Masih Perlu 2 Bulan Lagi, Gubernur BI Berikan Janji Rupiah Menguat di Juli Nanti

Alwan Ridha RamdaniAlwan Ridha Ramdani - Senin, 18 Mei 2026
Masih Perlu 2 Bulan Lagi, Gubernur BI Berikan Janji Rupiah Menguat di Juli Nanti

Rupiah Melemah Tajam ke Rp17.529 per Dolar AS, Level Terendah Sepanjang Masa

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Nilai tukar (kurs) rupiah pada penutupan perdagangan hari ini atau Senin (18/5/2026) melemah menjadi Rp 17.668 per dolar AS dari sebelumnya Rp 17.597 per dolar AS.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp17.666 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.496 per dolar AS.

Bank Indonesia (BI) meyakini nilai tukar rupiah akan menguat mulai Juli 2026 seiring dengan meredanya tren permintaan valuta asing (valas) musiman yang meningkat pada periode April hingga Juni 2026.

Kebutuhan dolar Amerika Serikat (AS) meningkat secara musiman pada April-Juni akibat pembayaran utang luar negeri, repatriasi dividen, serta kebutuhan ibadah haji.

Baca juga:

Jelang Lebaran, Warga Antusias Tukar Uang Rupiah di Layanan Serambi Bank Indonesia di GBK

"Sekali lagi, kami tegaskan bahwa kami meyakini bahwa rupiah ke depan akan menguat. Sekarang ini dalam tekanan, undervalue, karena faktor global dan faktor seasonal demand pada April, Mei, Juni, dan insya Allah nanti Juli akan menguat," kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta, Senin (18/5).

Perry meyakini bahwa rerata nilai tukar rupiah sepanjang 2026 berada dalam kisaran asumsi makro APBN, yakni Rp 16.200 hingga Rp 16.800 per dolar AS, dengan titik tengah sekitar Rp 16.500 per dolar AS.

Sementara itu, rerata nilai tukar rupiah secara tahun berjalan (year to date/ytd) berada pada kisaran Rp 16.900 per dolar AS.

Meski demikian, bank sentral optimistis penguatan rupiah pada Juli dan Agustus akan menurunkan rerata tahunan kembali ke rentang target APBN.

Selain faktor domestik karena tingginya permintaan valas, Perry menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah saat ini dipengaruhi kondisi global yang memburuk sejak pecahnya perang di Timur Tengah pada Februari yang lalu.

Meningkatnya risiko geopolitik global tecermin dari kenaikan credit default swap (CDS), lonjakan harga minyak dunia, serta tingginya inflasi di AS yang membuat peluang penurunan suku bunga The Fed semakin kecil.

Kondisi tersebut turut mendorong kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury, baik tenor jangka pendek maupun panjang, sehingga memicu penguatan dolar AS dan arus keluar modal dari negara berkembang, termasuk Indonesia.

Dari sisi arus modal, Perry mengungkapkan bahwa pasar saham mencatat arus keluar (outflow) Rp26,06 triliun pada Januari-Maret 2026, sedangkan pasar Surat Berharga Negara (SBN) mengalami outflow Rp25,1 triliun pada periode yang sama.

Sementara itu, instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sempat mencatat inflow pada Januari dan Februari sebelum berbalik mengalami outflow pada Maret seiring meningkatnya tensi geopolitik global.

Untuk menjaga daya tarik aliran modal masuk, jelas Perry, BI meningkatkan suku bunga SRBI sehingga instrumen tersebut kembali mencatat inflow sebesar Rp 48,26 triliun pada April dan Rp 27,05 triliun pada Mei.

Dengan demikian, total inflow SRBI sepanjang April hingga 8 Mei 2026 mencapai Rp 75,31 triliun, sedangkan secara kumulatif sepanjang tahun berjalan (ytd) mencapai Rp 105,16 triliun.

