MERAHPUTIH.COM - MASIH maraknya kasus keracunan dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) membuat pihak Badan Gizi Nasional (BGN) ambil langkah tegas. Ada sebanyak 137 kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dicopot Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono. Ia menegaskan tidak ada toleransi terhadap insiden yang membahayakan keselamatan penerima manfaat, terutama anak-anak, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
Menurutnya, keamanan pangan menjadi prioritas utama dalam pelaksanaan MBG. Oleh karena itu, setiap pelanggaran yang berpotensi mengancam kesehatan masyarakat akan ditindak tanpa kompromi.
Ia berharap kasus keracunan yang terjadi belakangan menjadi yang pertama sekaligus terakhir selama dirinya memimpin BGN.
"Kejadian keracunan tidak boleh terjadi lagi. Zero tolerance terhadap kasus keracunan. Ini menyangkut nyawa, menyangkut kondisi kesehatan dan keamanan anak-anak kita, ibu hamil, menyusui dan balita-balita kita," ujar Sudaryono, dikutip dari video keterangannya, Selasa (4/8).
Baca juga:
SPPG Al Abidin Solo Dihentikan Sementara usai 108 Siswa Alami Keracunan
Sebagai bentuk penegakan disiplin, BGN telah mencopot 137 kepala dapur MBG di berbagai daerah. Keputusan tersebut diambil setelah evaluasi terhadap berbagai pelanggaran, mulai dari kasus keracunan hingga persoalan tata kelola dan kedisiplinan.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 49 kepala dapur ada Jawa Barat, 26 dari Lampung, 11 dari Jawa Timur, 10 dari Sumatra Utara, 10 dari Banten, serta 5 dari Jawa Tengah. Lima dapur di Jawa Tengah termasuk dapur di Semarang yang sebelumnya menjadi sorotan setelah memicu kasus keracunan di SMK Negeri 6 Semarang.
Sudaryono menjelaskan pencopotan tidak hanya dilakukan terhadap dapur yang terlibat dalam kasus keracunan. BGN juga memberikan sanksi kepada pengelola yang terbukti melakukan pelanggaran administratif maupun penyimpangan dalam pengelolaan keuangan.
"Kami zero tolerance terhadap keracunan, zero tolerance terhadap tindakan korupsi, ngentit uang, dan lain-lain itu kita zero tolerance," tegasnya.
Untuk mencegah kejadian serupa terulang, BGN juga memperkuat sistem pengawasan di seluruh jaringan dapur MBG. Ia menilai keberhasilan program tidak cukup hanya mengandalkan kepercayaan kepada individu, tetapi harus juga didukung mekanisme kontrol yang kuat dan berjalan secara konsisten.
"Kami telah menyiapkan suatu sistem mekanisme trust is good, but control is better. Kita tidak bisa kemudian mempercayakan sepenuhnya kepada seseorang, tapi bagaimana seseorang yang bekerja itu kemudian bisa dikontrol dengan sistem," kata Sudaryono.
Melalui langkah tersebut, BGN berharap pelaksanaan Program MBG dapat berlangsung lebih aman, akuntabel, dan mampu menjaga kepercayaan masyarakat terhadap program pemenuhan gizi nasional.(Asp)
Baca juga:
BGN Suspend SPPG Karangturi usai 707 Siswa dan Guru Diduga Keracunan MBG di Semarang

