Merahputih.com - Fenomena El Nino 2026 memerlukan kesiapsiagaan pemerintah guna melindungi kesehatan masyarakat dari risiko penyakit akibat perubahan cuaca ekstrem dan kemarau panjang.
Peningkatan mitigasi ini berfungsi menekan lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) serta gangguan kesehatan lainnya yang muncul saat suhu meningkat drastis.
Baca juga:
Pemerintah Ngaku sudah Berpengalaman Hadapi El Nino Godzilla
Ancaman ISPA dan Dehidrasi di Musim Kemarau
Fenomena El Nino identik dengan musim kemarau panjang yang memicu berbagai persoalan medis serius bagi kelompok rentan. Selain kekeringan lahan, kondisi ini meningkatkan potensi dehidrasi dan gangguan pernapasan akibat penurunan kualitas udara.
Anggota Komisi IX DPR RI, Edy Wuryanto, mengingatkan agar seluruh pihak tidak meremehkan dampak perubahan iklim ini.
“Kita harus siap sejak awal. Dampak El Nino ini tidak hanya soal kekeringan, tetapi juga berpengaruh langsung terhadap kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan,” tegas Edy saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Selasa (7/4).
Penguatan Fasilitas Kesehatan Dasar
Langkah antisipatif dari pemerintah pusat maupun daerah menjadi kunci agar dampak kesehatan tidak meluas ke berbagai wilayah. Salah satu strategi utama melibatkan penguatan layanan kesehatan dasar pada tingkat Puskesmas guna menjamin ketersediaan logistik medis bagi warga.
Edy menekankan perlunya kesiapan tenaga medis dan stok obat-obatan yang memadai di seluruh daerah terdampak.
“Puskesmas dan fasilitas kesehatan harus disiapkan, termasuk tenaga kesehatan, obat-obatan, serta alat pelindung seperti masker,” jelas Legislator Fraksi PDI Perjuangan tersebut.
Baca juga:
Kekeringan Ekstrem El Nino Godzilla, Menteri Amran Klaim Stok Pangan RI Aman hingga 11 Bulan
Selain kesiapan fasilitas, koordinasi lintas sektor antara Kementerian Kesehatan dan pemerintah daerah harus berjalan harmonis. Masyarakat juga perlu mendapatkan edukasi masif mengenai pola hidup sehat, menjaga hidrasi tubuh, serta membatasi aktivitas luar ruangan saat polusi meningkat.
“Jangan sampai kita terlambat merespons. Mitigasi harus dilakukan sejak dini agar dampaknya bisa diminimalisir,” tutup Edy.