MERAHPUTIH.COM - DEPUTI Bidang Pemantauan dan Pengawasan Badan Gizi Nasional (BGN) Ketut Sumedana mengungkap penyebab ratusan santri di Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur (Jatim), keracunan setelah menyantap menu makan bergizi gratis (MBG). Ketut mengatakan ada kelalaian pada prosedur operasional standar (SOP) pendistribusian MBG.
"Jadi seharusnya itu loading empat jam selesai dari masak langsung dibagikan. Namun, faktanya di lapangan lebih daripada empat jam," kata Ketut kepada wartawan, Kamis (3/9).
Dia menyebut MBG tidak pakai pengawet sehingga mudah basi. "Mudah bakterinya cepat berkembang," lanjutnya.
Ketut mengatakan BGN sudah membuat aturan pengawasan yang dilakukan sehari dua kali. Aturan itu menyebut pengawasan harus dilakukan pada pukul 17.00 WIB pada saat bahan masakan masuk dan pukul 02.00 WIB pada saat proses masak.
Meski sudah dibuat aturan tersebut, Ketut mengatakan banyak petugas dan kepala satuan pemenuhan pelayanan gizi (SPPG) yang tidak mematuhi. Selain itu ada juga sekolah yang tidak tepat waktu dalam membagikan MBG.
Baca juga:
316 Santri Dirawat di RSUD Notopuro, Total 762 Korban Diduga Keracunan MBG di Sidoarjo
Ada juga sekolah-sekolah yang tidak tepat waktu dalam membagikan MBG melebihi batas waktu yang ditetapkan.
Ketut Sumedana, Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan Badan Gizi Nasional (BGN)
Ratusan santri di Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo, diduga keracunan setelah menyantap menu MBG. BGN menyebut jumlah santri yang keracunan mencapai 512 orang.(knu)
Baca juga:
Keracunan MBG di Papua & Semarang, Menkes Akui Temuan Bakteri di Menu