Faktor yang Mendorong Orang Jadi Pamer

P Suryo RP Suryo R - Jumat, 18 Agustus 2023
Faktor yang Mendorong Orang Jadi Pamer

Biasanya pelaku cenderung lebih sensitif dan mudah terganggu dengan kritikan. (Pexels/Lizza Summer)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

ISTILAH 'sultan' dan 'crazy rich' sepertinya sudah tidak asing di telinga masyarakat Indonesia. Istilah tersebut banyak digunakan di platform media sosial. Munculnya istilah ini berawal dari para selebritas yang sukses menyelami dunia bisnis.

Kesuksesan mereka dilihat dari perilaku pamer kemewahan di media sosial yang memperlihatkan gaya hidup mewah bak milyuner ternama. Perilaku pamer atau flexing itu lah yang memunculkan istilah itu di media sosial.

Baca Juga:

Flexing Versus Humblebragging, Dua Cara Unjuk Gigi Serupa Tapi Tak Sama

pamer
Ada faktor-faktor yang mendorong orang untuk pamer. (Unsplash/Mufid Majnun)

Namun, dibalik perilaku flexing terdapat beberapa faktor yang membuat seseorang memiliki perilaku pamer. Seperti yang dikutip dari berbagai sumber, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan seseorang melakukan flexing.

Inferioritas


Perasaan yang berasal dari kekurangan dalam diri seseorang. Menurut Nugrahanintyas (2014), menyebutkan flexing awalnya perasaan yang timbul akibat lemahnya kondisi psikologis dan sosial yang dirasakan secara pribadi atau perasaan yang timbul karena kelemahan yang dimiliki.

Selain itu, fenomena flexing juga memiliki hubungan yang erat dengan harga diri yang rendah. Biasanya pelaku cenderung lebih sensitif dan mudah terganggu dengan kritikan.

Baca Juga:

Flexing Pacar di Media Sosial, Tanda Lebih Bahagia?

pamer
Perilaku konsumtif menjadi ajang untuk flexing. (Unsplash/Wes Tindel)

Lawan jenis

Aktivitas menarik perhatian ini juga termasuk perilaku konsumerisme. Hal ini karena didorong oleh keinginan seseorang untuk menarik perhatian lawan jenis atau orang lain yang disukai. Umumnya seseorang ingin kehadirannya lebih terlihat, dengan itu ia berupaya memperbaiki diri. Sayangnya dengan cara, yakni memperlihatkan gaya hidup mewah melalui harta yang dimilikinya.

Tekanan sosial


Kondisi geografis dari tempat tinggal terkadang menciptakan perbedaan dalam tingkah laku yang terdapat dalam diri seseorang. Contohnya untuk sebagian orang di kota-kota besar merek tas seperti Coach, Charles & Keith dan Longchamp dapat dikatakan sebagai barang yang memiliki harga standar. Namun, di beberapa daerah pinggiran menganggap tas tersebut masuk ke dalam kategori mewah.

Perbedaan tersebut yang menimbulkan gaya hidup pamer sebagian orang yang tinggal di pinggiran karena ingin mengikuti gaya hidup di perkotaan.

Dari beberapa faktor penunjang gaya hidup pamer, terdapat akibat yang bisa didapatkan, terlebih jika flexing, tapi memaksakan diri. Hal ini bisa jadi sangat berbahaya, Jika dikemudian hari yang bersangkutan tidak bisa memenuhi keinginan, Maka kondisi tersebut dapat mengarah pada pemaksaan kedaan yang berujung hutang. (mro)

Baca Juga:

