Kesehatan

Intermittent Fasting dan Berkurangnya Massa Otot

Ananda Dimas PrasetyaAnanda Dimas Prasetya - Jumat, 25 Juni 2021
Intermittent Fasting dan Berkurangnya Massa Otot

Intermittent fasting telah menjadi metode populer untuk menurunkan berat badan. (Foto: healthline)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

INTERMITTENT fasting atau puasa berselang untuk menurunkan berat badan terbukti tidak lebih (dan mungkin kurang) efektif daripada diet defisit kalori konvensional. Gagasan tersebut dibuktikan lewat sebuah penelitian di Juni 2021. Tim peneliti besar ahli fisiologi dari University of Bath Inggris, meminta sukarelawan sehat dengan berat badan normal untuk berpartisipasi dalam studi selaman tiga minggu.

Dijelaskan dalam psychologytoday (23/6), kelompok satu disuruh berpuasa pada hari-hari tertentu dan pada hari-hari lainnya, meningkatkan asupan kalori mereka sebesar 150 persen.

Kelompok kedua mengikuti diet kalori secara terus menerus. Pola makan yang diberikan membuat mereka makan hanya 75 persen dari kalori yang mereka butuhkan untuk mempertahankan berat badan.

Sementara kelompok ketiga berpuasa pada hari-hari tertentu, tetapi kemudian makan 200 persen dari asupan kalori yang dibutuhkan pada hari non-puasa.

Baca juga:

Mengenal ‘Intermittent Fasting’, Pola Puasa untuk Diet

Pada kelompok satu dan dua, rata-rata makan 25 persen lebih sedikit kalori daripada yang dibutuhkan tubuh mereka. Tetapi kelompok puasa (tiga) melakukannya dengan tidak makan apa pun pada satu hari, 50 persen lebih banyak dari yang mereka butuhkan ketika saatnya makan.

Kelompok kedua, kelompok kontrol, juga makan 25 persen lebih sedikit kalori daripada yang dibutuhkan tubuh mereka dan melakukannya setiap hari. Kelompok ketiga, juga kelompok kontrol, berpuasa pada satu hari tetapi karena mereka makan dua kali lebih banyak dari yang mereka butuhkan pada hari makan. Konsumsi kalori rata-rata mereka cukup untuk mempertahankan berat badan mereka.

Intermittent Fasting dan Berkurangnya Massa Otot
Diet kalori dan intermittent fasting sama-sama bisa menurunkan berat badan. (Foto: dietdoctor)

Intermittent fasting telah menjadi metode populer untuk menurunkan berat badan, dan menjanjikan keuntungan metabolisme yang diterjemahkan menjadi penurunan berat badan yang lebih efektif daripada hanya makan lebih sedikit setiap hari.

Kelompok uji berhasil menurunkan berat badan, sekitar 1,6 kg dalam tiga minggu. Tetapi kelompok yang tidak berpuasa, tetapi makan lebih sedikit kalori setiap hari juga mengalami penurunan berat badan.

Menariknya, mereka kehilangan 1,9 kg dalam tiga minggu. Perbedaan dalam penurunan berat badan tersebut tidak bukan pada seberapa banyak yang hilang, tapi dari mana. Semua penurunan berat badan pada kelompok yang tidak berpuasa berasal dari simpanan lemak.

Sebaliknya, kelompok uji puasa intermiten kehilangan jumlah berat yang sama dari simpanan lemak, dan juga dari massa tubuh tanpa lemak, yaitu massa otot. Sementara seperti yang diperkirakan, kelompok ketiga tidak kehilangan berat badan.

Baca juga:

Intermittent Fasting, Diet Berpuasa nan Bermanfaat

Mempertahankan Berat Badan

Intermittent Fasting dan Berkurangnya Massa Otot
Dengan penurunan massa otot dari intermittent fasting, mempertahankan berat badan jadi sulit. (Foto: gleneagles)

Jika pelaku diet hanya tertarik melihat jumlah timbangan turun dan pakaian terasa longgar juga nyaman, maka kedua jenis program diet efektif dalam mencapai tujuan ini.

Idealnya, pelaku diet harus juga punya rencana untuk mempertahankan berat badan yang hilang selama mungkin. Namun, dengan adanya penurunan massa otot dari puasa intermiten, usaha untuk mewujudkan itu jadi mengkhawatirkan.

Otot tidak sama dengan lemak. Otot selain menyangga dan menggerakkan tubuh, juga berfungsi sebagai pembakar kalori. Penurunan massa tubuh yang berasal dari otot membuat pelaku diet lebih rentan terhadap kenaikan berat badan setelah pola makan yang ketat selesai.

Penurunan massa otot juga dapat mempersulit olahraga dan dari sudut pandang kosmetik, bahkan mempengaruhi bentuk dan postur tubuh. Selain itu, jika massa otot terus berkurang, hal itu juga dapat meningkatkan keropos tulang. (aru)

Baca juga:

Tiga Metode Mudah Menerapkan Intermittent Fasting

#Diet #Kesehatan #Tips Kesehatan #Info Kesehatan
Bagikan
Ditulis Oleh

Ananda Dimas Prasetya

nowhereman.. cause every second is a lesson for you to learn to be free.

