MerahPutih.com - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) akan menjalankan empat strategi utama sebagai antisipasi terhadap periode kekeringan yang berdasarkan tren berlangsung cukup panjang di sejumlah wilayah Indonesia.
Pertama: BNPB akan mengoptimalkan cadangan air melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) serta pengisian embung, danau, waduk, dan penampungan air lainnya. Upaya tersebut akan dilakukan bersama unsur pemerintah lainnya.
Baca juga:
Jakarta Hadapi Kekeringan, DPRD Minta Dinkes Sediakan Air Minum Gratis
Kedua: BNPB akan memperkuat kapasitas daerah dalam menghadapi kekeringan dengan mendukung penyediaan sarana dan prasarana air, terutama pembangunan sumur dalam.
Dan BNPB sudah melakukan beberapa pembangunan sumur dalam, ada yang kita lakukan di beberapa kabupaten dan provinsi,
kata Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan, Selasa (15/9).
Ketiga: BNPB akan mendorong mitigasi jangka panjang melalui penghijauan di kawasan hulu sungai pada musim hujan untuk memulihkan resapan air tanah secara alami.
Keempat: BNPB akan memastikan pemerataan distribusi air bersih dan sanitasi agar pasokan air di kabupaten/kota terdampak tetap berjalan lancar.
Baca juga:
2026 Banyak Bencana, BNPB Minta Tambahan Dana Siap Pakai Rp 5,67 Triliun
Imbauan BNPB
Meski BNPB berkomitmen menjalankan berbagai upaya mitigasi, Berton tetap mengimbau masyarakat untuk menjaga sumber air dan tidak mengeksploitasi sumber daya air secara berlebihan.
Ia juga meminta masyarakat memprioritaskan penggunaan air untuk kebutuhan esensial, seperti memasak dan sanitasi, mematikan keran saat tidak digunakan, serta mendaur ulang air selama tidak mengandung bahan kimia berbahaya.
Kita perlu dengan bijak menggunakan sumber mata air,
tutur dia.
Baca juga:
Berdasarkan pantauan BNPB, saat ini terdapat 10 kabupaten dengan tingkat kejadian kekeringan tertinggi di Indonesia, yakni Bima, Bogor, Parigi Moutong, Subang, Bekasi, Bandung Barat, Pangandaran, Demak, Semarang, dan Pekalongan.
Selain itu, berdasarkan peta peringatan dini Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Dasarian II September 2026, wilayah dengan klasifikasi Awas tersebar di sebagian besar Pulau Jawa, Sumatra bagian selatan, sebagian Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah, serta sebagian Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan. (Asp)