#Bank Indonesia #Gubernur BI #Rupiah #Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dollar AS
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Alwan Ridha Ramdani

Alwan Ridha Ramdanu adalah Jurnalis kelahiran di Bandung, Jawa Barat. Sudah 20 tahun menjadi jurnalis dengan mayoritas fokus pada liputan atau menulis terkait ekonomi makro. Selain jurnalis, Alwan juga adalah pendamping petani sawit swadaya dan juga berpengalaman dalam communication dan community terkait isu keberlanjutan dan lingkungan hidup.
Show More

Berita Terkait

Indonesia
Bakom Tegaskan tak Ada Niat Menempatkan BI di Bawah Pemerintah
Independensi tidak boleh mengorbankan koordinasi antarlembaga.
Dwi Astarini - Jumat, 21 Agustus 2026
Bakom Tegaskan tak Ada Niat Menempatkan BI di Bawah Pemerintah
Indonesia
Alasan Kurs Rupiah Jalan di Tempat Pagi Ini Versi Ekonom
Geliat rupiah sepanjang hari ini bakal sangat dipengaruhi oleh rilis Neraca Pembayaran Indonesia
Angga Yudha Pratama - Jumat, 21 Agustus 2026
Alasan Kurs Rupiah Jalan di Tempat Pagi Ini Versi Ekonom
Indonesia
Rupiah Tahan Napas di Rp17.748 per Dolar AS, IHSG Malah Asyik Unjuk Gigi Pagi Ini
Di lantai bursa uang, nilai tukar rupiah terpantau adem ayem tanpa pergeseran angka signifikan
Angga Yudha Pratama - Jumat, 21 Agustus 2026
Rupiah Tahan Napas di Rp17.748 per Dolar AS, IHSG Malah Asyik Unjuk Gigi Pagi Ini
Indonesia
Ekonom Minta Pemerintah tak Intervensi BI, Indonesia Kembali ke Masa Purba
BI merupakan bank sentral yang wewenangnya bebas dari campur tangan pemerintah atau pihak lain.
Dwi Astarini - Jumat, 21 Agustus 2026
Ekonom Minta Pemerintah tak Intervensi BI, Indonesia Kembali ke Masa Purba
Indonesia
Bakom Bantah Wacana Jadikan Bank Indonesia Bagian Dari Pemerintah
Pernyataan tersebut disampaikan Tenaga Ahli Utama Bakom RI Fithra Faisal Hastiadi di tengah sorotan terhadap independensi bank sentral.
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 20 Agustus 2026
Bakom Bantah Wacana Jadikan Bank Indonesia Bagian Dari Pemerintah
Indonesia
Rupiah Ngamuk Pagi Ini Berbarengan dengan Meroketnya IHSG, Dolar AS Kehilangan Taji
Rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak seirama menuju tren positif
Angga Yudha Pratama - Kamis, 20 Agustus 2026
Rupiah Ngamuk Pagi Ini Berbarengan dengan Meroketnya IHSG, Dolar AS Kehilangan Taji
Indonesia
Ingat! Uang Digital Tidak Gantikan Uang Kartal
Digitalisasi dan penggunaan rupiah secara fisik akan terus dikembangkan secara bersamaan guna memberikan pilihan kepada masyarakat dalam melakukan transaksi.
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 19 Agustus 2026
Ingat! Uang Digital Tidak Gantikan Uang Kartal
Indonesia
3 Perbedaan Kartu Kredit Indonesia dengan Kartu Kredit Konvensional
Apa perbedaan Kartu Kredit Indonesia dengan kartu kredit konvensional? Berikut beberapa poin pentingnya.
Yusuf Abdillah - Selasa, 18 Agustus 2026
3 Perbedaan Kartu Kredit Indonesia dengan Kartu Kredit Konvensional
Indonesia
Posisi Utang Luar Negeri Indonesia Naik Lagi, Tembus Rp 8,09 Kuadriliun di Triwulan II-2026
BI melaporkan ULN Indonesia triwulan II-2026 naik 4,4% yoy menjadi USD 453,4 miliar dengan rasio ULN terhadap PDB 30,6%.
Wisnu Cipto - Selasa, 18 Agustus 2026
Posisi Utang Luar Negeri Indonesia Naik Lagi, Tembus Rp 8,09 Kuadriliun di Triwulan II-2026
Indonesia
Angin Segar 'in this Economy', BI Gratiskan Biaya QRIS Merchant Mulai 1 Oktober
Bank Indonesia resmi gratiskan biaya QRIS 0 persen untuk transaksi hingga Rp100 ribu di semua merchant mulai 1 Oktober 2026.
Wisnu Cipto - Selasa, 18 Agustus 2026
Angin Segar 'in this Economy', BI Gratiskan Biaya QRIS Merchant Mulai 1 Oktober
Bagikan