MerahPutih.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan, bahwa musim kemarau yang berlangsung bersamaan dengan fenomena El Nino berpotensi memicu berbagai dampak.
Mulai dari berkurangnya cadangan air hingga meningkatnya ancaman kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Indonesia.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani menyebutkan, kondisi tersebut menjadi perhatian karena berpotensi menyebabkan penurunan kelembapan tanah, terutama di kawasan lahan gambut yang mudah terbakar saat kemarau berkepanjangan.
Baca juga:
BMKG Prioritaskan Modifikasi Cuaca di 6 Provinsi
Menurutnya, terdapat enam provinsi yang menjadi wilayah prioritas dalam upaya mengantisipasi dampak tersebut, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Selain itu, Kepulauan Riau dan Aceh juga dapat menjadi lokasi penanganan sesuai perkembangan kondisi cuaca.
Faisal menjelaskan, salah satu langkah yang disiapkan adalah operasi modifikasi cuaca untuk meningkatkan curah hujan di wilayah-wilayah yang membutuhkan.
Baca juga:
Puncak Musim Kemarau Panjang, Jateng Salurkan 6,8 Juta Liter di 25 Daerah Kesulitan Air
Upaya itu tidak hanya bertujuan menjaga kelembapan lahan agar tidak mudah terbakar, tetapi juga membantu mengisi cadangan air di waduk yang dimanfaatkan untuk pembangkit listrik tenaga air (PLTA), irigasi pertanian, serta kebutuhan air bersih.
Untuk kekeringan, BMKG melakukan beberapa modifikasi cuaca bekerja sama dengan BNPB, Kementerian Kehutanan, dan sejumlah pihak lainnya untuk membantu pengisian waduk.
ujar Faisal, Rabu (29/7)
Ia menambahkan, pendekatan tersebut diharapkan mampu mengurangi risiko bencana sejak dini.
Dengan menjaga kondisi lahan tetap lembap dan memastikan ketersediaan air, potensi munculnya titik api maupun dampak kekeringan dapat ditekan sebelum berkembang menjadi bencana yang lebih besar.
Baca juga:
Ancaman El Nino 2026 Nyata, BMKG Beri Peringatan Darurat Puncak Musim Kemarau Bulan Agustus
Fenomena El Nino sendiri menjadi salah satu faktor yang dapat memperparah musim kemarau karena berpengaruh terhadap berkurangnya intensitas hujan di berbagai wilayah Indonesia.
Kondisi tersebut membuat kesiapsiagaan terhadap ancaman kekeringan dan karhutla menjadi perhatian utama pada tahun ini. (knu)

