Kemenkes Sepakati Kerja Sama Layanan Kesehatan dengan Siemens Healthineers
Siemens kucurkan investasi Rp 1 triliun untuk sektor kesehatan Indonesia.(foto: Merahputih.com/Andrew Francois)
PELUANG pengembangan layanan kesehatan di Indonesia masih terbuka lebar. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) senantiasa melebarkan sayap kolaborasi dengan berbagai pihak untuk menjalin kerja sama yang dapat meningkatkan standar layanan kesehatan di Tanah Air.
Dalam usaha terbaru, Kemenkes menandatangani nota kesepahaman dengan Siemens Healthineers dalam upaya meningkatkan inovasi layanan kesehatan di empat rumah sakit nasional, yakni RS Kanker Dharmais, RSUP Dr. Hasan Sadikin, RS Pusat Jantung Nasional Harapan Kita, dan RS Pusat Otak Nasional (PON).
BACA JUGA:
"Diharapkan, ini bukan sekadar MoU, melainkan aksi yang cepat bisa dilaksanakan. Kami ingin agar bisa direplikasi lagi ke rumah sakit lainnya. Kami harapkan ini bisa kita lakukan dengan cepat, sehingga apa yang kami upayakan bisa segera dirasakan masyarakat yang lebih luas," terang Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Kemenkes Dr Azhar Jaya.
Presiden Direktur Siemens Indonesia Alfred Fahringer mengatakan Siemens sebagai perusahaan teknologi kenamaan Jerman berambisi mengembangkan praktik medis di Indonesia, sekaligus meningkatkan standar layanan kesehatan di Tanah Air.
"Secara khusus kami mau memperkenalkan prosedur theranostic untuk pengobatan kanker, kami juga mau membawa layanan one stop stroke untuk meningkatkan standar pelayanan di RS PON, dan kami sangat antusias terhadap imbas positif dari kolaborasi ini," terang Fahringer.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin juga mengatakan keputusan Siemens untuk berinvestasi pada sektor kesehatan di Indonesia sangat tepat. Ia menuturkan Indonesia masih memiliki banyak ruang pengembangan pada sektor pelayanan kesehatan.
BACA JUGA:
"Rencana kami sekarang adalah untuk mencari investornya, lalu kami akan bangun infrastruktur dan membeli alat-alatnya, kemudian kami akan latih dan siapkan SDM kami para dokter agar bisa mengoperasikan alat-alatnya," jelas Budi.
"Anda juga bisa mengembangkan AI di sini. Anda mungkin akan kesulitan mengembangkan AI di Australia karena tidak ada banyak pasien atau masalah penyakit, hal yang sama juga terjadi di Singapura dan Jepang, tapi di Indonesia Anda bisa memiliki banyak sampel," tambahnya.
Budi menuturkan rumah sakit dari Jepang turut mendonasikan 10 miliar yen atau setara Rp 1 triliun untuk peningkatan layanan medis di Indonesia. Donasi itu disebut Budi akan digunakan untuk pembelian berbagai perangkat medis di rumah sakit Tanah Air.(waf)
BACA JUGA:
Kemenkes Ingatkan Pentingnya Vaksin Booster Pertama Jelang Mudik Lebaran
Bagikan
Andrew Francois
Berita Terkait
Program Keluarga SIGAP Dorong Perubahan Perilaku Lewat Layanan Kesehatan Primer
Usai Banjir Bandang, Warga Aceh Tamiang Banyak Alami Gangguan Kesehatan
AS Kurangi Jumlah Vaksin Wajib untuk Anak-Anak, Timbulkan Kekhawatiran Peningkatan Risiko Penyakit
Gubernur Pramono Tegaskan belum Ditemukan Super Flu di Jakarta
DPR Minta Pemerintah Gerak Cepat Antisipasi Ancaman Super Flu, Dorong Kemenkes Terbitkan Vaksin Pencegah
Waspada Super Flu, 62 Kasus Terkonfirmasi di Indonesia Terbanyak di Jawa Timur
Super Flu Masuk ke Indonesia, Kemenkes Imbau Kenali Gejala dan Terapkan Protokol Kesehatan
Teknologi Bedah Robotik Memungkinkan Tindakan Presisi untuk Kenyamanan Pasien, kini Hadir di Siloam Hospitals Kebon Jeruk
SDM Dokter belum Terpenuhi, Kemenkes Tunda Serahkan RS Kardiologi Emirate ke Pemkot Solo
Program Pemutihan BPJS Kesehatan Berlangsung di 2025, ini Cara Ikut dan Tahapannya