Jihad Versi Zakir Naik

Noer ArdiansjahNoer Ardiansjah - Selasa, 04 April 2017
Jihad Versi Zakir Naik

Cendikiawan muslim, Dr Zakir Naik. (Antara Foto/Andreas Fitri Atmoko)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

Ulama dan cendekiawan Muslim, Zakir Naik menegaskan bahwa istilah jihad yang sering digunakan oleh kaum ekstrimis adalah keliru.

Menurutnya, jihad adalah usaha dan perjuangan yang meliputi berbagai bidang dan kegiatan yang dilakukan manusia. Seperti berjihad untuk mendapatkan ilmu pengetahuan, berjihad untuk menjalankan ibadah secara benar, dan berjihad untuk menjadi orang yang baik.

“Jihad itu adalah usaha dan berjuang secara sungguh-sungguh untuk melakukan perbuatan yang baik,” kata pendakwah kondang asal India, Zakir Naik, saat memberikan kuliah umum dengan tema "Religion as an Agent of Mercy and Peace" di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Bantul, Yogyakarta, Senin (3/4).

Istilah jihad yang diartikan sebagai berjuang dengan peperangan yang disebut dengan istilah perang suci pun, menurut Zakir justru digunakan pertama kali oleh umat Nasrani. Yaitu saat umat Nasrani melakukan Perang Salib.

Begitu pun dengan istilah fundamentalis, Zakir melanjutkan, yang acapkali disamakan dengan gerakan radikal atau ekstremis. Menurut Zakir yang mengutip pernyataan sejumlah ilmuwan, fundamentalis berarti memahami dengan baik prinsip-prinsip keilmuan pada suatu bidang tertentu.

“Tidak ada yang salah dari istilah fundamentalis dan ekstremis. Menjadi salah kalau Anda menjadi fundamentalis yang salah arah,” kata Zakir.

Dalam ceramah selama satu jam lebih sebelum dilanjutkan dengan tanya jawab dengan peserta, Zakir juga kembali menyinggung soal ajaran Islam yang dituding tidak toleran. Zakir pun membenarkan Islam memang intoleran.

“Betul, Islam intoleran. Tapi intoleran terhadap kemiskinan, ketidakadilan, rasisme. Karena Islam sebenarnya agama yang menyebarkan perdamaian,” papar Zakir.

“Dan itu berlaku tidak hanya bagi umat muslim, tetapi juga nonmuslim,” kata Zakir yang tampil dengan pakaian khas berupa setelan jas warna abu-abu tua dan peci putih.

Selain itu, pada kesempatan tersebut Zakir Naik juga mengkritisi media massa dan media sosial yang turut berperan menyebarkan istilah-istilah bahasa yang kemudian diartikan secara tidak tepat, seperti istilah jihad.

Kuliah umum yang sedianya dimulai pukul 07.00 ternyata baru bisa dimulai pukul 09.00 lantaran peserta yang datang untuk menjalani pengecekan barcode dan identitasnya baru selesai dilakukan di atas jam 08.00. Zakir memulai kuliah umumnya pada pukul 09.00 dan mengakhirinya dengan tanya jawab pada pukul 12.45.

Baca berita terkait Zakir Naik lainnya di : Otoritas India Kaitkan Zakir Naik Dengan Kegiatan Terorisme

# Dr Zakir Naik #Jihad #Teroris
Bagikan
Ditulis Oleh

Noer Ardiansjah

Tukang sulap.

