Ganja Medis dan Ganja Biasa, Ketahui Perbedaannya

Ananda Dimas PrasetyaAnanda Dimas Prasetya - Kamis, 30 Juni 2022
Ganja Medis dan Ganja Biasa, Ketahui Perbedaannya

Ganja medis sangat berbeda dengan tanaman ganja biasa. (Foto: freepik/jcomp)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

PENGGUNAAN ganja memang cukup kontroversial, bahkan untuk kebutuhan medis. Keberadaannya di Indonesia pun dianggap ilegal dan termasuk ke dalam obat-obatan terlarang, meski memiliki cukup banyak manfaat untuk kesehatan.

Mariyuana atau ganja adalah daun dari tanaman bernama Cannabis sativa. Tanaman ini memiliki 100 bahan kimia berbeda yang disebut dengan cannabinoid. Masing-masing bahannya memiliki efek berbeda pada tubuh. Kandungan delta-9-tetrahydrocannabinol (THC) dan cannabidiol (CBD) adalah bahan kimia utama yang kerap digunakan dalam pengobatan.

Baca juga:

Pertama di Asia, Thailand Resmi Legalkan Ganja untuk Warganya

Ganja Medis dan Ganja Biasa, Ketahui Perbedaannya
Ganja medis telah mengalami proses ekstraksi dan isolasi sehingga bisa digunakan untuk kepentingan medis. (Foto: freepik/freepik)

Perlu diketahui, THC merupakan senyawa yang dapat membuat 'mabuk'. Sedangkan, senyawa cannabinoid sebenarnya diproduksi juga oleh tubuh secara alami untuk membantu mengatur konsentrasi, gerak tubuh, nafsu makan, rasa sakit, hingga sensasi pada indra.

Namun pada ganja, sebagian senyawa tersebut sangatlah kuat dan bisa menyebabkan berbagai efek kesehatan serius jika disalahgunakan.

Menurut Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI) dr Inggrid Tania, ganja medis sangat berbeda dengan tanaman ganja biasa. Ganja medis merupakan produk derivatif dari tanaman ganja yang digunakan khusus untuk kepentingan pengobatan dan tidak ditujukan untuk penggunaan rekreasi.

Ganja medis bukan ganja utuh atau bagian-bagian daunnya secara utuh, atau bijinya, atau daunnya saja. Menurut dr Inggrid, ganja medis bukan tanaman ganja biasa atau daun ganja pada umumnya. Ganja medis telah mengalami proses ekstraksi dan isolasi sehingga bisa digunakan untuk kepentingan medis.

"Jadi memang ganja medis itu sudah berupa ekstrak daripada tanaman ganja, atau juga berupa isolasi, isolate dari senyawa aktif yang terkandung dari tanaman ganja. Misal sudah diisolasi senyawa CBD (canabinol) dalam bentuk minyak, menghasilkan CBD oil. Itu contoh ganja medis," jelasnya.

Baca juga:

Tinjauan Kesehatan dari Ganja

Ganja Medis dan Ganja Biasa, Ketahui Perbedaannya
Minyak CBD. (Foto: Pixabay/Erin_Hinterland)

dr Inggrid mengingatkan, penggunaan ganja untuk tujuan rekreasi dengan dibakar atau dihisap seperti rokok justru menimbulkan risiko negatif bagi kesehatan. "Jadi bukan berupa daun, atau dilinting seperti rokok, jadi umumnya tidak berbentuk seperti itu. Justru yang dibakar kayak rokok itu menghasilkan zat karsinogen yang memicu kanker seperti merokok," jelasnya.

Penggunaan ganja medis di beberapa negara, seperti di AS, umumnya untuk mengontrol rasa sakit. Sementara, ganja tidak cukup ampuh untuk rasa sakit yang parah (misalnya, nyeri pasca operasi atau patah tulang).

Mengutip Harvard Health Publishing, menurut seorang dokter, pendidik, dan spesialis ganja di Rumah Sakit Umum Massachusetts Peter Grinspoon, ganja lebih aman daripada opium. Ganja dinilai tidak menyebabkan overdosis, tidak membuat ketagihan atau adiksi, dan dapat menggantikan obat anti-inflamasi nonsteroid (NSAID). Pasien menganggap bahwa ganja medis memungkinkan mereka untuk melanjutkan aktivitas tanpa gangguan.

