DPR: RUU Perampasan Aset Rentan Disalahgunakan, KUHAP Jadi Tameng Hukum

Ananda Dimas PrasetyaAnanda Dimas Prasetya - Jumat, 10 April 2026
DPR: RUU Perampasan Aset Rentan Disalahgunakan, KUHAP Jadi Tameng Hukum

Gedung DPR RI. (Foto: MerahPutih.com/Dicke Prasetia)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Anggota Komisi III DPR RI, Soedeson Tandra, buka suara soal potensi Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset menjadi alat kekuasaan. Ia mengakui potensi penyalahgunaan kewenangan tetap ada, namun menegaskan hal itu bisa ditekan melalui pembahasan yang matang.

“Yang namanya potensi ya pasti ada. Tapi itu bukan hanya di perampasan aset, di mana-mana juga bisa terjadi penyalahgunaan kewenangan,” kata Soedeson di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (10/4).

Ia menjelaskan, sistem hukum Indonesia telah memberikan perlindungan kepada warga negara melalui Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP), termasuk hak untuk melawan tindakan aparat penegak hukum yang dianggap tidak sesuai.

Karena itu, menurutnya, pembahasan RUU Perampasan Aset dilakukan secara hati-hati agar tidak membuka celah penyalahgunaan. DPR, kata dia, juga akan terus mengundang berbagai ahli untuk memberikan masukan.

Baca juga:

RUU Perampasan Aset Bikin Aparat Tak Bisa Asal Sita, Penegak Hukum Jangan Lampaui Batas

Wakil Ketua Umum DPN Perhimpunan Advokat Indonesia ini menyinggung perbedaan pandangan dengan mantan pimpinan KPK Chandra Hamzah terkait unsur dalam tindak pidana korupsi. Ia tidak sepakat jika unsur kerugian negara dihapus dan hanya diganti dengan unsur fraud.

“Kalau fraud saja, itu luas sekali. Kita ingin tetap ada batasan supaya tidak semua hal bisa dikaitkan dengan korupsi,” ujarnya.

Ia mencontohkan, dalam kondisi tertentu, penggunaan anggaran yang tidak sesuai prosedur belum tentu merugikan negara. Misalnya, pengalihan dana untuk kepentingan masyarakat yang lebih mendesak.

Menurutnya, jika tidak ada kerugian negara, maka tidak tepat jika langsung dipidana sebagai korupsi. Hal ini penting untuk mencegah aparat penegak hukum bertindak terlalu luas.

“Unsur kerugian negara itu justru mempersempit ruang gerak aparat, supaya tidak semua bisa dipidana,” tegasnya.

Baca juga:

RUU Perampasan Aset Disorot, DPR Ingatkan Risiko Konflik Norma

Terkait proses pembahasan, Soedeson memastikan Komisi III masih akan terus menggelar RDPU dengan berbagai pihak. Ia menyebut, masukan dari akademisi, praktisi, hingga masyarakat masih sangat dibutuhkan.

“Di Indonesia ada ratusan universitas, belum lagi tokoh masyarakat. Kita harus dengar semua,” ujarnya.

Alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM) itu menegaskan, DPR tidak ingin terburu-buru dalam merumuskan aturan ini, namun juga tidak ingin prosesnya berlarut-larut tanpa kepastian. (Pon)