Berita Terkait

Indonesia
Densus 88 Antiteror Polri Tangkap 8 Orang Diduga Sebaran Propaganda Terorisme di Medsos
Densus 88 Antiteror Polri masih terus melakukan pengembangan dan pendalaman terhadap kedelapan tersangka tersebut
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 06 Mei 2026
Densus 88 Antiteror Polri Tangkap 8 Orang Diduga Sebaran Propaganda Terorisme di Medsos
ShowBiz
Pelaku Penyerangan di Konser Taylor Swift Austria Disidang, Hadapi Dakwaan Terorisme
Dituduh menyatakan kesetiaan kepada Islamic State, membuat bahan peledak, dan mencoba membeli senjata secara ilegal.
Dwi Astarini - Rabu, 29 April 2026
 Pelaku Penyerangan di Konser Taylor Swift Austria Disidang, Hadapi Dakwaan Terorisme
Dunia
Garda Revolusi Iran Ditetapkan Sebagai Organisasi Teroris, Uni Eropa Beberkan Dampaknya
Nama-nama yang masuk dalam daftar tersebut mencakup komandan senior IRGC serta perwira tinggi kepolisian yang diduga bertanggung jawab atas tindakan kekerasan di lapangan
Angga Yudha Pratama - Jumat, 30 Januari 2026
Garda Revolusi Iran Ditetapkan Sebagai Organisasi Teroris, Uni Eropa Beberkan Dampaknya
Indonesia
Lamarannya Ditolak, Jadi Motif Mahasiswa Informatikan Bikin Teror ke Sekolah
Pelaku menggunakan akun email milik mantan pacarnya dan mengaku sebagai dirinya. Hal ini dilakukan untuk mengelabui agar identitas aslinya tak terlacak.
Alwan Ridha Ramdani - Sabtu, 27 Desember 2025
Lamarannya Ditolak, Jadi Motif Mahasiswa Informatikan Bikin Teror ke Sekolah
Dunia
Presiden AS Trump Tetapkan Ikhwanul Muslimin Organisasi Teroris Global
AS juga menuding para pemimpin Ikhwanul Muslimin telah lama memberikan dukungan material kepada Hamas.
Wisnu Cipto - Selasa, 25 November 2025
Presiden AS Trump Tetapkan Ikhwanul Muslimin Organisasi Teroris Global
Indonesia
Kecanduan dan Broken Home, Paket Kombo Anak Rawan Direkrut Jaringan Teroris
Densus 88 Anti Teror mengungkapkan fakta mengejutkan ada 110 anak yang diduga direkrut ke dalam jaringan teroris sepanjang 2025 lewat permainan game online.
Wisnu Cipto - Selasa, 25 November 2025
Kecanduan dan Broken Home, Paket Kombo Anak Rawan Direkrut Jaringan Teroris
Indonesia
Polisi Bongkar Sindikat Teroris ‘ISIS’ Perekrut Anak-Anak, Lakukan Propaganda via Gim Online sampai Medsos
Para tersangka itu merekrut anak dan pelajar dengan memanfaatkan ruang digital, mulai dari media sosial, gim online, aplikasi pesan hingga situs tertutup.
Dwi Astarini - Rabu, 19 November 2025
Polisi Bongkar Sindikat Teroris ‘ISIS’ Perekrut Anak-Anak, Lakukan Propaganda via Gim Online sampai Medsos
Indonesia
Menko Yusril Sebut Pengadilan Militer AS Akan Adili Hambali Bulan Depan
Yusril menyebut pemerintah tidak menetapkan target waktu penyelesaian, karena hal ini tidak termasuk prioritas yang harus segera dirampungkan.
Angga Yudha Pratama - Kamis, 09 Oktober 2025
Menko Yusril Sebut Pengadilan Militer AS Akan Adili Hambali Bulan Depan
Indonesia
4 Teroris Ditangkap di Sumut dan Sumbar, Diduga Sebarkan Paham Radikal hingga Dukung ISIS
Mereka diketahui aktif menyebarkan propaganda serta ajakan melakukan aksi teror melalui media sosial, baik dalam bentuk unggahan tulisan, gambar, maupun video yang mengarah pada dukungan terhadap Daulah ISIS.
Dwi Astarini - Rabu, 08 Oktober 2025
4 Teroris Ditangkap di Sumut dan Sumbar, Diduga Sebarkan Paham Radikal hingga Dukung ISIS
Indonesia
785 Korban Terorisme Telah Terima Kompensasi Dari Negara, Tertinggi Rp 250 Juta
Pada tahun 2025, jumlah korban yang masih aktif dalam layanan LPSK tercatat sebanyak 30 terlindung per Agustus,
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 21 Agustus 2025
785 Korban Terorisme Telah Terima Kompensasi Dari Negara, Tertinggi Rp 250 Juta
Bagikan