3 Alasan Orang Flexing Berlebihan di Media Sosial

#Kesehatan Mental
Bagikan
Ditulis Oleh

P Suryo R

Stay stoned on your love

Berita Terkait

ShowBiz
Yacko Rilis 'Unbreakable Me', Jadi Anthem Perempuan Bangkit dan Lawan Trauma
Yacko merilis 'Unbreakable Me', anthem tentang pemulihan kesehatan mental perempuan. Lagu ini juga jadi bagian kampanye di Sydney Marathon 2026.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 29 April 2026
Yacko Rilis 'Unbreakable Me', Jadi Anthem Perempuan Bangkit dan Lawan Trauma
Lifestyle
Jangan Dianggap Sepele, Stigma Menstruasi Bisa Ganggu Kesehatan Mental
Psikiater mengungkap stigma dan ejekan saat menstruasi bisa memicu tekanan mental. Perempuan didorong berani membela diri dan memahami kondisi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 23 April 2026
Jangan Dianggap Sepele, Stigma Menstruasi Bisa Ganggu Kesehatan Mental
Lifestyle
Bukan Sekadar PMS, PMDD Bisa Berdampak Serius hingga Picu Depresi Berat
PMDD adalah gangguan menjelang haid yang lebih berat dari PMS. Psikiater ingatkan gejalanya bisa picu depresi hingga butuh penanganan serius.
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 21 April 2026
Bukan Sekadar PMS, PMDD Bisa Berdampak Serius hingga Picu Depresi Berat
Indonesia
Kemenkes Kritik Film ‘Aku Harus Mati’, Khawatirkan Perilaku Meniru
Menurut pihak Kemenkes, baliho itu berpotensi memicu peniruan tindakan bunuh diri, terutama di tengah tren kenaikan signifikan angka kematian di Indonesia.
Dwi Astarini - Selasa, 07 April 2026
Kemenkes Kritik Film ‘Aku Harus Mati’, Khawatirkan Perilaku Meniru
Indonesia
Promosi Film Horor "Aku Harus Mati" Dinilai Berdampak Buruk Bagi Kesehatan Mental Anak dan Remaja P
Sekitar 10 persen remaja mengalami gangguan kesehatan mental. Pada remaja dengan kerentanan psikologis seperti mereka, baliho film semacam "Aku Harus Mati" bisa memunculkan gagasan yang membahayakan.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 07 April 2026
Promosi Film Horor
Indonesia
Hasil CKG, Ratusan Ribu Anak Diketahui Alami Cemas dan Depresi
Saat ini pemerintah juga mempercepat pemenuhan tenaga psikolog klinis di Puskesmas yang jumlahnya masih terbatas,
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 09 Maret 2026
Hasil CKG, Ratusan Ribu Anak Diketahui Alami Cemas dan Depresi
Dunia
Kemenkes: 4 dari 1.000 Orang Mengalami Skizofrenia
Sekitar 2 persen orang dewasa di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental.
Wisnu Cipto - Kamis, 08 Januari 2026
Kemenkes: 4 dari 1.000 Orang Mengalami Skizofrenia
Olahraga
Raphael Varane Ngaku Alami Depresi saat Masih di Real Madrid, Paling Parah setelah Piala Dunia 2018!
Raphael Varane mengaku dirinya mengalami depresi saat masih membela Real Madrid. Ia menceritakan itu saat wawancara bersama Le Monde.
Soffi Amira - Rabu, 03 Desember 2025
Raphael Varane Ngaku Alami Depresi saat Masih di Real Madrid, Paling Parah setelah Piala Dunia 2018!
Indonesia
2 Juta Anak Alami Gangguan Kesehatan Mental, Kemenkes Buka Layanan healing 119.id Cegah Potensi Bunuh Diri
Kemenkes membuka layanan healing 119.id bagi warga yang mengalami stres, depresi atau memiliki keinginan bunuh diri.
Wisnu Cipto - Kamis, 30 Oktober 2025
2 Juta Anak Alami Gangguan Kesehatan Mental, Kemenkes Buka Layanan healing 119.id Cegah Potensi Bunuh Diri
Indonesia
Hasil Cek Kesehatan Gratis: 2 Juta Anak Indonesia Alami Gangguan Kesehatan Mental
Tercatat, ada sekitar 20 juta rakyat Indonesia didiagnosis mengalami gangguan kesehatan mental dari data pemeriksaan kesehatan jiwa gratis yang dilakukan.
Wisnu Cipto - Kamis, 30 Oktober 2025
Hasil Cek Kesehatan Gratis: 2 Juta Anak Indonesia Alami Gangguan Kesehatan Mental
Bagikan