Sains

Es di Kutub Utara Mencair, Waktu Global akan Berubah Beberapa Detik

Hendaru Tri HanggoroHendaru Tri Hanggoro - Selasa, 02 April 2024
Es di Kutub Utara Mencair, Waktu Global akan Berubah Beberapa Detik

Pemanasan global dapat menyebabkan permasalahan lebih lanjut terkait ketepatan waktu pada masa depan. (Foto: Pexels/Valdemaras D)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Pencairan es di kutub utara berdampak pada perubahan rotasi bumi. Pada gilirannya, perubahan rotasi akan mengakibatkan bergesernya waktu global selama beberapa detik.

"Menurut sebuah makalah baru di jurnal Nature, "detik kabisat" yang akan ditambahkan keTime Coordinated Universal Time (UTC) pada 2026 kini mungkin tertunda hingga tahun 2029, karena mencairnya es di kutub," tulis newsweek.com (27/3).

Pencairan es di kutub juga berdampak pada jaringan komputer di seluruh dunia dan dapat menjadi pertanda akan terjadinya perubahan iklim serta mencairnya es laut.

Baca juga:

Polusi Sebabkan Pemanasan Global dan Kelangsungan Hidup Beruang Kutub

Komputasi jaringan dan pasar keuangan memerlukan waktu global standar yang disediakan oleh UTC. Namun, karena rotasi bumi terkadang bervariasi, UTC disesuaikan sedikit bila dibutuhkan. Demi mempertahankan kerangka waktu yang konsisten dengan rotasi bumi relatif terhadap bintang.

Faktor-faktor yang berada jauh di dalam bumi memengaruhi kecepatan sudutnya, terutama inti luar yang cair. Kecepatan sudut inti cair ini terus menurun, mengakibatkan peningkatan kecepatan sudut bumi padat, yang berarti bumi berputar sedikit lebih cepat.

Untuk mengoreksi peningkatan kecepatan sudut ini, beberapa detik kabisat telah ditambahkan ke waktu global selama beberapa dekade terakhir. Detik kabisat negatif kemudian akan ditambahkan pada 2026.

Namun, karena es laut di kutub mencair, sistem ketepatan waktu ini mulai ditinggalkan.

Baca juga:

India jadi Negara Pertama yang Mendarat di Kutub Selatan Bulan

Pencairan es di kutub telah menaikkan permukaan air laut di seluruh dunia sehingga memindahkan massa dari kutub. Ini menurunkan kecepatan sudut planet. Oleh karena itu, penambahan detik kabisat negatif akan diperlukan pada 2029.

“Mengekstrapolasi tren inti (Bumi) dan fenomena relevan lainnya untuk memprediksi orientasi Bumi pada masa depan menunjukkan bahwa UTC seperti yang didefinisikan sekarang akan memerlukan diskontinuitas negatif pada 2029,” ungkap Duncan Agnew, peneliti dari Universitas California San Diego dalam artikel jurnalnya.

Hal ini akan menimbulkan masalah yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam penentuan waktu jaringan komputer dan mungkin memerlukan perubahan UTC lebih awal dari yang direncanakan.

Pemanasan global dapat menyebabkan permasalahan lebih lanjut terkait ketepatan waktu pada masa depan. (dru)

Baca juga:

Ski di Kutub Selatan untuk Petualangan Paling Epik dalam Hidup

#Sains
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Hendaru Tri Hanggoro

Berkarier sebagai jurnalis sejak 2010 dan bertungkus-lumus dengan tema budaya populer, sejarah Indonesia, serta gaya hidup. Menekuni jurnalisme naratif, in-depth, dan feature. Menjadi narasumber di beberapa seminar kesejarahan dan pelatihan jurnalistik yang diselenggarakan lembaga pemerintah dan swasta.
Show More