Berdasarkan berbagai penelitian yang telah dilakukan, ganja ternyata memiliki sejumlah manfaat lain bagi kesehatan yang mungkin jarang diketahui banyak orang. Pemerintah sudah seharusnya mengkaji juga risiko penyalahgunaan ganja dalam kajian legalisasi ganja medis. Penggunaan ganja medis untuk rekreasi sangat berpeluang terjadi, jika wacana legalisasi ganja medis tidak dikaji serius. (DGS)

Baca juga:

Negara yang Melegalkan Ganja untuk Medis. Turki Salah Satunya

#Kesehatan #Ganja
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Ananda Dimas Prasetya

Penulis, editor, dan praktisi konten digital dengan latar belakang akademis di bidang jurnalistik serta pengalaman dalam penyusunan artikel berita, konten informatif, dan optimasi mesin pencari (SEO). Lulusan Fakultas Ilmu Komunikasi, Jurusan Jurnalistik, Universitas Padjadjaran (2007–2014) dengan pemahaman mendalam mengenai kaidah jurnalistik, etika media, verifikasi informasi, dan teknik penulisan profesional. Berfokus pada pengembangan konten yang mengutamakan akurasi, relevansi, dan nilai informasi bagi pembaca. Memastikan artikel disusun melalui proses riset, verifikasi sumber, dan pengolahan data cermat guna menjamin kualitas informasi yang disajikan. Berbagai topik yang menjadi perhatian meliputi pemerintahan, ekonomi, pendidikan, teknologi, budaya, hiburan (musik & film), gaya hidup, motorsports, hingga isu-isu sosial yang berkembang di masyarakat.
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Fun
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
We Pause We Rise menggelar Rose & Bloom untuk mengedukasi perempuan tentang perimenopause dan menopause, termasuk brain fog, kesehatan tulang, dan hipertensi.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 19 Oktober 2026
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
Indonesia
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Secara kumulatif, jumlah kasus selama Januari hingga Oktober 2026 juga lebih rendah jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Dwi Astarini - Sabtu, 17 Oktober 2026
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Lifestyle
Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Inovasi F1 telah memberikan dampak yang jauh melampaui lintasan balap.
Dwi Astarini - Kamis, 15 Oktober 2026
 Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Berita Foto
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
SPG menunjukkan tampilan antarmuka (user interface/UI) aplikasi U-Buddy saat peluncurannya di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Didik Setiawan - Rabu, 07 Oktober 2026
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
Indonesia
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
bandara dan pelabuhan internasional di Bali menerapkan peningkatan pengawasan pelaku perjalanan melalui pengawasan deklarasi kesehatan (All Indonesia - SSHP).
Dwi Astarini - Selasa, 06 Oktober 2026
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
Lifestyle
Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Berapa kali celupan yang dibutuhkan untuk memindahkan jumlah bakteri yang kira-kira sama banyaknya dengan ciuman berdurasi 10 detik?
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
 Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Indonesia
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Anak demam tinggi dan sesak napas? Peringatkan bahaya virus influenza tipe A pada anak. Segera bawa ke faskes rujukan terdekat!
Wisnu Cipto - Jumat, 02 Oktober 2026
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Lifestyle
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Dokter Paskah ungkap tiga tantangan pengobatan gagal jantung lanjut di Indonesia, mulai dari literasi masyarakat, keterbatasan dokter hingga mahalnya teknologi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Lifestyle
Teknologi LVAD Hadir di Indonesia, Jadi Harapan Baru bagi Pasien Gagal Jantung Lanjut
Teknologi LVAD atau pompa jantung artificial kini tersedia di Indonesia untuk membantu pasien gagal jantung tingkat lanjut. Ini cara kerja dan persiapannya.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Teknologi LVAD Hadir di Indonesia, Jadi Harapan Baru bagi Pasien Gagal Jantung Lanjut
Indonesia
Kemenkes Klaim 99,1 Juta Orang Telah Ikut Program Cek Kesehatan Gratis
Pemerintah mengatakan manfaat program CKG berpotensi mencegah satu dari empat kasus stroke dan penyakit kardiovaskular pada 2035.
Dwi Astarini - Kamis, 01 Oktober 2026
Kemenkes Klaim 99,1 Juta Orang Telah Ikut Program Cek Kesehatan Gratis
Bagikan