Fakta Unik Ikan Sapu-Sapu yang Jadi ‘Musuh’ Ekosistem Kali di Jakarta, Bisa Bertahan tanpa Air Loh

Dwi AstariniDwi Astarini - Sabtu, 18 April 2026
Fakta Unik Ikan Sapu-Sapu yang Jadi ‘Musuh’ Ekosistem Kali di Jakarta, Bisa Bertahan tanpa Air Loh

Ilustrasi Ikan Sapu-Sapu (Alodokter)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MERAHPUTIH.COM — KALI-kali di Jakarta kini punya musuh baru selain sampah. Ikan sapu-sapu yang punya julukan ‘janitor fish’ atau ikan pembersih ini kini justru menjadi momok bagi ekosistem kali. Ikan dengan mulut layaknya penyedot di bagian tubuhnya itu tengah diburu di berbagai kali di Ibu Kota.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung bahkan memerintahkan penyedia jasa lainnya perorangan (PJLP) untuk rutin membasmi ikan sapu-sapu di ibu kota, yang saat ini sudah mengkhawatirkan. Langkah itu diambil sebagai respons atas peningkatan populasi ikan invasif tersebut yang dinilai dapat mengganggu keseimbangan ekosistem perairan di Jakarta.

"Secara khusus nanti kami akan tugaskan PJLP yang bertugas untuk itu. PJLP khusus untuk mengurangi dominasi ikan sapu-sapu," kata Pramono di Jakarta Utara, Jumat (17/4).

Ikan sapu-sapu, seperti dilansir Digitani IPB, merupakan salah satu jenis ikan yang sering dijumpai di perairan Indonesia. Genus yang mencakup jenis ikan ini antara lain Hypostosmus, Hyposarcus, dan Pterygoplichthys. Spesies yang umum ditemukan yakni Hypostosmus sp, Hyposarcus pardalis, dan Pterygoplichthys pardalis. Tak hanya namanya yang unik, bentuk dan kelakuan ikan ini juga tak kalah ajaibnya.

Berikut fakta unik ikan sapu-sapu si pembersih yang kini disikat dari kali-kali seputar Jakarta.



Berasal dari Amerika Selatan, tapi Nyasar ke Asia




Ikan sapu-sapu ini pada awalnya berasal dari kawasan sungai dengan aliran air deras dan jernih di Amerika Selatan, seperti di Argentina Utara, Paraguay, dan Uruguay. Selain itu, spesies ini juga ditemukan di Brasil bagian selatan, tepatnya di Sungai Rio Paraguay, Rio de Plate, Rio Uruguay, dan Rio Panama. Pengenalan ikan sapu-sapu ke wilayah lain, termasuk Asia, awalnya karena popularitasnya sebagai ikan akuarium. Penghobi ikan akuarium menyukai penampilan ikan sapu-sapu yang bergaris dan umurnya yang panjang. Banyak orang memelihara ikan sapu-sapu di akuarium mereka karena ikan ini memakan kotoran ikan dan berbagai jenis limbah lainnya.

Namun, beberapa ikan sapu-sapu yang kemudian dilepas ke alam liar menjadi masalah baru bagi ekosistem.



Mulut Pengisap yang Melahap Segalanya, Termasuk Telur Ikan Lain




Ikan sapu-sapu punya tubuh yang ditutupi sisik keras, tapi fleksibel, mirip baju zirah untuk perlindungan. Bentuk kepalanya pipih mirip dengan ikan lele dengan pola titik-titik putih besar di bagian abdomen. Ikan sapi-sapu memiliki sirip dorsal dengan jumlah 9 hingga 14 buah dan sirip dada yang dilengkapi dengan duri kecil seperti gigi. Ukuran tubuh ikan sapu-sapu bisa mencapai 40 cm, bahkan lebih, dengan pertumbuhan yang cukup cepat, yaitu hingga 35 cm dalam waktu dua tahun.

Mulut ikan sapu-sapu berbentuk seperti pengisap yang terletak di bagian bawah kepala. Fungsinya ialah menyedot makanan dan membersihkan permukaan yang ditempati. Mereka dapat mengisap alga, detritus, ikan-ikan kecil, tanaman air, dan sisa makanan lainnya dengan efisien.

