MerahPutih Nasional- R.E Elson dalam sebuah bukunya berjudul ‘Suharto Sebuah Biografi Politik’ menjelaskan, bahwa Presiden Soeharto lahir pada 8 Juni 1921 di dusun Kemusuk, wilayah desa Argomulyo Godean, sekitar lima belas kilometer barat Yogyakarta. Soeharto adalah seorang anak desa yang lahir dari keluarga miskin.
Soeharto adalah putra ketiga dari istri pertama (Sukirah) dari ayah Kartosudiro. Kartosudiro sendiri adalah pejabat yang bertugas mengatur saluran irigasi di desa Kemusuk. Soeharto menghabiskan masa kecilnya di desa.
Versi lain mengatakan bahwa Soeharto adalah anak dari Padmodipuro, seorang aristokrat keturunan bangsawan Hamengkubowono II (Sultan Yogyakarta). Pada tahun 1974 sebuah majalah ternama POP menurunkan sebuah laporan yang berisi bahwa Soeharto adalah anak dari Padmodipuro. Sang ayah terpaksa membuang Soeharto bersama dengan ibu lantaran Padmodipuro harus menikahi anak kepala distrik berpengaruh di sekitar Yogyakarta.
Atas berita tersebut Soeharto geram dan membantah keras tudingan majalah sensasional itu. Soeharto sendiri langsung memberikan keterangan pers di Bina Graha dan dihadiri ratusan awak media kala itu. Dalam keterangan pers tersebut Soeharto membantah keras tuduhan yang dibuat dalam majalah POP tersebut.
Kehidupan Nomaden
Seperti dilansir dari website, www.soeharto.co masa kecil Soeharto dihabiskan dengan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Pada usia 8 tahun, Soeharto dititipkan sang ayah kepada adik perempuan satu-satunya yang berdomisili di kawasan Wuryantoro, Wonogiri, Jawa Tengah. Hanya saja bibinya bersuamikan mantri tani,
Bapak Prawirowihardjo dan disinilah ia memperoleh pendidikan lebih baik daripada yang diperolehnya di Kemusuk. Belum satu tahun tinggal di Wonogiri, Soeharto kecil dijemput untuk pulang ke Kemusuk karena dirindukan oleh
Ibunya. Setahun kemudian ia baru dijemput keluarga Prawirowihardjo untuk menetap lagi dan melanjutkan sekolah di Wuryantoro Wonogiri.
Setelah menamatkan sekolah rendah lima tahun, ia dimasukkan sekolah lanjutan rendah (schakel school) di Wonogiri. Ia terpaksa pindah rumah ke Selogiri, 6 kilometer dari Wonogiri dan tinggal di rumah Citratani, kakak perempuan yang menikah dengan pegawai pertanian. Saat usia menginjak 14 tahun , ia baru di khitan (sunat), dan dirayakan dengan selamatan (tasyakuran) secara sederhana. Dan pada tahun 1939, Soeharto berhasil menamatkan sekolah di Schakel Muhammadiyah, Yogyakarta.
Masuk Pendidikan Militer
Pada tahun 1938 pemerintah kolonial Belanda melakukan rekruitmen besar-besaran bagi pasukan kolonial. Jumlah tentara yang diperlukan saat itu sebanyak 35.000 serdadu. Soeharto sendiri memutuskan diri masuk dan mendaftarkan diri di KNIL (Koninlijk Nederlands-Indisch Leger) atau Tentara Kerajaan Hindia Belanda.
Ia diterima masuk Kortverband di Gombong. Soeharto mulai berdinas pada 1 Juni 1940. Ia lulus terbaik dan ditugaskan praktek menjadi wakil Komandan Regu di Batalyon XIII Rampal Malang. Ia juga praktek jaga malam di pantai pertahanan di Gresik selama dua minggu, tapi malang nasibnya ia diserang Malaria. Penyakitnya itu kambuh lagi ketika di Malang dan memaksanya dirawat di rumah sakit. Setelah keluar rumah sakit ia ikut ujian masuk Sekolah Kader di Gombong untuk mendapatkan pangkat sersan.
Setelah selesai mengikuti pendidikan dan mendapatkan pangkat sersan, ia dikirm ke Bandung, dijadikan cadangan pada Markas Besar Angkatan Darat dan ditempatkan di Cisarua.Garis takdir menentukan lain, setelah dua minggu penempatan, Balanda menyerah pada Jepang. Tepatnya pada tanggal 8 Maret 1942, Jepang mulai menguasai Hindia Belanda. Dalam suasana penuh ketidakpastian atas kemungkinan penangkapan oleh Jepang, dengan berbekal uang satu gulden, ia main kartu cemeh dan kertu londo.
Uangnya bertambah menjadi 50 gulden dan ia gunakan bekal pulang kampung bersama seorang temannya, Amat Sudono, naik kereta dari Cimahi menuju Yogyakarta. Dari Yogya ia kembali ke Wuryantoro dan harus berbaring selama enam bulan oleh serangan Malaria.
Setelah Belanda kalah oleh Jepang, atas rekomendasi kepala polisi Jepang, Soeharto memutuskan diri bergabung dengan tentara sukarela PETA (Pembela Tanah Air) pada Desember 1943.
Ia diterima dan dilatih sebagai Shodancho, komandan peleton. Disini ia memperoleh tempaan keras khas Jepang dengan titik berat pada penguasaan taktik kesatuan kecil, peleton atau seksi. Selesai pelatihan ia ditempatkan di Batalyon di Wates Yogyakarta, pos pertahanan di Glagah di pantai selatan Yogyakarta, Solo dan Madiun.
Nasib baik memayungi Soeharto muda ini karena segera terpilih menjadi untuk mengikuti pelatihan Chudancho (komandan kompi), untuk mempelajari taktik dan strategi perang. Pada Agustus 1944, Soeharto selesai mengikuti pendidikan komandan kompi di Bogor, Jawa Barat.
Selesai latihan ia di tempatkan di Seibu, markas besar Peta di Solo, di Kusumoyudan. Setelah itu ia di tugaskan Jaga Monyet (nama asrama Tentara) Jakarta, untuk melatih siswa STM menjadi tentara zeni. Kemudian dipindah lagi Markas Besar PETA yang sudah pindah ke Madiun.
Ia berhasil lolos dari pembersihan akibat pemberontakan PETA di Blitar dan masih dipertahankan Jepang untuk kemudian ditempatkan di kaki Gunung Wilis di desa Brebeg selatan Madiun melatih prajurit PETA. Kini pemuda yang masa lalu sokolahnya berpindah-pindah dan kesulitan mencari pekerjaan itu telah mengenal dua tradisi kemiliteran (Belanda dan Jepang) yang sangat berpengaruh dalam menopang karirnya kelak dikemudian hari. (MP/BHD/berbagai sumber)