MERAHPUTIH.COM — KALI-kali di Jakarta kini punya musuh baru selain sampah. Ikan sapu-sapu yang punya julukan ‘janitor fish’ atau ikan pembersih ini kini justru menjadi momok bagi ekosistem kali. Ikan dengan mulut layaknya penyedot di bagian tubuhnya itu tengah diburu di berbagai kali di Ibu Kota.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung bahkan memerintahkan penyedia jasa lainnya perorangan (PJLP) untuk rutin membasmi ikan sapu-sapu di ibu kota, yang saat ini sudah mengkhawatirkan. Langkah itu diambil sebagai respons atas peningkatan populasi ikan invasif tersebut yang dinilai dapat mengganggu keseimbangan ekosistem perairan di Jakarta.
"Secara khusus nanti kami akan tugaskan PJLP yang bertugas untuk itu. PJLP khusus untuk mengurangi dominasi ikan sapu-sapu," kata Pramono di Jakarta Utara, Jumat (17/4).
Ikan sapu-sapu, seperti dilansir Digitani IPB, merupakan salah satu jenis ikan yang sering dijumpai di perairan Indonesia. Genus yang mencakup jenis ikan ini antara lain Hypostosmus, Hyposarcus, dan Pterygoplichthys. Spesies yang umum ditemukan yakni Hypostosmus sp, Hyposarcus pardalis, dan Pterygoplichthys pardalis. Tak hanya namanya yang unik, bentuk dan kelakuan ikan ini juga tak kalah ajaibnya.
Berikut fakta unik ikan sapu-sapu si pembersih yang kini disikat dari kali-kali seputar Jakarta.
Berasal dari Amerika Selatan, tapi Nyasar ke Asia
Ikan sapu-sapu ini pada awalnya berasal dari kawasan sungai dengan aliran air deras dan jernih di Amerika Selatan, seperti di Argentina Utara, Paraguay, dan Uruguay. Selain itu, spesies ini juga ditemukan di Brasil bagian selatan, tepatnya di Sungai Rio Paraguay, Rio de Plate, Rio Uruguay, dan Rio Panama. Pengenalan ikan sapu-sapu ke wilayah lain, termasuk Asia, awalnya karena popularitasnya sebagai ikan akuarium. Penghobi ikan akuarium menyukai penampilan ikan sapu-sapu yang bergaris dan umurnya yang panjang. Banyak orang memelihara ikan sapu-sapu di akuarium mereka karena ikan ini memakan kotoran ikan dan berbagai jenis limbah lainnya.
Namun, beberapa ikan sapu-sapu yang kemudian dilepas ke alam liar menjadi masalah baru bagi ekosistem.
Mulut Pengisap yang Melahap Segalanya, Termasuk Telur Ikan Lain
Ikan sapu-sapu punya tubuh yang ditutupi sisik keras, tapi fleksibel, mirip baju zirah untuk perlindungan. Bentuk kepalanya pipih mirip dengan ikan lele dengan pola titik-titik putih besar di bagian abdomen. Ikan sapi-sapu memiliki sirip dorsal dengan jumlah 9 hingga 14 buah dan sirip dada yang dilengkapi dengan duri kecil seperti gigi. Ukuran tubuh ikan sapu-sapu bisa mencapai 40 cm, bahkan lebih, dengan pertumbuhan yang cukup cepat, yaitu hingga 35 cm dalam waktu dua tahun.
Mulut ikan sapu-sapu berbentuk seperti pengisap yang terletak di bagian bawah kepala. Fungsinya ialah menyedot makanan dan membersihkan permukaan yang ditempati. Mereka dapat mengisap alga, detritus, ikan-ikan kecil, tanaman air, dan sisa makanan lainnya dengan efisien.
Sebagian besar ikan sapu-sapu bersifat nokturnal, aktif mencari makanan di malam hari. Karena peran dalam mengendalikan ganggang inilah, ikan sapu-sapu sering digunakan dalam akuarium sebagai ‘pembersih alami’.
Baca juga:
Ikan Sapu-Sapu Langsung Dihancurkan, Wali Kota Jakpus: Agar tak Disalahgunakan
Ikan Penjajah yang Mudah Beradaptasi
Meski berasal dari sungai beraliran deras, ikan sapu-sapu ini sangat mudah beradaptasi, baik di air tawar maupun air payau. Ikan sapu-sapu juga mampu hidup di perairan tergenang seperti danau atau rawa-rawa.
Tak hanya itu, ikan sapu-sapu juga punya kemampuan bertahan hidup di perairan dengan kadar oksigen terlarut yang rendah. Ikan berwarna gelap ini juga tahan terhadap lingkungan tercemar, kekurangan oksigen, dan fluktuasi suhu. Itulah kenapa ikan sapu-sapu sering mendominasi habitat buatan atau tercemar. Hal itu juga membuatnya jadi salah satu spesies ikan yang sangat mudah beradaptasi.
Ikan sapu-sapu bahkan mampu bertahan hidup di sungai yang mengering, berkat kemampuannya bernapas melalui kulit dan menggeliat untuk mencari tempat tinggal baru. Ikan jenis ini juga mampu hidup hingga 30 jam di luar air jika memiliki cadangan oksigen yang cukup di perutnya. Di alam liar, mereka sering membuat lubang di dasar sungai berlumpur untuk meletakkan sekitar 300 butir telurnya. Ikan sapu-sapu ini lumayan panjang umur loh, dapat hidup 10 sampai 15 tahun.
Dengan kemampuan adaptasi nan mumpuni, tidak mengherankan jika ikan sapu-sapu kini tersebar luas di berbagai wilayah tropis di dunia, termasuk Indonesia, sebagai spesies invasif. Di beberapa daerah di Indonesia, mereka disebut ‘ikan penjajah’ atau ‘ikan alien’ karena sulit dibasmi dari sungai-sungai yang sudah mereka dominasi.
Baca juga:
Ikan Sapu-Sapu Jajah 60 Persen Sungai Jakarta, Pramono Anung Perintahkan Operasi Senyap
Bisa Dikonsumsi, tapi…
Ikan sapu-sapu punya dagingnya keras, sedikit, dan beraroma lumpur. Hal itu membuatnya jarang dipilih sebagai ikan konsumsi. Meski begitu, ada laporan beberapa masyarakat mengonsumsinya saat darurat.
Meski tidak umum dikonsumsi, ikan sapu-sapu sebenarnya dapat dimakan, asalkan berasal dari perairan bersih dan hasil budidaya. Sebaliknya, ikan yang hidup di perairan tercemar dan penuh polusi sebaiknya dihindari karena dapat berisiko bagi kesehatan jika dikonsumsi.
Nah, untuk ikan sapu-sapu yang di sungai Jakarta nih, menurut Kepala Dinas KPKP Pemprov DKI Jakarta Hasudungan A Sidabalok, tingkat pencemarannya melebihi ambang batas, termasuk ada kandungan Salmoella serta E coli serta residu logam berat. Wah, kalau begitu sih benar-benar tak disarankan untuk dikonsumsi ya.(dwi)
Baca juga:
Ikan Sapu-Sapu Ternyata Bisa Jadi Pupuk Organik, KKP Ungkap Potensinya