Merahputih.com - Presiden Joko Widodo mengumpulkan para pimpinan partai politik koalisi pemerintahan di Istana Negara Jakarta, Rabu (25/8).
Ada tujuh pimpinan partai politik yang ikut dalam pertemuan tersebut yaitu Ketum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, Ketum Partai Golkar Airlangga Hartarto, Ketum Partai Gerindra Prabowo Subianto, Ketum Partai NasDem Surya Paloh, Ketum Partai Kebangkitan Bangsa Muhaimin Iskandar, Ketum PPP Suharso Manoarfa dan Ketum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan.
Baca Juga
Dalam kesempatan tersebut, Jokowi mengakui perkembangan kasus harian COVID-19 sulit diduga.
"Tapi alhamdulilah pada hari ini 24 Agustus kemarin (jumlah positif) 19 ribu dari 56 ribu. Inilah kira saya kira proses belajar juga yang kita lakukan," kata Jokowi dalam video yang diunggah akun Youtube Sekretariat Presiden, Sabtu (28/8).
Jokowi juga menghubungi sejumlah negara untuk melakukan modifikasi metode penanganan COVID-19 versi Indonesia. Mengenai keterisian tempat tidur di rumah sakit atau Bed Occupacy Rate (BOR) di Mei, Indonesia pernah mencapai 29 persen kemudian melompat di Juli sampai hampir 80 persen.
"Pada hari ini kita sudah turunkan lagi menjadi 30 persen, alhamdulillah. Ini juga patut kita syukuri. Semua bekerja, TNI, polri, kementerian, BUMN, pemerintah daerah semuanya," tandas Jokowi.
Sedangkan untuk angka kesembuhan, rata-rata kesembuhan Indonesia sudah berada sudah di atas rata-rata dunia, yaitu 89,97 persen dibanding rata-rata dunia yaitu 89,5 persen.
"Yang masih belum kita bisa selesaikan, ini saya selalu saya smapaikan ke Menkes dan pemda agar angka kasus kematian ini harus betul-betul ditekan terus," beber Jokowi.
Sedangkan untuk peringkat vaksinasi, menurut Presiden, peringkat Indonesia tidak buruk dari total sekitar 220 negara.
"Peringkat kita tidak jelek-jelek amat sih. Kalau dihitung dari jumlah orang yang divaksin, sampai hari ini kita sudah nomor 4. India nomor 1, nomor 2 Amerika Serikat, nomor 3 Brazil, kita nomor 4, Indonesia. Kemudian kalau berdasarkan total suntikan, yang sudah disuntikkan 91,9 juta dosis. Kita kalah dengan Jerman, Jepang, Brazil, Amerika, China," ungkap Jokowi.
Baca Juga
PAN Gabung Koalisi, Gerindra Harap Pasokan Tenaga Pemerintah Bertambah
Selanjutnya terkait dengan kondisi ekonomi, Presiden kembali memaparkan strategi gas dan rem.
"Karena memang kalau kasusnya turun, ekonomi pasti naik, kalau kasusnya naik, ekonominya pasti turun, sudah rumusnya itu. Kita mencari ekuilibrium, mencari keseimbangan, itulah sebetulnya yang paling sulit disesuaikan dengan lapangan di Indonesia yang juga tidak mudah karena berpulau-pulau dan untuk distribusi vaksin saja, distribusi obat-obatan saja memerlukan waktu yang tidak sedikit," jelas Presiden. (Pon)