#KUHAP #RUU Perampasan Aset #DPR
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Indonesia
RUU Perampasan Aset Sasar Investasi Bodong Untuk Pulihkan Kerugian Korban
Klausul itu, menjadi kunci utama agar hakim memiliki landasan hukum yang tegas dan imperatif untuk mendahulukan pemulihan hak korban di atas kepentingan kas negara.
Alwan Ridha Ramdani - Jumat, 30 Oktober 2026
RUU Perampasan Aset Sasar Investasi Bodong Untuk Pulihkan Kerugian Korban
Indonesia
RUU Perampasan Aset Disiapkan untuk Kembalikan Uang Korban Investasi Bodong
Aset hasil tindak pidana investasi bodong diharapkan dapat dirampas dan dikembalikan kepada korban, bukan justru masuk ke kas negara.
Dwi Astarini - Jumat, 30 Oktober 2026
RUU Perampasan Aset Disiapkan untuk Kembalikan Uang Korban Investasi Bodong
Indonesia
DPR Belum Susun Draf RUU Perampasan Aset, Subtansi Baru Akan Dibahas Awal November
Sejauh ini sudah ada sebanyak 86 narasumber yang hadir menyampaikan masukan untuk RUU itu
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 28 Oktober 2026
DPR Belum Susun Draf RUU Perampasan Aset, Subtansi Baru Akan Dibahas Awal November
Indonesia
DPR Khawatir Nilai Aset Rampasan Turun, Minta Pengelolaannya Dimaksimalkan
Pengelolaannya juga perlu diperhatikan agar nilai ekonominya tidak menyusut dan potensi penerimaan negara dapat dimaksimalkan.
Dwi Astarini - Selasa, 27 Oktober 2026
DPR Khawatir Nilai Aset Rampasan Turun, Minta Pengelolaannya Dimaksimalkan
Indonesia
DPR Wanti-Wanti Kepentingan Asing Menyusup dalam Pembahasan RUU Perampasan Aset
Pembahasan regulasi tersebut harus tetap berorientasi pada kepentingan nasional, terutama dalam memperbaiki penegakan hukum di Indonesia.
Dwi Astarini - Selasa, 27 Oktober 2026
DPR Wanti-Wanti Kepentingan Asing Menyusup dalam Pembahasan RUU Perampasan Aset
Berita Foto
RDPU Komisi III dengan Mahasiswa dan Advokat Bahas RUU Perampasan Aset
Ketua Komisi III DPR Habiburokhman (kanan) dan Anggota Komisi III DPR Soedeson Tandra memimpin RDPU di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (27/10/2026).
Didik Setiawan - Selasa, 27 Oktober 2026
RDPU Komisi III dengan Mahasiswa dan Advokat Bahas RUU Perampasan Aset
Indonesia
Usul Cerdas KPK di RUU Perampasan Aset: Harta Pejabat di Luar LHKPN Bisa Dirampas Negara
KPK mengusulkan RUU Perampasan Aset agar berwenang menyita harta pejabat yang tidak dilaporkan di LHKPN. Simak ulasan dan fakta hukum lengkapnya di sini!
Wisnu Cipto - Selasa, 27 Oktober 2026
Usul Cerdas KPK di RUU Perampasan Aset: Harta Pejabat di Luar LHKPN Bisa Dirampas Negara
Indonesia
Komisi III DPR Sebut RUU Perampasan Aset Berpotensi Disahkan sebelum 15 Desember
Salah satu langkah yang ditempuh yakni memajukan jadwal rapat dengar pendapat umum (RDPU) untuk menyerap masukan dari masyarakat.
Dwi Astarini - Senin, 26 Oktober 2026
Komisi III DPR Sebut RUU Perampasan Aset Berpotensi Disahkan sebelum 15 Desember
Berita Foto
Dua Tahun Prabowo-Gibran Kebijakan Ekonomi dan Kemandirian Nasional Jadi Sorotan DPR
Anggota DPR dari Fraksi Gerindra Andre Rosiade dalam diskusi Dialektika Demokrasi, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (22/10/2026).
Didik Setiawan - Kamis, 22 Oktober 2026
Dua Tahun Prabowo-Gibran Kebijakan Ekonomi dan Kemandirian Nasional Jadi Sorotan DPR
Indonesia
Mitigasi Pemerintah Sebelum Kebakaran Lemah Dinilai Lemah
lemahnya mitigasi sebelum kebakaran turut memperparah situasi.
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 15 Oktober 2026
Mitigasi Pemerintah Sebelum Kebakaran Lemah Dinilai Lemah
Bagikan