Indonesia Ajukan Reog, Kolintang, dan Kebaya Jadi Warisan Budaya Dunia

Wisnu CiptoWisnu Cipto - Selasa, 07 Mei 2024
Indonesia Ajukan Reog, Kolintang, dan Kebaya Jadi Warisan Budaya Dunia

Penampilan Reog Ponorogo dalam Gebyar Budaya Paguyuban Seni Budaya Jawa Banten 2016 (Foto: MP/Widi Hatmoko)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Indonesia mengajukan tiga warisan budaya dunia baru ke Badan PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan (UNESCO).

Tiga warisan budaya itu meliputi Kesenian Reog asal Ponorogo, Jawa Timur, alat musik tradisional Kolintang dari Sulawesi Utara, dan pakaian tradisional kebaya

"Ada tiga warisan budaya yang diusulkan Indonesia dan telah dibahas (UNESCO) di tahun 2024," kata Asisten Deputi Pemajuan dan Pelestarian Budaya Kemenko PMK, Andre Notohamijoyo, di Jakarta, dikutip dari Antara, Selasa (7/5).

Menurut Andre, UNESCO akan bersidang sekitar bulan Agustus atau September 2024 mendatangan. Maka, lanjut dia, saat ini status pengajuan Reog, Kolintang, dan kebaya masih menunggu keputusan dalam sidang. "Saat ini kita masih menunggu keputusan UNESCO," tegasnya.

Baca juga:

UNESCO Akui Iftar Sebagai Warisan Budaya Tak Benda

Untuk diketahui, sudah ada dua warisan budaya dari Indonesia yang telah diakui dan telah mendapatkan sertifikat dari UNESCO, yakni subjek pelestarian kawasan Sumbu Filosofis di Yogyakarta dan budaya sehat jamu.

Sertifikat pertama diberikan atas penetapan Sumbu Filosofis Yogyakarta dan penanda bersejarahnya atau The Cosmological Axis of Yogyakarta and Its Historic Landmarks sebagai Warisan Budaya Dunia pada 24 September 2023 dalam Sidang ke-45 di Riyadh, Arab Saudi.

Untuk sertifikat kedua atas penetapan Budaya Sehat Jamu atau Jamu Wellness Culture sebagai Warisan Budaya Tak benda UNESCO pada 6 Desember 2023 dalam Sidang ke-18 di Kasane, Botswana. (*)

#UNESCO
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Wisnu Cipto

Jurnalis dan penulis profesional selama dua dekade di industri media, mulai dari koran, televisi, hingga konten digital. Lulusan FISIP UI terlatih merangkai kata-kata terkait isu sosial-budaya-politik-hukum secara akurat dan relevan bagi pembaca, dengan kiblat kode etik jurnalistik dan verifikasi-verifikasi-verifikasi ... Pemegang sertifikasi kompetensi dari Lembaga Pers Dr.Soetomo (LPDS), yang coba terus belajar berkarya dengan 'hati'.
Show More
Follow Me

