MerahPutih.Com - Bencana kekeringan yang melanda Nusa Tenggara Timur bukan hanya membuat warga kesulitan mencari air bersih tapi juga membawa serta paceklik pangan.
Warga Sumba Tengah contohnya, selain harus menempuh perjalanan sekitar empat kilometer mencapai sumber air, mereka pun kekurangan bahan pangan. Persediaan makan menipis membuat warga masuk hutan mencari umbi-umbian untuk dikonsumsi.
Apesnya, diantara jenis umbi-umbian yang tumbuh di musim kering atau kemarau justru umbi beracun. Dalam kondisi kekurangan makanan warga terpaksa memakan umbi beracun.
Reporter dan dan kontributor merahputih.com untuk NTT sempat menemui warga yang masuk hutan mencari umbi-umbian.
Dua orang suami istri paru baya Luku Waluwanja (62) ditemani isterinya Kamis Kanjanga Reha (61) dengan menggontong peralatan alakadarnya seperti kayu yang diruncing tajam, pisau dan sebuah karung menuju hutan untuk mencari ubi hutan.
Dikatakannya bahwa walau umbi beracun, namun mereka tetap mencari dan memakannya guna menahan lapar atau sekedar mengganjal perut.
"Saya dan istri mau ke hutan cari "ui" (ubi hutan,red). Soalnya jagung dan padi sudah habis di rumah. Hasil panen kami baru-baru tidak banyak, karena curah hujannya rendah," ungkap Luku Waluwanja diiyakan istrinya.
Untuk jadi makanan atau bisa dimakan, umbi hutan ini harus diproses melalui tahapan yang panjang, pasalnya umbi ini diketahui mengandung racun berbahaya. Umbi tersebut setelah digaling, dikupas dan diiris. Kemudian di jemur dua sampai tiga hari setelah itu dibawa ke kali untuk direndam selama kurang lebih tiga hari, usai itu dijemur lagi baru bisa dikonsumsi.
"Saat dikupas itu tangan harus dialas dengan karet atau plastik, kalau tidak gatal dan bisa menimbulkan luka. Dan lukanya itu lama baru sembuh akibat dari racun ubi tersebut, jadi harus hati-hati," pungkasnya.
Berita ini ditulis berdasarkan laporan Naldy, reporter dan kontributor merahputih.com untuk wilayah Nusa Tenggara Timur dan sekitarnya.
Ikuti berita bencana kekeringan di NTT dalam artikel: Darurat Kekeringan, Warga NTT: Sumber Air Makin Jauh