Sebagian besar ikan sapu-sapu bersifat nokturnal, aktif mencari makanan di malam hari. Karena peran dalam mengendalikan ganggang inilah, ikan sapu-sapu sering digunakan dalam akuarium sebagai ‘pembersih alami’.

Baca juga:

Ikan Sapu-Sapu Langsung Dihancurkan, Wali Kota Jakpus: Agar tak Disalahgunakan




Ikan Penjajah yang Mudah Beradaptasi



Meski berasal dari sungai beraliran deras, ikan sapu-sapu ini sangat mudah beradaptasi, baik di air tawar maupun air payau. Ikan sapu-sapu juga mampu hidup di perairan tergenang seperti danau atau rawa-rawa.

Tak hanya itu, ikan sapu-sapu juga punya kemampuan bertahan hidup di perairan dengan kadar oksigen terlarut yang rendah. Ikan berwarna gelap ini juga tahan terhadap lingkungan tercemar, kekurangan oksigen, dan fluktuasi suhu. Itulah kenapa ikan sapu-sapu sering mendominasi habitat buatan atau tercemar. Hal itu juga membuatnya jadi salah satu spesies ikan yang sangat mudah beradaptasi.

Ikan sapu-sapu bahkan mampu bertahan hidup di sungai yang mengering, berkat kemampuannya bernapas melalui kulit dan menggeliat untuk mencari tempat tinggal baru. Ikan jenis ini juga mampu hidup hingga 30 jam di luar air jika memiliki cadangan oksigen yang cukup di perutnya. Di alam liar, mereka sering membuat lubang di dasar sungai berlumpur untuk meletakkan sekitar 300 butir telurnya. Ikan sapu-sapu ini lumayan panjang umur loh, dapat hidup 10 sampai 15 tahun.

Dengan kemampuan adaptasi nan mumpuni, tidak mengherankan jika ikan sapu-sapu kini tersebar luas di berbagai wilayah tropis di dunia, termasuk Indonesia, sebagai spesies invasif. Di beberapa daerah di Indonesia, mereka disebut ‘ikan penjajah’ atau ‘ikan alien’ karena sulit dibasmi dari sungai-sungai yang sudah mereka dominasi.


Baca juga:

Ikan Sapu-Sapu Jajah 60 Persen Sungai Jakarta, Pramono Anung Perintahkan Operasi Senyap


Bisa Dikonsumsi, tapi…


Ikan sapu-sapu punya dagingnya keras, sedikit, dan beraroma lumpur. Hal itu membuatnya jarang dipilih sebagai ikan konsumsi. Meski begitu, ada laporan beberapa masyarakat mengonsumsinya saat darurat.

Meski tidak umum dikonsumsi, ikan sapu-sapu sebenarnya dapat dimakan, asalkan berasal dari perairan bersih dan hasil budidaya. Sebaliknya, ikan yang hidup di perairan tercemar dan penuh polusi sebaiknya dihindari karena dapat berisiko bagi kesehatan jika dikonsumsi.

Nah, untuk ikan sapu-sapu yang di sungai Jakarta nih, menurut Kepala Dinas KPKP Pemprov DKI Jakarta Hasudungan A Sidabalok, tingkat pencemarannya melebihi ambang batas, termasuk ada kandungan Salmoella serta E coli serta residu logam berat. Wah, kalau begitu sih benar-benar tak disarankan untuk dikonsumsi ya.(dwi)

Baca juga:

Ikan Sapu-Sapu Ternyata Bisa Jadi Pupuk Organik, KKP Ungkap Potensinya

#Ikan Sapu-sapu #DKI Jakarta #Pramono Anung
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Indonesia
Investasi Jakarta Capai Rp173,6 Triliun hingga Semester I 2026, Tertinggi di Indonesia
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengungkapkan investasi Jakarta mencapai Rp173,6 triliun hingga semester I 2026 dan menjadi yang tertinggi di Indonesia.
Ananda Dimas Prasetya - Sabtu, 03 Oktober 2026
Investasi Jakarta Capai Rp173,6 Triliun hingga Semester I 2026, Tertinggi di Indonesia
Indonesia
Terinspirasi Kota Besar Dunia, Pramono Ungkap Rencana Transportasi Udara Jakarta
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyiapkan rencana transportasi jalur udara. Helikopter disebut sebagai salah satu kemungkinan moda.
Ananda Dimas Prasetya - Sabtu, 03 Oktober 2026
Terinspirasi Kota Besar Dunia, Pramono Ungkap Rencana Transportasi Udara Jakarta
Indonesia
DPRD DKI Lobi DPR soal UU DKJ, Minta 106 Kursi Dipertahankan
Usul tersebut bukan untuk menambah jumlah anggota DPRD dari 106 menjadi 180–220 kursi, melainkan untuk memastikan 106 saat ini tetap dapat dipertahankan.
Dwi Astarini - Sabtu, 03 Oktober 2026
DPRD DKI Lobi DPR soal UU DKJ, Minta 106 Kursi Dipertahankan
Indonesia
Setiap Sabtu Warga Bisa Masuk Balai Kota, Lihat Langsung Kerja Pimpinan Jakarta
Ajak masyarakat kenal lebih dekat dengan kompleks Balai Kota melalui rangkaian tur, kegiatan edukasi, seni, budaya, kuliner, komunitas, hingga layanan publik.
Dwi Astarini - Jumat, 02 Oktober 2026
Setiap Sabtu Warga Bisa Masuk Balai Kota, Lihat Langsung Kerja Pimpinan Jakarta
Indonesia
Pemprov DKI Sebut Pembangunan Giant Sea Wall Harus Libatkan Masyarakat
Pengelolaan pantura juga tidak dapat dikerjakan satu institusi mengingat kawasan ini merupakan satu bentang wilayah yang melintasi batas administratif, sektor, dan kewenangan.
Dwi Astarini - Jumat, 02 Oktober 2026
Pemprov DKI Sebut Pembangunan Giant Sea Wall Harus Libatkan Masyarakat
Indonesia
Petugas Damkar Terlibat Penipuan Rp 70 Juta, Autodipecat
Pramono mengaku telah meminta Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan untuk menindak tegas pihak yang terbukti terlibat.
Dwi Astarini - Jumat, 02 Oktober 2026
Petugas Damkar Terlibat Penipuan Rp 70 Juta, Autodipecat
Indonesia
Pemprov DKI Ajukan Dana Cadangan Daerah, Antisipasi Bayar Obligasi Daerah Jatuh Tempo
Jakarta mengajukan pembentukan dana cadangan daerah untuk memperkuat kapasitas fiskal sekaligus menjamin ketersediaan anggaran pembangunan Ibu Kota.
Dwi Astarini - Jumat, 02 Oktober 2026
Pemprov DKI Ajukan Dana Cadangan Daerah, Antisipasi Bayar Obligasi Daerah Jatuh Tempo
Indonesia
Jakarta Disebut Rumah Keberagaman, Ini Pesan Pramono di Hari Kesaktian Pancasila
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan Jakarta adalah rumah keberagaman bagi siapa pun dan meminta ASN menerapkan nilai Pancasila.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Jakarta Disebut Rumah Keberagaman, Ini Pesan Pramono di Hari Kesaktian Pancasila
Indonesia
Gubernur Pramono akan Groundbreaking Pengembangan Blok M Hub Pekan Depan
Pramono menyebut proyek kawasan berorientasi transit itu digarap PT MRT Jakarta yang akan bekerja sama dengan salah satu pengembang besar.
Dwi Astarini - Kamis, 01 Oktober 2026
Gubernur Pramono akan Groundbreaking Pengembangan Blok M Hub Pekan Depan
Indonesia
Rambah Transportasi Udara, Modal Dasar Transjakarta Ditambah Jadi Rp 13,4 Triliun
Pemprov DKI Jakarta pun berharap perubahan bentuk dan penguatan kapasitas usaha TransJakarta dapat mendukung pengembangan layanan transportasi di Jakarta hingga internasional.
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 01 Oktober 2026
Rambah Transportasi Udara, Modal Dasar Transjakarta Ditambah Jadi Rp 13,4 Triliun
Bagikan