MerahPutih.com - Ketegangan di Timur Tengah terus meningkat sejak Amerika Serikat (AS) dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari. Iran kemudian melancarkan serangan balasan ke Israel serta negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS.
Serangan ini telah membuat harga minyak dunia mengalami lonjakan tajam, serta gangguan pengiriman yang menbuat berbagai negara menyatakan darurat energi.
Kanselir Jerman Friedrich Merz pada Jumat (27/3) mempertanyakan efektivitas operasi militer Amerika Serikat (AS) dan Israel di Iran.
"Saya tak yakin apa yang dilakukan Israel dan AS saat ini benar-benar akan berhasil," ujarnya dalam sebuah konferensi di Frankfurt.
Baca juga:
Warga AS Sampai Kurangi Makan Imbas Kenaikan Harga Menyusul Perang dengan Iran
Ia mengaku ragu "apakah ada strategi dan apakah strategi itu dijalankan dengan baik."
"Dalam hal ini, situasinya bisa berlangsung lebih lama dan kemungkinan tidak akan membaik," katanya, menambahkan.
Merz mengatakan, AS dan Israel "kian terjerat" dalam perang melawan Iran.
Ia memperingatkan, kedua negara bersekutu itu tidak akan mampu melakukan perubahan pemerintahan di Iran, jika itu menjadi tujuan mereka.
Merz juga mengatakan Presiden AS Donald Trump telah memahami bahwa perang di Iran bukanlah perang NATO sehingga Jerman tidak bisa membantu.
"Namun, kami telah menawarkan untuk mengoordinasikan, misalnya, perlindungan militer di Selat Hormuz bersama pihak lain jika terjadi gencatan senjata," katanya.
Menurut Merz, keterlibatan Jerman memerlukan mandat internasional serta persetujuan dari parlemen (Bundestag) dan keputusan kabinet.
"Kami masih jauh dari itu, dan selama perang terus berlangsung, itu bukan pilihan bagi kami," katanya. (*)