca juga:
Kru Kapal Jurnalis Hilang Ditemukan di Enggano, Jenazah Diberangkatkan ke Banten Pakai Pesawat
Kronologi Awal Peliputan Bencana Gunung Anak Krakatau
Peristiwa naas bermula saat kapal cepat KM Arupadatu I yang mengangkut lima awak media dan tiga kru kapal bertolak dari Dermaga Pagedongan Carita, Kabupaten Pandeglang, guna menuntaskan tugas peliputan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau pada Senin (7/9) pukul 14.00 WIB.
Hantam cuaca ekstrem atau gangguan navigasi membuat armada laut tersebut hilang kontak tanpa jejak di tengah gelombang Selat Sunda, hingga memicu digelarnya operasi pencarian dan pertolongan berskala besar oleh tim SAR gabungan.
Memasuki hari kelima operasi pencarian intensif pada Sabtu (12/9), secercah petunjuk penting akhirnya muncul setelah aparat kepolisian daerah Bengkulu mendeteksi sesosok mayat pria tanpa identitas mengapung di kawasan perairan Sawang Bengkok, Desa Kahyapu, Kecamatan Enggano.
Guna mempercepat proses identifikasi, tim medis gabungan langsung mengevakuasi jasad korban dari pulau menggunakan armada pesawat jenis Cessna menuju Instalasi Kedokteran Forensik Rumah Sakit Bhayangkara Polda Bengkulu. Hasil tes DNA memastikan mayat itu salah satu angggota kru kapal.
"Secara genetik dengan kode PM/62/P.Enggano/01, teridentifikasi sebagai Sukarman, ABK kapal yang merupakan ayah biologis dari Yayan," tandas Kapolda Banten.
Baca juga:
Makam Jasad di Pulau Enggano Dibongkar, DNA Keluarga Kapal Jurnalis Hilang Dikirim
Desakan Operasi Pencarian SAR Dibuka Kembali
Penemuan dan kepastian identitas pria berusia 60 tahun itukini bisa menjadi pijakan penting bagi tim SAR gabungan untuk kembali menyisir dan melacak keberadaan tujuh korban lainnya yang masih dinyatakan hilang.
Ketua Umum Pewarta Foto Indonesia (PFI) Pusat Dwi Pambudo, menegaskan penemuan jasad Sukarman menjadi bukti konkret pertama sejak rombongan Arupadhatu I dinyatakan hilang.
Menurut dia, temuan ini menjadi dasar penting untuk kembali mengaktifkan operasi SAR gabungan yang sebelumnya dihentikan Basarnas pada hari ke-10 pencarian, yakni 17 September 2026.
PFI juga mengingatkan komitmen otoritas SAR yang menyatakan operasi pencarian dapat kembali dibuka apabila ditemukan petunjuk atau tanda-tanda baru terkait keberadaan korban.
Ini mematahkan segala spekulasi dan menjadi petunjuk arah baru mengenai keberadaan kapal serta para penyintas lainnya,
Ketum PFI Pusat Dwi Pambudo