Mahasiswa UGM Temukan Alat Pendeteksi Vaksin Palsu
Mahasiswa menunjukkan aplikasi pendeteksi keaslian vaksin bernama "Aplisin" di Universitas Gadjah Mada (UGM), sleman, Yogyakarta, Jumat (11/8). (ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko)
MerahPutih.Com - Lima mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta mengembangkan aplikasi pendeteksi keaslian vaksin yang ditujukan untuk menangkal peredaran vaksin palsu.
Kelima mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) yang mengembangkan Aplikasi Pengecekan Keaslian Vaksin (Aplisin) tersebut adalah Novrizal Dwi Rozaq, Anggito Kautsar, Musthafa Abdur Rosyied, Aditya Laksana Suwandi, dan Almantera Tiantana.
"Dengan aplikasi ini masyarakat bisa mengecek secara mandiri apakah vaksin asli atau palsu," kata Novrizal di Kampus UGM, Yogyakarta, Jumat (11/8).
Menurut Novrizal, pengembangan aplikasi itu terinspirasi dari kasus peredaran vaksin palsu beberapa waktu lalu yang sempat meresahkan masyarakat. Masyarakat tentu kesulitan mengecek keaslian vaksin secara mandiri karena secara umum masih awam soal vaksin.
"Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pun belum bisa menjangkau pengawasan secara menyeluruh jika ada vaksin palsu," terang Novrizal Dwi Rozaq.
Berangkat dari keprihatinan itu, menurut dia, ia dan rekan-rekannya lalu mencoba membuat aplikasi yang mampu memindai kode QR (Quick Response) pada kemasan untuk memastikan keaslian vaksin. Menurut dia, kode QR yang ada pada kemasan atau botol vaksin tidak bisa dipalsukan.
"Jika kode QR terdaftar maka vaksin itu asli, jika tidak ditemukan artinya vaksin tersebut palsu," kata dia.
Namun demikian, anggota tim, Anggito menyayangkan hingga saat ini belum semua botol vaksin terdapat kode QR melainkan hanya nomor registrasi BPOM. Agar bisa mendukung pengecekan keaslian vaksin, ia berharap perusahaan vaksin mencantumkan kode QR di setiap kemasan atau botol vaksin.
Oleh sebab itu, ia mengakui, aplikasi yang dikembangkan lewat program kreatifitas mahasiswa (PKM) UGM 2017 tersebut masih belum sempurna dan masih akan terus dikembangkan.
"Sementara ini kita hanya uji coba permulaan gunakan vaksin malaria dan demam berdarah," kata Anggito.
Mereka berencana menggandeng BPOM untuk menyosialisasikan kegunaan aplikasi tersebut serta menggandeng beberapa industri pembuat vaksin.(*)
Sumber: ANTARA
Bagikan
Berita Terkait
BPOM Apresiasi SPPG Polri, Makanan Anak Diuji Layaknya Hidangan VIP
BPOM Tinjau SPPG Polri, Standar Keamanan Pangan Dinilai Unggul
Diduga Mengandung Toksin, BPOM Minta Nestle Tarik Susu Formula Bayi S-26 Promil Gold
BPOM Larang Nestlé Distribusikan Susu Formula Bayi S-26 Promil Gold
[HOAKS atau FAKTA] : Jokowi Pilih Langsung Rektor UGM untuk Beking Dirinya dari Tudingan Ijazah Palsu
Iklan Digital Kosmetik Vulgar Jadi Incaran BPOM, Termasuk di Marketplace
Kaum Pria Hati-Hati! Ini 13 Kosmetik dengan Klaim Menyesat Terkait Alat Vital
BPOM Pamerkan Hasil Sitaan Obat Ilegal hingga Viagra Senilai Rp2,74 Miliar di Jakarta
Guru Besar UGM Usul Sistem Baru Agar Perceraian Tak Jadi Ajang Buka Aib Suami-Istri dan Saling Menyalahkan di Pengadilan
IHW Desak BPOM dan BPJPH Audit Aqua Terait Dugaan Penggunaan Air Sumur