Gangguan Depersonalisasi, Hidup Seperti dalam Mimpi
Depersonalisasi gangguan yang membuat seseorang berada di luar dirinya. (Pexels/Lukas Rychvalsky)
GANGGUAN depersonalisasi atau derealisasi (DPDR) adalah kondisi kesehatan mental yang menyebabkan seseorang mengalami perasaan berada di luar tubuh (depersonalisasi) secara terus-menerus atau berulang.
Kondisi itu menyebabkan adanya perasaan seolah apa yang terjadi di sekitar orang tersebut tidak nyata (derealisasi) atau keduanya. Perasaan depersonalisasi dan derealisasi bisa sangat mengganggu dan hidup akan terasa seperti dalam mimpi.
Banyak yang menilai bahwa depersonalisasi merupakan gejala dari gangguan lain seperti kecemasan, gangguan stres pascatrauma, depresi, dan gangguan panik. Mungkin banyak yang tidak menyadari bahwa sebagian orang pasti mengalami gangguan depersonalisasi.
Bahkan bisa dipastikan ada orang yang mengalami gangguan depersonalisasi setiap hari dalam kurun waktu tertentu. Sekilas tentang gangguan depersonalisasi, hal ini berkaitan dengan seseorang yang mengalami mati rasa untuk merasakan sesuatu.
Di sisi lain, depersonalisasi bisa saja terjadi atau merupakan efek samping dari obat-obatan tertentu. Ada tanda-tanda yang perlu kamu ketahui seseorang menderita gangguan depersonalisasi, seperti dilansir dari Your Tango.
Baca Juga:
Terpisah dari tubuh
Tubuh terasa seperti sesuatu yang asing, kepala seperti terbungkus kapas, dan tubuh terasa hampa dan tak bernyawa. Beberapa orang bahkan kehilangan indra perasa, penciuman, peraba, dan mungkin perlu memukul diri agar normal kembali.
Bayangan
Biasanya orang dengan gangguan depersonalisasi akan berusaha menghindari pantulan dirinya sendiri, misalnya di cermin atau benda lainnya yang memberikan pantulan. Biasanya mereka mengatasinya dengan keluar rumah bersama orang.
Lingkungan
Depersonalisasi umumnya diikuti dengan derealisasi yang melibatkan distorsi visual subjektif. Hal ini membuat orang yang menderitanya merasa tidak jelas dan tidak terbiasa dengan lingkungan yang ada di sekitar dirinya.
Baca Juga:
Lebih dari Sekadar Konten, ASMR Bermanfaat untuk Mengatasi Kecemasan
Pihak ketiga
Gangguan depersonalisasi membuat orang penderitanya menjadi pengamat dari tubuh dan proses mentalnya sendiri. Suara mereka seperti terdengar asing saat mereka berbicara. Seolah-olah penderitanya hanya melakukan gerakan (tanpa suara).
Ingatan buruk
Bagi penderita gangguan depersonalisasi sangat sulit untuk mengingat apapun yang ada di sekitar dirinya. Bahkan mereka tidak mampu menerima informasi baru yang datang dari sekitarnya.
Ada yang salah
Orang yang mengalami gangguan kesehatan ini merasa ada sesuatu yang tidak beres dalam dirinya padahal tidak berdelusi. Perawatan terbaik untuk depersonalisasi adalah terapi bicara karena tidak ada obat yang dirancang khusus untuk gangguan ini. (Mrf)
Baca Juga:
Bagikan
Berita Terkait
Usai Banjir Bandang, Warga Aceh Tamiang Banyak Alami Gangguan Kesehatan
Kemenkes: 4 dari 1.000 Orang Mengalami Skizofrenia
AS Kurangi Jumlah Vaksin Wajib untuk Anak-Anak, Timbulkan Kekhawatiran Peningkatan Risiko Penyakit
Gubernur Pramono Tegaskan belum Ditemukan Super Flu di Jakarta
DPR Minta Pemerintah Gerak Cepat Antisipasi Ancaman Super Flu, Dorong Kemenkes Terbitkan Vaksin Pencegah
Waspada Super Flu, 62 Kasus Terkonfirmasi di Indonesia Terbanyak di Jawa Timur
Super Flu Masuk ke Indonesia, Kemenkes Imbau Kenali Gejala dan Terapkan Protokol Kesehatan
Teknologi Bedah Robotik Memungkinkan Tindakan Presisi untuk Kenyamanan Pasien, kini Hadir di Siloam Hospitals Kebon Jeruk
Raphael Varane Ngaku Alami Depresi saat Masih di Real Madrid, Paling Parah setelah Piala Dunia 2018!
SDM Dokter belum Terpenuhi, Kemenkes Tunda Serahkan RS Kardiologi Emirate ke Pemkot Solo