Berita Terkait

ShowBiz
Dari Rhoma Irama hingga Hipdut, Perjalanan Dangdut yang Terus Berevolusi
Menelusuri evolusi dangdut Indonesia dari orkes Melayu dan era Rhoma Irama, kemunculan koplo, hingga hipdut yang berkembang di era digital.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 29 Oktober 2026
Dari Rhoma Irama hingga Hipdut, Perjalanan Dangdut yang Terus Berevolusi
Indonesia
Indonesia Usulkan Tari Zapin ke UNESCO, Gandeng Malaysia, Brunei, dan Singapura
Indonesia mengusulkan Tari Zapin ke UNESCO melalui nominasi bersama Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura. Proses penetapan ditargetkan pada 2027.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 26 Oktober 2026
Indonesia Usulkan Tari Zapin ke UNESCO, Gandeng Malaysia, Brunei, dan Singapura
Indonesia
Indonesia Dorong UNESCO Terapkan Tata Kelola AI Yang Etis dan Transparan
memperkuat kontribusi UNESCO dalam menghadapi tantangan global, Indonesia mengajukan tiga prioritas utama.
Alwan Ridha Ramdani - Minggu, 11 Oktober 2026
Indonesia Dorong UNESCO Terapkan Tata Kelola AI Yang Etis dan Transparan
Indonesia
Indonesia Kembali Masuk Komite UNESCO Setelah 12 Tahun, Siap Bawa AI ke Dunia Budaya
Indonesia resmi terpilih sebagai anggota Komite Warisan Budaya Takbenda UNESCO periode 2026–2030 dengan 113 suara. Fokus pada AI, preservasi digital, dan ketahanan budaya.
Wisnu Cipto - Jumat, 19 Juni 2026
Indonesia Kembali Masuk Komite UNESCO Setelah 12 Tahun, Siap Bawa AI ke Dunia Budaya
Indonesia
Indonesia Terpilih Jadi Anggota Komite Antarpemerintah Warisan Budaya Takbenda UNESCO 2026–2030
Keberhasilan ini merupakan hasil diplomasi intensif oleh Delegasi Indonesia di Paris, Jakarta, dan berbagai perwakilan lain dengan dukungan sejumlah negara sahabat.
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 18 Juni 2026
Indonesia Terpilih Jadi Anggota Komite Antarpemerintah Warisan Budaya Takbenda UNESCO 2026–2030
Tekno
Peringatan UNESCO: AI Perlebar Jarak Si Kaya dan Si Miskin di Indonesia
UNESCO menyoroti risiko terbesar AI di Indonesia bukan kebocoran data, melainkan potensi memperlebar kesenjangan sosial-ekonomi.
Wisnu Cipto - Kamis, 26 Februari 2026
Peringatan UNESCO: AI Perlebar Jarak Si Kaya dan Si Miskin di Indonesia
Indonesia
Dieng Kini Berstatus Geopark Nasional, Pemerintah Didorong Fokus Kejar Pengakuan UNESCO Demi Cuan Global
Pencapaian status UNESCO Global Geopark akan membuka peluang yang jauh lebih besar bagi kawasan Dieng
Angga Yudha Pratama - Rabu, 03 Desember 2025
Dieng Kini Berstatus Geopark Nasional, Pemerintah Didorong Fokus Kejar Pengakuan UNESCO Demi Cuan Global
Travel
Kartu Kuning 2 Tahun Berakhir, Geopark Kaldera Toba Kembali Raih Status Kartu Hijau UNESCO
Status kartu kuning yang diberikan UNESCO kepada Taman Bumi (Geopark) Kaldera Toba di Sumatera Utara sejak 2023 silam akhirnya resmi berakhir.
Wisnu Cipto - Rabu, 10 September 2025
Kartu Kuning 2 Tahun Berakhir, Geopark Kaldera Toba Kembali Raih Status Kartu Hijau UNESCO
Indonesia
Viral! Surat-Surat R.A. Kartini Masuk Daftar Memory of the World, Bukti Perempuan Indonesia Punya Kontribusi Penting untuk Peradaban Dunia
Masuknya surat-surat Kartini ke dalam daftar UNESCO menunjukkan bahwa dunia mengakui warisan intelektual dan sumbangan pemikiran Indonesia bagi peradaban global
Angga Yudha Pratama - Rabu, 20 Agustus 2025
Viral! Surat-Surat R.A. Kartini Masuk Daftar Memory of the World, Bukti Perempuan Indonesia Punya Kontribusi Penting untuk Peradaban Dunia
Indonesia
Rencana Pembangunan 600 Vila di Pulau Padar Komodo, Menhut Tunggu Aprisal UNESCO
Aksi penolakan rencana pembangunan ratusan vila di wilayah Pulau Padar, kawasan Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur (NTT)
Wisnu Cipto - Kamis, 07 Agustus 2025
Rencana Pembangunan 600 Vila di Pulau Padar Komodo, Menhut Tunggu Aprisal UNESCO
Bagikan