MerahPutih.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan optimalisasi penggunaan infrastruktur pengelolaan sumber daya air, seperti waduk, salah satu langkah strategis untuk mengantisipasi dampak musim kemarau.
Puncak musim kemarau di Indonesia diprakirakan terjadi pada Juli, Agustus, dan September 2023, yaitu 83 persen atau 582 zona musim (ZOM).
Baca Juga:
DPR Peringatkan Bahaya Kekeringan yang Picu Ancaman bagi Indonesia
Kementerian Pertanian (Kementan) RI menyampaikan sejumlah langkah yang dilakukan untuk mengantisipasi dampak el nino yang diperkirakan terjadi pada Agustus 2023.
"Pertama inisiatif menjaga air, menyiapkan air termasuk tidak membuang-buang air," kata Menteri Pertanian (Mentan) RI Syahrul Yasin Limpo.
Selain itu, pemerintah daerah termasuk masyarakat didorong membuat sistem irigasi atau pengairan-pengairan baru agar saat musim kemarau tiba ketersediaan air masih mencukupi kebutuhan terutama untuk sektor pertanian.
"Tidak hanya itu, Presiden dan Pak Menko Perekonomian juga menggulirkan namanya taksi alsintan untuk mempercepat itu semua," kata eks Gubernur Sulawesi Selatan tersebut.
Ia menegaskan, Kepala Negara juga berpesan kepada masyarakat khususnya petani agar menanam varietas Inpago 13 Fortiz atau padi gogo. Padi tersebut diketahui mampu beradaptasi (tumbuh) bahkan saat musim kering. Diharapkan semua provinsi di Indonesia mulai menanami padi jenis tersebut.
"Jadi meskipun el nino, kita sudah siap menghadapi atau mengantisipasinya apabila sudah menerapkan langkah-langkah tersebut," ujarnya. (*)
Baca Juga:
Solusi Inovatif Hadapi Kekeringan Air