Merahputih.com - Aroma busuk menusuk indra penciuman setiap kali roda kendaraan melintasi aspal panas Jalan Rawa Bebek, Pulogebang. Di sana, pemandangan tumpukan sampah plastik hingga limbah rumah tangga terlihat menggunung, meluber melewati pagar pembatas sampai memakan bahu jalan.
Fenomena sampah Pulogebang ini memaksa para pengendara motor melakukan gerakan refleks; satu tangan memegang setir, tangan lainnya mendekap hidung rapat-rapat demi menghalau bau menyengat. Keresahan warga kian memuncak seiring kekhawatiran munculnya sarang penyakit di tengah pemukiman.
"Sampah kayak gini kan bikin kita khawatir, karena kotor, bau, bisa menimbulkan penyakit, kayak DBD, diare, atau virus-virus gitu," tutur seorang warga sekitar, Jayadi (38), Kamis (9/4).
Baca juga:
Pasar Jaya Turunkan 112 Truk untuk Atasi Gunungan Sampah di Pasar Induk Kramat Jati
Krisis Sampah Akibat Pembatasan Bantargebang
Kondisi memprihatinkan tersebut kabarnya sudah berlangsung lama. Situasi semakin parah sejak adanya kebijakan pembatasan pembuangan ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang di Bekasi.
Alhasil, Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS 3R) Rawa Bebek tidak lagi sanggup menampung volume kiriman limbah harian.
Ketiadaan truk pengangkut membuat sampah terus menumpuk tanpa kepastian evakuasi. Hal ini berdampak langsung pada kenyamanan pengguna jalan. Sunaryo (49), salah satu pengendara motor, mengaku tidak nyaman meski sudah mengenakan masker saat melintas.
"Kalau lewat situ, saya harus tutup hidung lagi, nembus masker baunya, namanya banyak begini," ucap Sunaryo kesal.
Ia berharap petugas segera mengangkut sampah tersebut sebelum gunungan limbah menutup akses jalan sepenuhnya.
Respons Pemerintah dan Optimalisasi Bank Sampah
Menanggapi keluhan masyarakat, Pemerintah Kota Jakarta Timur terus mendorong gerakan pemilahan sampah mulai dari hulu. Wali Kota Jakarta Timur, Munjirin, menegaskan pentingnya peran masyarakat dalam mengurangi beban di hilir.
"Pemerintah mendorong masyarakat untuk mulai mengurangi volume sampah serta melakukan pemilahan sejak dari sumbernya, yakni rumah tangga, untuk mengatur pembuangan di TPST Bantargebang," kata Munjirin di Kantor Walikota Jakarta Timur.
Baca juga:
Pemkot saat ini mengandalkan kolaborasi dengan Pusat Daur Ulang Plastik (PDUP) Ciracas untuk mengelola sampah anorganik.
Selain itu, Satuan Tugas (Satgas) Bank Sampah tingkat kelurahan mengemban tugas mengoordinasikan pengiriman sampah melalui sistem daring sesuai Surat Edaran Wali Kota Nomor e-0005/SE/2026. Meski demikian, warga Pulogebang tetap mendesak adanya aksi nyata serta solusi jangka panjang agar jalanan mereka bersih dari aroma tak sedap.