MerahPutih.com - Mahathir Mohamad yang kini berusia 92 tahun mencetak sejarah sebagai pemimpin dunia tertua yang terpilih dalam pemilihan umum. Pria yang pernah memimpin Malaysia sejak 1981-2003 itu kembali memenangkan pemilu Perdana Menteri Malaysia mengalahkan petahana Najib Razak.
Mahathir rencananya akan dilantik Kamis (10/5) ini. Aliansi Mahathir, yang mengandalkan suara perkotaan dan dukungan dari minoritas etnis China dan masyarakat India secara mengejutkan berhasil menumbangkan pemerintahan Barisan Nasional (BN) yang berkuasa di Malaysia sejak kemerdekaan dari Inggris pada 1957.
"Kami tidak membalas dendam. Yang kami inginkan adalah memulihkan hukum," kata Mahathir tentang pemerintahan Najib, yang diliputi skandal, terkait kemenangannya, dilansir Antara.
Perdana Menteri baru Malaysia itu berjanji untuk membalikkan pajak barang dan jasa yang diperkenalkan Najib selama 100 hari pertamanya berkuasa dan meninjau investasi asing. Mahathir pernah menjadi mentor Najib, tetapi mereka bentrok setelah perbedaan mengenai skandal korupsi Malaysia Development Berhad (1MDB).
Ketenaran Najib jatuh karena peningkatan biaya hidup dan berada di tengah skandal korupsi miliaran dolar di 1MDB. Duit miliaran dolar Malaysia diduga tersedot ke luar negeri akibat skandal itu. Skandal ini sedang diselidiki setidaknya enam negara, meskipun Jaksa Agung Malaysia membersihkan Najib dari kesalahan apa pun.
Namun, Mahathir berjanji untuk menyelidiki skandal itu dan membawa kembali uang korupsi ke Malaysia. Ditanya pada Kamis jika Najib akan dituntut, Mahathir mengatakan, "Jika ada yang melanggar hukum, dan itu termasuk seorang wartawan, mereka akan dibawa ke hadapan pengadilan."
Najib Mengaku Kalah
Sebaliknya, Ketua Barisan Nasional (BN) Datuk Seri Najib Razak menyatakan menerima keputusan rakyat Malaysia dalam Pemilihan Umum Ke-14 atau Pilihan Raya Umum (PRU) Ke-14 yang memenangkan Mahathir.
"Kita baru saja menyelesaikan PRU yang ke-14. Suatu pilihan raya yang begitu sengit, tetapi ini merupakan manifestasi prinsip demokrasi yang kita anuti. Banyak perkara-perkara yang digunakan sebagai senjata waktu PRU termasuk fitnah dan hasutan yang dilemparkan di antaranya konon BN akan melakukan penipuan untuk memenangi PRU," kata dia dalam jumpa pers di Gedung PWTC Kuala Lumpur, Kamis (10/5).
Menurut Najib, kemenangan pesaingnya itu juga sekaligus membantah tudingan Barisan Nasional berupaya memanipulasi hasil pemilu agar dirinya dapat tetap kembali berkuasa. sebaliknya, dia berkilah kubu Mahathir telah menghasut rakyat tentang adanya pertemuan antara BN dengan Majelis Keselamatan Negara. "Ini merupakan suatu pembohongan."
Najib mengakhiri pernyataan dengan meminta maaf kepada rakyat Malaysia atas kekurangan masa pemerintahannya. Dia juga sekaligus menegaskan posisinya sebagai oposisi untuk menagih realiasasi janji-janji kampanye Mahathir setelah nanti berkuasa.
"Kita telah melakukan yang terbaik dan pencapaian kita bisa dibanggakan. Saya menyadari ada yang tidak sempurna dalam menjalankan negara, tetapi keutamaan saya adalah senantiasa untuk keselamatan dan kemakmuran rakyat Malaysia. Saya menerima keputusan yang dibuat oleh rakyat. Partai BN komitmen menghormati prinsip-prinsip demokrasi berparlemen," tandas pria yang menduduki jabatan PM Malaysia sejak 2009 itu. (*)