Berita Terkait

Lifestyle
Penelitian Ungkap Orang Indonesia sudah Tahu Narkotika Sejak 25.000 Tahun Lalu, Teler Pakai Biji Pinang
Bukti terbaru menunjukkan biji pinang telah digunakan sebagai zat psikoaktif oleh sejumlah komunitas di Indonesia pada 25.000 tahun lalu.
Dwi Astarini - Kamis, 10 September 2026
Penelitian Ungkap Orang Indonesia sudah Tahu Narkotika Sejak 25.000 Tahun Lalu, Teler Pakai Biji Pinang
Fun
Kena Masalah Keuangan, Marmot Cari Duit di OnlyFans
Mengunggah ‘konten marmot tanpa sensor'.
Dwi Astarini - Kamis, 06 Agustus 2026
Kena Masalah Keuangan, Marmot Cari Duit di OnlyFans
Indonesia
Prodi Sains PTN Sepi Peminat, DPR: Alarm Keras bagi Masa Depan Bangsa
Habib Syarief menilai turunnya minat calon mahasiswa terhadap prodi sains di SNPMB 2026 menjadi ancaman bagi riset, inovasi, dan daya saing Indonesia.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 01 Juli 2026
Prodi Sains PTN Sepi Peminat, DPR: Alarm Keras bagi Masa Depan Bangsa
Lifestyle
Arkeolog Temukan ‘Stonehenge Mini’, Amat Mungkin Prototipenya
Para arkeolog menyebut struktur itu mungkin merupakan prototipe dalam pengembangan Stonehenge.
Dwi Astarini - Jumat, 19 Juni 2026
Arkeolog Temukan ‘Stonehenge Mini’, Amat Mungkin Prototipenya
Lifestyle
Pemanasan Bumi makin Menjadi, Dua Spesies Ikonis Kutub Terancam Punah
Status baru tersebut dipublikasikan pada Rabu (8/4) oleh International Union for the Conservation of Nature (IUCN).
Dwi Astarini - Jumat, 10 April 2026
  Pemanasan Bumi makin Menjadi, Dua Spesies Ikonis Kutub Terancam Punah
Lifestyle
Artemis II Tuntaskan Perjalanan Mengitari Bulan, Lampaui Rekor Apollo 13
Bulan tampak memenuhi jendela kapsul mereka, saat para astronaut Artemis II melaju memasuki penerbangan melintasi bulan.
Dwi Astarini - Selasa, 07 April 2026
Artemis II Tuntaskan Perjalanan Mengitari Bulan, Lampaui Rekor Apollo 13
Dunia
Setelah Setengah Abad, Manusia Kembali ke Bulan lewat Misi Artemis II
Badan antariksa Amerika Serikat NASA mengumumkan misi antariksa Artemis II akan membawa kru manusia meluncur ke bulan.
Dwi Astarini - Kamis, 02 April 2026
Setelah Setengah Abad, Manusia Kembali ke Bulan lewat Misi Artemis II
Lifestyle
Arkeolog Temukan Kerangka yang Diduga Anggota Three Musketeers D'Artaganan
Kerangka itu ditemukan terkubur di sebuah makam di depan altar Gereja St Peter and Paul di Kota Maastricht, Belanda Selatan.
Dwi Astarini - Selasa, 31 Maret 2026
Arkeolog Temukan Kerangka yang Diduga Anggota Three Musketeers D'Artaganan
Indonesia
Dikira Punah 6.000 Tahun Lalu, Possum Kecil dan Glider Muncul di Papua Barat
Penemuan seperti ini dikenal sebagai ‘lazarus taxon’, sebuah istilah yang terinspirasi dari tokoh dalam Alkitab yang dibangkitkan dari kematian.
Dwi Astarini - Jumat, 06 Maret 2026
 Dikira Punah 6.000 Tahun Lalu, Possum Kecil dan Glider Muncul di Papua Barat
Dunia
Kura-Kura Raksasa Kembali ke Pulau Galapagos, Pernah Punah Hampir 200 Tahun
Spesies asli Floreana, 'Chelonoidis niger niger', punah pada 1840-an karena pelaut mengambil mereka dari pulau tersebut untuk sumber makanan dalam pelayaran.
Dwi Astarini - Senin, 23 Februari 2026
Kura-Kura Raksasa Kembali ke Pulau Galapagos, Pernah Punah Hampir 200 Tahun
Bagikan