Berita Terkait

Berita Foto
Program Keluarga SIGAP Dorong Perubahan Perilaku Lewat Layanan Kesehatan Primer
Ketua Tim Bidang Penyusunan Rencana Prioritas Pemanfaatan Dana Desa, Sappe M. P. Sirait saat Program Keluarga Sigap di Jakarta, Kamis (15/1/2026).
Didik Setiawan - Kamis, 15 Januari 2026
Program Keluarga SIGAP Dorong Perubahan Perilaku Lewat Layanan Kesehatan Primer
Indonesia
Usai Banjir Bandang, Warga Aceh Tamiang Banyak Alami Gangguan Kesehatan
Ratusan pengungsi pascabanjir bandang di Aceh Tamiang mengalami berbagai penyakit seperti ISPA hingga diare. Tim Dokkes Polri turun beri layanan kesehatan.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 15 Januari 2026
Usai Banjir Bandang, Warga Aceh Tamiang Banyak Alami Gangguan Kesehatan
Indonesia
Menu Makanan Penangkis Flu Musim Hujan Rekomendasi Dietisien RSCM
Tak kalah penting, kandungan zinc yang ditemukan dalam daging merah, susu, dan olahan kedelai berperan besar dalam meningkatkan fungsi sel imun
Angga Yudha Pratama - Rabu, 07 Januari 2026
Menu Makanan Penangkis Flu Musim Hujan Rekomendasi Dietisien RSCM
Dunia
AS Kurangi Jumlah Vaksin Wajib untuk Anak-Anak, Timbulkan Kekhawatiran Peningkatan Risiko Penyakit
Perubahan ini terjadi setelah Presiden Donald Trump meminta Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS (HHS) meninjau bagaimana negara-negara sejawat merekomendasikan vaksin.
Dwi Astarini - Selasa, 06 Januari 2026
  AS Kurangi Jumlah Vaksin Wajib untuk Anak-Anak, Timbulkan Kekhawatiran Peningkatan Risiko Penyakit
Indonesia
Gubernur Pramono Tegaskan belum Ditemukan Super Flu di Jakarta
Pemerintah DKI telah berkoordinasi dengan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin ihwal Super Flu ini.
Dwi Astarini - Selasa, 06 Januari 2026
Gubernur Pramono Tegaskan belum Ditemukan Super Flu di Jakarta
Indonesia
DPR Minta Pemerintah Gerak Cepat Antisipasi Ancaman Super Flu, Dorong Kemenkes Terbitkan Vaksin Pencegah
Dikhawatirkan, penyakit ini berdampak pada beban layanan kesehatan.
Dwi Astarini - Kamis, 01 Januari 2026
DPR Minta Pemerintah Gerak Cepat Antisipasi Ancaman Super Flu, Dorong Kemenkes Terbitkan Vaksin Pencegah
Indonesia
Waspada Super Flu, 62 Kasus Terkonfirmasi di Indonesia Terbanyak di Jawa Timur
Subclade K telah terdeteksi di Indonesia sejak Agustus 2025 melalui sistem surveilans sentinel ILI-SARI di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan.
Dwi Astarini - Kamis, 01 Januari 2026
Waspada Super Flu, 62 Kasus Terkonfirmasi di Indonesia Terbanyak di Jawa Timur
Indonesia
Super Flu Masuk ke Indonesia, Kemenkes Imbau Kenali Gejala dan Terapkan Protokol Kesehatan
Indonesia menjadi salah satu negara yang terpapar jenis virus ini.
Dwi Astarini - Kamis, 01 Januari 2026
Super Flu Masuk ke Indonesia, Kemenkes Imbau Kenali Gejala dan Terapkan Protokol Kesehatan
Lifestyle
Teknologi Bedah Robotik Memungkinkan Tindakan Presisi untuk Kenyamanan Pasien, kini Hadir di Siloam Hospitals Kebon Jeruk
Siloam Hospitals Kebon Jeruk memiliki dan mengoperasikan tiga sistem robotik, yakni Da Vinci Xi (urologi, ginekologi, bedah digestif, dan bedah umum), Biobot MonaLisa (khusus diagnostik kanker prostat presisi tinggi), dan ROSA (ortopedi total knee replacement).
Dwi Astarini - Jumat, 19 Desember 2025
Teknologi Bedah Robotik Memungkinkan Tindakan Presisi untuk Kenyamanan Pasien, kini Hadir di Siloam Hospitals Kebon Jeruk
Indonesia
SDM Dokter belum Terpenuhi, Kemenkes Tunda Serahkan RS Kardiologi Emirate ke Pemkot Solo
Pemkot segera mulai menyiapkan kebutuhan tenaga medis, mulai dari dokter hingga perawat.
Dwi Astarini - Senin, 24 November 2025
SDM Dokter belum Terpenuhi, Kemenkes Tunda Serahkan RS Kardiologi Emirate ke Pemkot Solo
Bagikan