Masker N95 Paling Efektif Tangkal COVID-19? Ini Kata Pakar
Masker N95 dianggap paling efektif menangkal virus COVID-19. (foto: quartz.com)
SEKARANG ini, urusan memilih masker jadi hal krusial. Kebiasaan memakai masker memang sudah sepatutnya diterapkan. Hal itu mengingat kita hidup berdampingan dengan COVID-19. Para ahli medis telah menetapkan konsensus tentang COVID-19. Jelas sekali, masker berguna secara medis. Masker mencegah beberapa tetesan yang dihasilkan tubuh, seperti bersin atau ludah, agar tidak menyebarkan virus. Dalam tetesan itu, mungkin juga ada virus corona.
Dengan menutup wajah mengenakan masker, kita memiliki kesempatan untuk mengendalikan penyebaran virus. Demikian dipaparkan pihak berwenang termasuk CDC (Center for Disease Control). Sejumlah penelitian terus mendukung gagasan bahwa masker merupakan alat yang baik dan berguna saat ini.
BACA JUGA:
Masker menjadi aksesori wajib di lingkungan sosial. Sebuah studi baru menunjukkan beberapa masker memang lebih baik daripada yang lain. Jadi, masker mana yang merupakan masker terbaik?
Ketika pandemi virus korona dimulai pada Maret, para pakar kesehatan menyarankan masyarakat yang bukan pekerja berisiko tinggi terinfeksi untuk tidak memakai masker. Namun, pada April, CDC merevisi pernyataan mereka dan merekomendasikan masker untuk situasi saat jarak sosial tidak memungkinkan. Masker dianggap efektif dalam menahan tetesan pernapasan. Keberadaannya membantu membatasi penyebaran virus tanpa gejala.
"Peringatan awal bahwa masyarakat umum tidak boleh memakai masker dimaksudkan untuk mencegah orang-orang memborong masker medis. Di saat yang sama, pekerja penting dan staf rumah sakit menghadapi kekurangan yang mengerikan," ujar Dr Anthony Fauci, spesialis penyakit menular terkemuka di Amerika, seperti dilansir The Cut.
Beberapa masker lebih efektif daripada yang lain. Sejak awal kemunculan virus corona, respirator N95 tanpa katup telah menjadi komoditas utama. Setelah melewati uji klinis, model masker itu disebut memiliki ketahanan cairan, filtrasi partikel, dan filtrasi bakteri terbaik.
Akibatnya, masyarakat berbondong-bondong memborong masker tersebut setelah mengetahui filtrasi partikel yang efisien. Sebanyak 95% partikel yang mengambang di udara bisa disaring masker tersebut. Sesuai dengan namanya.
Banyaknya masyarakat yang membeli masker respirator N95 menyebabkan kelangkaan. Hasilnya, petugas medis yang lebih membutuhkan masker tersebut justru kesulitan mendapatkan stok. Pemerintah pun mulai menganjurkan penggunaan masker kain.
Beberapa penelitian awal menunjukkan bahan tertentu lebih efektif daripada yang lain dalam membatasi aliran partikel. Sebuah penelitian yang diterbitkan pada April menunjukkan masker berbahan katun setara dengan masker bedah. Tak hanya itu, bandana pun ditawarkan sebagai hal yang bisa diterapkan. Dalam keadaan darurat, apa pun yang bisa menutupi hidung dan mulut bisa digunakan.
Akan tetapi, ada banyak bukti klinis menunjukkan kain menghalangi partikel agar tidak menyebar ke udara. Bukti anekdot untuk menunjukkan bahwa topeng efektif juga tersaji. Dengan begitu, kita semua harus memakainya, terutama dalam lingkungan tertutup dengan ventilasi buruk.
Di luar masker, pelindung wajah berbahan plastik (face shield) justru tidak dianggap sebagai pengganti. Namun, pelengkap masker. Para ahli di Duke University menyarankan pelindung wajah harus dipakai di atas masker untuk lapisan perlindungan tambahan. Hal itu mungkin membuat kamu merasa lebih nyaman dalam situasi berisiko tinggi.(avia)
BACA JUGA:
Melihat Potret Kehidupan Selama Pandemi COVID-19 di Museum Jepang
Bagikan
Berita Terkait
Program Keluarga SIGAP Dorong Perubahan Perilaku Lewat Layanan Kesehatan Primer
Usai Banjir Bandang, Warga Aceh Tamiang Banyak Alami Gangguan Kesehatan
AS Kurangi Jumlah Vaksin Wajib untuk Anak-Anak, Timbulkan Kekhawatiran Peningkatan Risiko Penyakit
Gubernur Pramono Tegaskan belum Ditemukan Super Flu di Jakarta
DPR Minta Pemerintah Gerak Cepat Antisipasi Ancaman Super Flu, Dorong Kemenkes Terbitkan Vaksin Pencegah
Waspada Super Flu, 62 Kasus Terkonfirmasi di Indonesia Terbanyak di Jawa Timur
Super Flu Masuk ke Indonesia, Kemenkes Imbau Kenali Gejala dan Terapkan Protokol Kesehatan
Teknologi Bedah Robotik Memungkinkan Tindakan Presisi untuk Kenyamanan Pasien, kini Hadir di Siloam Hospitals Kebon Jeruk
SDM Dokter belum Terpenuhi, Kemenkes Tunda Serahkan RS Kardiologi Emirate ke Pemkot Solo
Program Pemutihan BPJS Kesehatan Berlangsung di 2025, ini Cara Ikut dan Tahapannya