MERAHPUTIH.COM - KABUT asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan mulai berdampak hingga ke Malaysia. Sebanyak 108 sekolah di distrik Serian, Sarawak, ditutup sementara setelah kualitas udara memburuk dan masuk kategori tidak sehat.
Penutupan dilakukan untuk melindungi siswa dari paparan kabut asap yang diduga berasal dari kebakaran hutan di Indonesia. Kantor berita nasional Malaysia, Bernama, melaporkan keputusan tersebut mengacu pada rekomendasi komite manajemen bencana negara bagian.
Kebakaran di Wilayah Perbatasan Malaysia dan Indonesia
Dalam laporan Bernama, Kementerian sumber Daya Alam dan Keberlanjutan Hidup (NRES) kabut asap yang melanda kawasannya bukan hanya dari Kalimantan, melainkan juga kebakaran lokal yang ada di kawasan Malaysia.
Kebakaran lokal tepatnya ada di tempat pembuangan sampah di bawah pengawasan Dewan Kota Sibu (SMC), yang melibatkan area seluas sekitar 1,5 hektare.
Baca juga:
Besok Wisata Bromo Dibuka Lagi Usai 13 Hari Kebakaran, Tiket Masuk Sudah Bisa Dipesan Online!
"Kebakaran hutan dan semak di Sri Aman juga dilaporkan melanda area seluas sekitar 100 hektare, dengan operasi pemadaman masih berlangsung di kedua lokasi tersebut," ungkao NRES dalam pernyataan, dikutip Kamis (20/8).
Berdasarkan pemantauan satelit oleh Badan Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional (NOAA) kemarin, total 12 titik panas terdeteksi di Malaysia, yaitu satu di Pahang dan 11 di Sarawak, jika dibandingkan dengan 60 titik panas di Sumatra dan 354 di Kalimantan
Kualitas udara di Serian sempat mencapai angka 198 berdasarkan indeks kualitas udara Malaysia. Angka tersebut masuk kategori tidak sehat. Sejumlah wilayah lain di Sarawak yang berbatasan langsung dengan Indonesia di Pulau Kalimantan juga mencatat kualitas udara tidak sehat.
Kondisi tersebut terjadi ketika titik panas di Kalimantan masih terpantau dalam jumlah tinggi. Berdasarkan laporan Asean Specialised Meteorological Centre (ASMC) pada 15 Agustus, terdapat 132 titik panas di Kalimantan, sedangkan Sumatra mencatat 115 titik panas.
Kabut Asap Pekat Selimuti Banjarbaru
Di Indonesia, kabut asap juga menyelimuti sejumlah wilayah Kalimantan Selatan, termasuk Kota Banjarbaru. Kondisi tersebut terjadi di tengah meningkatnya aktivitas karhutla selama musim kemarau.
Kementerian Kehutanan sebelumnya melaporkan 73 titik panas dengan tingkat kepercayaan medium terdeteksi di Kalimantan Selatan berdasarkan pemantauan satelit NASA-NOAA20 pada 12 Agustus.
Kabut asap di Banjarbaru bahkan membuat jarak pandang warga menurun drastis. Sejumlah pengendara dilaporkan kesulitan melihat kendaraan di depan mereka sehingga sebagian memilih menghidupkan klakson memberi tanda ke pengendara lainnya dan menekan kecepatan demi menghindari risiko kecelakaan.
Kondisi udara juga menjadi perhatian karena konsentrasi partikulat halus PM2.5 di Banjarbaru dilaporkan mencapai 389,4 mikrogram per meter kubik pada Rabu (19/8) pukul 07.00 WITA. Angka tersebut berada pada level yang sangat mengkhawatirkan bagi kesehatan.
Masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan akibat kabut asap mengeluhkan mata perih, batuk, hingga sesak napas.(Tka)
Baca juga:
BMKG Sudah Gelar 290 Sorti Penerbangan Modifikasi Cuaca di Kawasan Rawan Karhutla