Harga Minyak Berpotensi Melonjak, DPR Minta Pemerintah Siapkan Skenario Pengamanan APBN

Soffi AmiraSoffi Amira - Selasa, 03 Maret 2026
Harga Minyak Berpotensi Melonjak, DPR Minta Pemerintah Siapkan Skenario Pengamanan APBN

Kapal tangker melintas di Selat Hormuz. (Pexel/Melike Sena)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Konflik yang terjadi di Timur Tengah berpotensi memicu dampak panjang.

Penutupan Selat Hormuz menandai babak baru krisis energi global. Jalur strategis yang selama ini dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia itu kini terganggu, kemudian memicu lonjakan harga dan meningkatkan volatilitas pasar energi internasional.

Bagi Indonesia, dinamika tersebut tidak hanya berdampak pada pasar global, tetapi juga berpotensi memengaruhi stabilitas fiskal nasional.

Anggota Komisi XI DPR RI, Habib Idrus Salim Aljufri menilai, setiap eskalasi di kawasan Teluk akan berdampak pada harga minyak mentah dunia.

"Dan ketika harga melonjak, APBN kita menjadi sensitif,” ujar Idrus kepada wartawan di Jakarta dikutip Selasa (3/3).

Baca juga:

Kemenkeu Mulai Lakukan Mitigasi Potensi Risiko Dampak Penutupan Selat Hormuz

Menurut Idrus, dinamika di Selat Hormuz menjadi pengingat bahwa ketahanan energi dan disiplin fiskal merupakan fondasi utama stabilitas ekonomi nasional.

Melalui situasi global yang penuh ketidakpastian, kewaspadaan kebijakan menjadi kunci menjaga kepercayaan dan stabilitas ekonomi Indonesia.

Berdasarkan asumsi makro resmi dalam RAPBN 2026 yang telah dibahas pemerintah bersama DPR RI, harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) ditetapkan sebesar 70 dolar AS per barel.

Target lifting minyak berada di level 610 ribu barel per hari, sementara lifting gas sekitar 984 ribu barel setara minyak per hari (boepd). Nilai tukar rupiah diasumsikan di kisaran Rp 16.500 per dolar AS.

Baca juga:

Pasokan Minyak Dari Timur Tengah Terganggu, Indonesia Bakal Pilih Impor Dari AS

Melalui struktur belanja negara, pemerintah mengalokasikan sekitar Rp 402,4 triliun untuk sektor energi, termasuk di dalamnya Rp 210,1 triliun untuk subsidi energi yang mencakup BBM, LPG 3 kilogram, dan listrik.

Menurut Idrus, asumsi tersebut disusun dalam kerangka stabilitas harga global. Namun, jika ketegangan di Selat Hormuz mendorong harga minyak jauh melampaui asumsi tersebut, tekanan terhadap ruang fiskal berpotensi meningkat.

Secara fiskal, deviasi harga minyak dari asumsi ICP memiliki konsekuensi langsung terhadap belanja negara.

Pada praktiknya, setiap kenaikan sekitar 10 dolar AS per barel di atas asumsi RAPBN berpotensi meningkatkan tekanan belanja energi dalam skala signifikan, bergantung pada nilai tukar dan volume konsumsi domestik.

Kenaikan harga minyak memang dapat meningkatkan penerimaan negara dari sektor migas.

Baca juga:

Menlu Iran Tegaskan Serang Pangkalan Militer AS, Bukan Perang dengan Negara Timur Tengah

Namun, dengan lifting minyak yang masih berada di kisaran 610 ribu barel per hari, di bawah kebutuhan konsumsi nasional, tambahan penerimaan tersebut belum tentu sepenuhnya mengimbangi kenaikan beban subsidi apabila harga energi global bertahan tinggi.

“Dengan struktur energi yang masih bergantung pada impor, tekanan harga global lebih cepat terasa di sisi belanja. Karena itu, pemerintah perlu menyiapkan skenario pengamanan APBN sejak dini,” kata Idrus yang juga politikus PKS ini.

Selain risiko fiskal, lonjakan harga energi juga berpotensi menekan inflasi domestik melalui kenaikan biaya produksi dan distribusi.

Tekanan terhadap inflasi dapat berdampak pada daya beli masyarakat dan stabilitas pertumbuhan ekonomi, terutama jika volatilitas berlangsung dalam periode panjang.

Idrus menegaskan, krisis ini harus menjadi momentum memperkuat fondasi ketahanan energi nasional.

Diversifikasi sumber energi, peningkatan produksi domestik, serta percepatan bauran energi baru dan terbarukan dinilai menjadi langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor minyak.

