MerahPutih.com - Aksi jaringan teroris di tanah air rupanya makin menjadi-jadi. Selain melakukan ancaman di dalam negeri, mereka juga mengirimkan pemuda Indonesia untuk melakukan aksi kejahatan di luar negeri.
Kadiv Humas Polri Irjen Argo Yuwono mengatakan bahwa gembong teroris Para Wijayanto telah memberangkatkan tujuh angkatan kader muda Jamaah Islamiyah ke Suriah sejak 2013 hingga 2018.
Para Wijayanto yang memiliki nama lain Abang alias Aji Pangestu alias Abu Askari alias Ahmad Arief alias Ahmad Fauzi Utomo diketahui menjadi amir (pimpinan tertinggi) terlama yang memimpin organisasi teroris Jamaah Islamiyah (JI) sejak tahun 2008 hingga 2019.
Baca Juga:
Jamaah Islamiyah Rogoh Kocek Rp300 Juta untuk Berangkatkan Anggota ke Suriah
Semasa kepemimpinan Para Wijayanto, JI ingin mempunyai kontribusi dan bergabung dengan organisasi teroris yang berada di Timur Tengah.
"Untuk itu seluruh anggota JI yang diberangkatkan ke Timur Tengah memiliki bekal keahlian bela diri," tutur Argo kepada wartawan yang dikutip di Jakarta, Selasa (5/1).
Kemudian Para menunjuk Karso alias Joko Priyono sebagai pelatih bela diri dan militer di Sasana Bela Diri Ungaran, Jawa Tengah, dengan harapan keahlian dari pelatihan anggota JI ini mampu sejajar dengan atlet hingga pasukan khusus.
Argo menyebut bahwa seleksi perekrutan kader muda JI tersebut dilakukan dengan ketat dan yang masuk sasana diprioritaskan lulusan terbaik dari pondok pesantren. Ini karena mereka sudah memiliki kemampuan bahasa Arab.
Selain itu, mereka juga tidak mudah emosional, fisik yang baik, dan sehat jasmani.
Kader muda JI yang dikirim ke Suriah berjumlah 10 hingga 12 orang per angkatan sehingga dari 2013 hingga 2018, jumlah keseluruhan yang berangkat ada sekitar 96 orang.
Para kader muda ini memiliki berbagai kemampuan, seperti bela diri, kemampuan teknologi informasi, kemampuan medis, bahasa dan manajemen untuk mengurusi logistik, pergeseran anggota, transportasi dan mengurus penginapan.
"Sehingga sudah sangat tertata," kata Argo.
Kemudian setiap kader muda JI yang diberangkatkan ke Suriah sudah dibekali surat wasiat dan dipegang oleh amir.
Ketika nanti yang ia mati di Suriah, maka akan ditunjukkan kepada keluarganya.
"Ada dari pihak pengurus JI akan memberikan santunan kepada keluarganya," katanya.
Dana operasional yang dikeluarkan JI untuk memberangkatkan tiap angkatan kader muda JI ke Suriah sebesar Rp300 juta.
Dana ini dihimpun dari para anggota JI di seluruh Indonesia yang berjumlah 6.000 anggota aktif. Ribuan anggota ini menyumbang minimal Rp100 ribu per bulan untuk JI.
Menurut Argo, sejumlah anggota JI muda yang berasal dari Indonesia dikabarkan juga menjadi pelatih di Suriah.
Baca Juga:
Pesawat Tempur Israel Serang Militer Suriah dan Pasukan Al Quds Iran
Mereka diketahui melatih kader-kader organisasi teroris dari negara lain.
"Dia juga melatih negara-negara lain yang berlatih di sana, seperti ada fraksi jihad ISIS, Jabhah Nushrah, Free Syria Army, akhor masyarakat asli syuriah, dan tahlir ahsam," ujar Argo.
Di sisi lain, anggota JI Indonesia yang berada di Suriah juga diketahui terjun langsung untuk berperang di perbatasan. Beberapa di antaranya tewas di medan perang tersebut.
Selama di Suriah, anggota JI ikut berperang dan menjaga di perbatasan dan juga belajar pelatihan militer seperti belajar membuat bom, belajar kendaraan tank, dan belajar menggunakan senjata berat.
Argo memastikan, Densus bakal memburu jaringan teroris ini yang tersisa. (Knu)
Baca Juga:
Masih Ada WNI Terprovokasi Gerakan ISIS dan Libatkan Diri dalam Konflik Irak dan Suriah