MerahPutih.com - Gempuran fenomena iklim El Nino berkategori sangat kuat secara brutal terus mencengkeram wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) hingga memicu ancaman kiamat ekologis yang membahayakan keberlangsungan hidup berbagai satwa endemik lokal.
Anomali suhu permukaan laut yang melonjak tajam telah menyedot ketersediaan air tanah serta memicu kemarau panjang ekstrem yang siap mengantar spesies langka menuju jurang kepunahan lokal dalam waktu dekat.
Kondisi darurat ini kian memprihatinkan lantaran Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi awal musim hujan di wilayah NTB resmi mengalami kemunduran parah hingga Desember 2026 mendatang.
Baca juga:
BMKG Buka-bukaan soal El Nino Sangat Kuat, Musim Hujan Baru Datang Oktober
Satwa Endemik Asli NTB Mulai Kehabisan Air dan Makanan
Kepada media dikutip Kamis (17/9), Guru Besar Ekologi Hewan Universitas Mataram (Unram), I Wayan Suana, menegaskan populasi satwa endemik yang sudah sangat terbatas kini berada dalam kondisi amat ringkih akibat mendapat tekanan lingkungan yang bertubi-tubi.
Guguran daun dan mengeringnya vegetasi hutan membuat kelompok hewan langka pemakan buah, biji-bijian, amfibi, hingga satwa bertubuh kecil menjadi korban paling merana akibat kehilangan pasokan pakan serta sumber air minum alami.
Untuk NTB, perhatian khusus juga perlu diberikan kepada spesies endemik dan terancam punah karena populasinya sudah relatif kecil, sehingga tambahan tekanan akibat kekeringan dapat meningkatkan risiko kepunahan lokal,
Guru Besar Ekologi Hewan Universitas Mataram I Wayan Suana
Baca juga:
Kronologi Tragis Orangutan Sempurna Mati Akibat Kabut Asap, Sempat Kritis di Kebun Sawit
Suhu Terik dan Ancaman Kebakaran Hutan
Tak hanya krisis logistik makanan, tingginya tumpukan ranting serta dedaunan kering di area perbukitan memicu risiko bahaya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang sanggup meratakan ruang hidup satwa dalam hitungan jam.
BMKG mencatat indeks El Nino saat ini telah menembus angka sangat kuat mencapai +2,74 derajat Celcius yang secara otomatis mengunci cuaca panas terik di tanah Nusa Tenggara hingga akhir tahun.
Wayan Suana menekankan sinergi kolektif antara pemerintah daerah, akademisi, dan masyarakat untuk memberikan ruang adaptasi bagi fauna Nusantara agar tidak sampai punah di tanah kelahirannya sendiri.
"Pencegahan kebakaran hutan dan lahan menjadi sangat penting karena pada musim kemarau panjang, vegetasi kering meningkatkan risiko kebakaran yang dapat menyebabkan kehilangan habitat dalam waktu sangat singkat," tandas Guru Besar Ekologi Hewan Universitas Mataram itu. (*)