Ini Penyebab Persoalan Pengangguran Usia Muda dan Terdidik Melonjak
Ilustrasu pekerja.
MerahPutih.com - Pengangguran usia muda dan terdidik terus meningkat di tengah memburuknya kualitas lapangan kerja di Indonesia. Meski tingkat pengangguran terbuka relatif rendah, sebagian besar penyerapan tenaga kerja terjadi di sektor informal.
Selain itu, pemutusan hubungan kerja (PHK) juga terus bertambah. Sepanjang 2025, sekitar 80 ribu pekerja tercatat terkena PHK, dengan konsentrasi terbesar di Jawa Barat, Banten dan Jawa Tengah.
Center for Strategic and International Studies (CSIS) menilai persoalan pengangguran usia muda dan terdidik tidak hanya disebabkan oleh regulasi ketenagakerjaan, melainkan akar masalahnya terletak pada ketidaksesuaian antara sistem pendidikan dan kebutuhan dunia industri.
Peneliti Senior Departemen Ekonomi CSIS Deni Friawan memandang upaya menekan pengangguran muda tidak cukup dilakukan melalui kebijakan ketenagakerjaan, melainkan harus dibarengi pembenahan di sektor pendidikan.
Baca juga:
Pemprov DKI Serius Tangani Pengangguran, Fokus pada Difabel dan UMKM
“Membenahinya itu enggak cuma harus sektor itu saja, tapi juga sektor dari sektor pendidikannya. Bagaimana membuka program-program yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja,” kata Deni.
Saat ini terjadi mismatch antara keterampilan yang dibutuhkan industri dengan kompetensi yang diajarkan lembaga pendidikan.
Universitas maupun sekolah kejuruan dinilai lebih berfokus pada peningkatan jumlah peserta didik tanpa mempertimbangkan prospek kerja lulusannya.
Lemahnya keterkaitan antara dunia pendidikan dan industri membuat lulusan tidak siap diserap pasar kerja. Institusi pendidikan, kata dia, cenderung berjalan sendiri tanpa integrasi dengan kebutuhan sektor riil.
Selain faktor pendidikan, Deni juga menyoroti struktur pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dinilai bias pada sektor padat modal (capital intensive).
Pola pertumbuhan tersebut dinilai tidak mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, sementara struktur tenaga kerja nasional didominasi lulusan pendidikan menengah.
“Struktur pertumbuhan ekonomi kita itu bias capital intensive. Yang memang enggak butuh banyak tenaga kerja gitu. Sementara di sisi lain, struktur tenaga kerja kita itu banyak kan SMP, SMA, STM,” ujarnya.
Ia mencatat tingkat pengangguran terbesar masih berasal dari lulusan SMA dan SMK. Namun, pengangguran di kalangan lulusan diploma hingga pascasarjana juga mulai banyak meski jumlahnya relatif lebih kecil.
Meski secara persentase tidak dominan, Deni menilai pengangguran di kalangan terdidik bisa memicu gejolak sosial.
“Ini orang-orang terdidik kalau dia didiamin tambah banyak, itu bisa discontent, bisa demo, bisa bikin pergerakan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Deni juga menyoroti dampak ekonomi dari pengangguran terdidik yang dinilai sebagai pemborosan sumber daya.
Bagikan
Alwan Ridha Ramdani
Berita Terkait
Ini Penyebab Persoalan Pengangguran Usia Muda dan Terdidik Melonjak
Ekonomi Melambat, PHK Bakal Terus Terjadi di 2026
Pemprov DKI Serius Tangani Pengangguran, Fokus pada Difabel dan UMKM
TPT Jakarta Turun Jadi 6,05%, Sektor Transportasi Hingga Perdagangan Jadi Penyerap Tenaga Kerja Tertinggi
Yang Mau Kerja di Luar Negeri, Nih Ada 7.600 Peluang Kerja Ditawarkan Pemerintah
Begini Cara Laporkan PHK dan Gaji Tidak Sesuai ke Kemenaker
Kemenaker Dorong Multistrada Mengedepankan Dialog Bipartit Terkait Rencana Penyesuaian Tenaga Kerja
Angka Pengangguran Tinggi, DPRD DKI Kritik Kurikulum dan Kualitas Guru di Jakarta
PHK di Industri Pertambangan dan Perdagangan Sumbang Tingginya Angka Pengangguran di Indonesia
Jumlah Pengangguran di Indonesia Capai 7,47 Juta Orang, Turun Dibanding Tahun Lalu