MerahPutih.com - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sukoharjo tepat berusia 80 tahun pada Rabu (15/7). Namun, perayaan hari jadi tahun ini terasa berbeda setelah Bupati Sukoharjo Etik Suryani terkena operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Kamis (9/7).
Peristiwa tersebut menjadi kado pahit bagi Pemkab Sukoharjo di momen peringatan hari jadinya.
Meski demikian, puncak perayaan Hari Jadi ke-80 Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, tetap berlangsung dengan sederhana tanpa euforia berlebihan. Seluruh rangkaian acara tetap berjalan khidmat dan diikuti oleh aparatur sipil negara (ASN).
Kirab Pataka Digelar dengan Konsep Sederhana
Salah satu rangkaian utama peringatan hari jadi adalah Kirab Pataka, yakni prosesi membawa petikan Penetapan Pemerintah Nomor 16/SD Tahun 1946 yang menetapkan tanggal 15 Juli 1946 sebagai hari lahir Kabupaten Sukoharjo.
Pada tahun ini, Kirab Pataka mengalami penyederhanaan. Prosesi tidak menggunakan kereta kencana dan kereta kuda seperti sebelumnya.
Iring-iringan kirab digantikan menggunakan mobil dinas milik masing-masing pejabat.
Rute kirab juga berubah. Jika sebelumnya dimulai dari Rumah Dinas Bupati Sukoharjo, kali ini rombongan berangkat dari Kantor Pemkab Sukoharjo menuju Alun-Alun Satya Negara sebagai lokasi pelaksanaan upacara Hari Jadi ke-80 Kabupaten Sukoharjo.
Baca juga:
Bupati Kena OTT KPK, Mendagri Tunjuk Wakil Bupati Sukoharjo Pimpin Pemerintahan
Upacara Gunakan Bahasa Jawa Halus
Dipimpin Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Sukoharjo Eko Sapto Purnomo, upacara Hari Jadi ke-80 Kabupaten Sukoharjo berlangsung dengan suasana khidmat.
Seluruh peserta mengenakan busana adat Jawa. Tidak hanya pakaian, bahasa yang digunakan selama upacara juga menggunakan bahasa Jawa halus.
Usai upacara, kegiatan dilanjutkan dengan flashmob Tari Gambyong Sukoharjo yang dibawakan ribuan pelajar dan elemen masyarakat.
Pada sesi tersebut, unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) yang biasanya ikut menari tidak tampil dalam tarian. Mereka hanya menyaksikan rangkaian acara.
Ribuan Warga Berebut Gunungan dari 12 Kecamatan
Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan tradisi rebutan gunungan yang dikirim dari 12 kecamatan di Sukoharjo.
Masyarakat yang sebelumnya menyaksikan upacara dari pinggir alun-alun langsung berlari ke tengah area ketika prosesi rebutan gunungan dimulai.
Gunungan tersebut berisi berbagai makanan tradisional, sayur mayur, dan buah-buahan.
Dalam hitungan menit, seluruh 12 gunungan yang disiapkan langsung habis diperebutkan warga.
Baca juga:
KPK Lanjutkan Penggeledahan di Setda Sukoharjo, Kantor Bupati hingga DPUPR Diperiksa
Sukoharjo Didorong Menjadi Lebih Maju dan Berbudaya
Plt Bupati Sukoharjo Eko Sapto Purnomo mengatakan, melalui tema 'Sukoharjo Spektakuler', pemerintah ingin mengajak masyarakat bersama seluruh elemen pemerintahan mewujudkan Sukoharjo yang maju, mandiri, dan berbudaya.
“Kami ingin seluruh masyarakat bersama elemen pemerintah untuk mewujudkan Sukoharjo yang maju, Sukoharjo yang mandiri, Sukoharjo yang berbudaya, yang tadi kita diingatkan lagi dengan nilai-nilai Tridharma. Melu rumongso handarbeni (ikut merasa memiliki), melu rumongso hangrungkebi (ikut menjaga) dan mulat sarira hangrasa wani (berani mawas diri, introspeksi atau melihat kekurangan diri sendiri). Itu yang menjadi ruh kita,” ujarnya.
Pemkab Sukoharjo Evaluasi Usai OTT KPK
Di sisi lain, Eko Sapto Purnomo yang juga menjabat sebagai Wakil Bupati Sukoharjo mengaku prihatin atas OTT KPK yang menimpa Bupati Sukoharjo Etik Suryani bersama dua pejabat di lingkungan Pemda Sukoharjo.
Menurutnya, kondisi tersebut harus menjadi momentum untuk melakukan evaluasi dan menghadirkan pemerintahan yang lebih baik.
Tentu kita saat ini kita prihatin dengan kondisi yang sedang kita alami. Kita juga harus mengambil hikmah. Ini menjadi momentum untuk kita mengevaluasi diri. Kita harus berusaha merubah diri menghadirkan pemerintahan yang bersih, pemerintahan yang profesional, pemerintahan yang transparan dan akuntabel,
Plt. Bupati Sukoharjo, Eko Sapto Purnomo.
(Ismail/Jawa Tengah)

