Ekonom Minta Pemerintah tak Intervensi BI, Indonesia Kembali ke Masa Purba

Dwi AstariniDwi Astarini - Jumat, 21 Agustus 2026
Ekonom Minta Pemerintah tak Intervensi BI, Indonesia Kembali ke Masa Purba

Ekonom Minta Pemerintah tak Intervensi BI.(foto: Merahputih.com/Asropih)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MERAHPUTIH.COM - DIREKTUR Ekonomi Digital Celios Nailul Huda menyoroti independensi Bank Indonesia (BI) di pemerintahan Prabowo Subianto. Ia menilai saat ini pemerintah mulai mengintervensi BI. Menurutnya, BI merupakan bank sentral yang wewenangnya bebas dari campur tangan pemerintah atau pihak lain, kecuali untuk hal-hal yang diatur secara tegas oleh undang-undang. Hal itu disampaikan Huda saat menghadiri diskusi kebijakan ekonomi dan politik Economic Frontline edisi mingguan perdana bertajuk Masa Depan Bank Sentral di Era Dunia yang Terfragmentasi di Javarock, Kemang, Jakarta Selatan, Kamis (20/8).

Parahnya lagi, kata Huda, DPR juga sudah berani ikut campur dalam wewenang moneter.

"Bank Indonesia tidak boleh dientervensi siapa pun dan apa pun. Lucunya lagi, sekarang bukan hanya pemerintah, melainkan juga DPR. Beberapa kali DPR ini menjadi muka depan berbicara terkait dengan moneter terkait dengan fiskal kita," ucapnya.

Oleh sebab itu, ia berharap Gubernur BI berikutnya yang dipastikan dijabat Destry Damayanti bisa menjaga maruah Bank Indonesia perihal independensi tanpa campur tangan pemerintah atau pihak luar.

"Saya berharap sebenarnya pemilihan nanti Bu Destry bisa menjadi juga penjaga gawang yang memang independen dari tekanan pemerintah," urainya.

Baca juga:

Surpres Prabowo Mendarat di DPR, Destry Damayanti Siap Pegang Kendali Bank Indonesia



Huda khawatir Bank Indonesia bisa menjalankan tugasnya menjaga ekonomi Indonesia tetap aman kalau pemerintah terus melakukan intervensi.

"Saya kira saya khawatirkan bahwa bank sentral kita sudah tidak punya lagi kekuatan untuk menjaga ekonomi kita agar seimbang," ujar.

Ia juga tak ingin Bank Indonesia kembali lagi seperti di zaman Orde Lama di bawah pemerintah dan tidak lagi independen. Kehilangan independensi bank sentral dinilainya sebagai langkah mundur menyerupai era Orde Lama saat kebijakan moneter rentan disetir kepentingan pemerintah

"Kita berharap nanti misalkan independensi dihilangkan dibawa kembali di pemerintah ataupun di bawah Kementerian Keuangan yang itu justru mundurkan lagi ekonomi kita menjadi ekonomi yang masa purba," tuturnya.

"Kita sudah modern harus bebas dan sebagainya kita tidak boleh lagi ke zaman Orde Lama dengan bank sentral kita disetir pemerintah," sambungnya.(Asp)

Baca juga:

Bakom Bantah Wacana Jadikan Bank Indonesia Bagian Dari Pemerintah


#Ekonomi #Bank Indonesia #Destry Damayanti
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Indonesia
Nilai Tukar Rupiah Tertekan Inflasi Global dan Risiko Fiska
Tekanan nilai tukar juga didorong oleh kebutuhan valas importir menjelang akhir triwulan III, serta arus keluar dana dari portofolio aset negara emerging markets di tengah kenaikan imbal hasil (yield) obligasi.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 29 September 2026
Nilai Tukar Rupiah Tertekan Inflasi Global dan Risiko Fiska
Indonesia
67 Juta Orang Indonesia Sudah Pakai QRIS Buat Transaksi
BI menargetkan jumlah pengguna QRIS mencapai 69,32 juta pada akhir tahun ini atau tumbuh sebesar 20,26 persen secara tahunan.
Alwan Ridha Ramdani - Jumat, 25 September 2026
67 Juta Orang Indonesia Sudah Pakai QRIS Buat Transaksi
Indonesia
Utang BLBI Lunas, para Obligor Tetap Dikejar
Tugas penagihan kewajiban itu akan dialihkan kepada Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan, melalui Panitia Urusan Piutang Negara (PUPN).
Dwi Astarini - Selasa, 22 September 2026
Utang BLBI Lunas, para Obligor Tetap Dikejar
Indonesia
Utang BLBI 30 Dekade ke BI Lunas, Kemenkeu Ambil Alih Tugas Satgas Tagih Aset Obligor
Pemerintah resmi melunasi utang BLBI Rp218,3 T ke BI setelah 30 tahun. Hak tagih dan penyitaan aset obligor nakal diambil alih Kemenkeu!
Wisnu Cipto - Selasa, 22 September 2026
Utang BLBI 30 Dekade ke BI Lunas, Kemenkeu Ambil Alih Tugas Satgas Tagih Aset Obligor
Indonesia
Presiden Prabowo Bicara Ambisi Ekonomi RI, Target Masuk 4 Besar Dunia pada 2050
Prospek tersebut berkaitan dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang dinilainya tetap kuat.
Dwi Astarini - Kamis, 17 September 2026
Presiden Prabowo Bicara Ambisi Ekonomi RI, Target Masuk 4 Besar Dunia pada 2050
Indonesia
Utang Luar Negeri Kembali Naik, Per Juli 2026 Capai USD 454,8 Miliar
Perkembangan ULN pemerintah tersebut terutama dipengaruhi oleh aliran masuk pada Surat Berharga Negara (SBN) internasional
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 15 September 2026
Utang Luar Negeri Kembali Naik, Per Juli 2026 Capai USD 454,8 Miliar
Indonesia
[HOAKS atau FAKTA]: Indonesia Resmi Keluar dari Keanggotaan World Bank
Beredar konten yang menyebut Indonesia keluar dari keanggotaan World Bank. Cek kebenaran informasinya.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 07 September 2026
[HOAKS atau FAKTA]: Indonesia Resmi Keluar dari Keanggotaan World Bank
Indonesia
Indonesia Menuju Kapitalisme Negara atau Welfare State? ini Pandangan Para Ekonom
Indonesia diperkirakan menuju kapitalisme negara atau welfare state. Ekonom mengungkapkan risikonya.
Soffi Amira - Jumat, 04 September 2026
Indonesia Menuju Kapitalisme Negara atau Welfare State? ini Pandangan Para Ekonom
Berita Foto
Rapat Paripurna DPR Tetapkan Destry Damayanti sebagai Gubernur BI
Ketua DPR Puan Maharani bersama Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (1/9/2026).
Didik Setiawan - Selasa, 01 September 2026
Rapat Paripurna DPR Tetapkan Destry Damayanti sebagai Gubernur BI
Indonesia
Profil Deputi Gubernur Senior BI Aida S Budiman, Eks Wadir Eksekutif IMF Jadi Orang Nomor Dua Bank Sentral
Dengan rekam jejak internasional di IMF dan pengalaman panjang di BI, Aida S Budiman diharapkan mampu menjaga stabilitas moneter Indonesia
Wisnu Cipto - Selasa, 01 September 2026
Profil Deputi Gubernur Senior BI Aida S Budiman, Eks Wadir Eksekutif IMF Jadi Orang Nomor Dua Bank Sentral
Bagikan