“Geopolitik global memang tidak bisa kita kendalikan. Tetapi memperkuat produksi dalam negeri, memperbaiki tata kelola subsidi, dan menjaga disiplin fiskal adalah langkah yang bisa kita pastikan,” ujarnya. (knu)

#Harga Minyak Dunia #Selat Hormuz #APBN #Krisis Ekonomi
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Dunia
Masuk Selat Hormuz Matikan Pelacak, 2 Kapal Minyak Supertanker Uni Emirat Arab Meledak
Dua kapal supertanker meledak di Selat Hormuz usai mematikan alat pelacak dan melanggar aturan navigasi di tengah ketatnya kendali maritim Iran.
Wisnu Cipto - Minggu, 04 Oktober 2026
Masuk Selat Hormuz Matikan Pelacak, 2 Kapal Minyak Supertanker Uni Emirat Arab Meledak
Dunia
G7 Lepas Cadangan Minyak Darurat, Dilakukan Terkoordinasi selama 4 Bulan
Dilakukan sebagai tanggapan atas melonjaknya harga dan meningkatnya volatilitas di pasar energi global.
Dwi Astarini - Sabtu, 03 Oktober 2026
G7 Lepas Cadangan Minyak Darurat, Dilakukan Terkoordinasi selama 4 Bulan
Indonesia
RI Pecah Rekor! APBN 2027 Tembus Rp 4.106 Triliun Disahkan, Alokasi K/L Terbesar BGN Disusul Kemenhan-Polri
DPR resmi mengesahkan APBN 2027 senilai Rp 4.106,3 triliun yang mencetak rekor terbesar sejarah RI dengan alokasi anggaran tertinggi untuk Badan Gizi Nasional.
Wisnu Cipto - Rabu, 30 September 2026
RI Pecah Rekor! APBN 2027 Tembus Rp 4.106 Triliun Disahkan, Alokasi K/L Terbesar BGN Disusul Kemenhan-Polri
Indonesia
Harga Pertalite-Biosolar Aman Minyak Dunia Tembus US$ 107 per Barel, Tumbalnya Pertamax Cs
Harga minyak dunia meroket tembus US$ 107 per barel akibat konflik AS-Iran. Pemerintah pastikan Pertalite tidak naik, namun BBM nonsubsidi bakal disesuaikan!
Wisnu Cipto - Selasa, 29 September 2026
Harga Pertalite-Biosolar Aman Minyak Dunia Tembus US$ 107 per Barel, Tumbalnya Pertamax Cs
Dunia
Konflik Selat Hormuz Timur Tengah Masih Lanjut, Senat AS Tolak Resolusi Akhiri Konflik Iran
Senat AS menolak resolusi DPR yang memerintahkan Presiden Donald Trump mengakhiri konflik dengan Iran. Ketegangan militer di Selat Hormuz berlanjut.
Wisnu Cipto - Jumat, 25 September 2026
Konflik Selat Hormuz Timur Tengah Masih Lanjut, Senat AS Tolak Resolusi Akhiri Konflik Iran
Indonesia
Harga Minyak Naik, Ekspor Diharapkan Meningkat Buat Tutup Defisit Neraca Perdagangan
Salah satu upaya perluasan pasar ekspor adalah melalui Trade Expo Indonesia 2026 yang akan digelar pada 14-18 Oktober.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 22 September 2026
Harga Minyak Naik, Ekspor Diharapkan Meningkat Buat Tutup Defisit Neraca Perdagangan
Indonesia
Penempatan SAL Rp 200 Triliun di Himbara Tetap Dilanjutkan
Kementerian Keuangan akan terus melakukan komunikasi dengan perbankan, sehingga tidak terjadi gap atau lag antara dana yang tersedia di bank dengan yang ditarik oleh pemerintah.
Alwan Ridha Ramdani - Jumat, 18 September 2026
Penempatan SAL Rp 200 Triliun di Himbara Tetap Dilanjutkan
Indonesia
Menkeu Suahasil Janjikan Defisit Anggaran Tidak Melebihi Aturan
Komitmen itu terlihat pada target defisit dalam Rancangan APBN (RAPBN) 2027 yang ditetapkan sebesar 2,40 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Alwan Ridha Ramdani - Jumat, 18 September 2026
Menkeu Suahasil Janjikan Defisit Anggaran Tidak Melebihi Aturan
Indonesia
Belanja Pemerintah Pusat Tembus Rp 1.791,5 Triliun hingga Agustus 2026, Tumbuh 29 Persen
Realisasi belanja pemerintah pusat hingga Agustus 2026 mencapai Rp1.791,5 triliun, tumbuh 29 persen. Belanja K/L tumbuh 33 persen.
Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 18 September 2026
Belanja Pemerintah Pusat Tembus Rp 1.791,5 Triliun hingga Agustus 2026, Tumbuh 29 Persen
Dunia
Krisis Minyak Dunia Meledak! Iran Kunci Mati Selat Hormuz Sampai Trump dan Netanyahu Lengser
Iran menegaskan tidak akan membuka akses Selat Hormuz sampai Donald Trump dan Benjamin Netanyahu lengser, memicu krisis minyak global yang kian parah.
Wisnu Cipto - Jumat, 18 September 2026
Krisis Minyak Dunia Meledak! Iran Kunci Mati Selat Hormuz Sampai Trump dan Netanyahu Lengser
Bagikan