DPR Peringatkan jangan Sampai Aset Sitaan Malah Merugikan Negara

Dwi AstariniDwi Astarini - Rabu, 23 September 2026
DPR Peringatkan jangan Sampai Aset Sitaan Malah Merugikan Negara

Anggota Komisi III DPR Adang Daradjatun/ media PKS

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MERAHPUTIH — ANGGOTA Komisi III DPR RI Adang Daradjatun mengingatkan pemerintah agar aset yang berada dalam penguasaan negara tidak justru kehilangan nilai akibat pengelolaan yang tidak optimal. Hal tersebut menjadi salah satu perhatian Adang dalam pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset Terkait Tindak Pidana.

Menurut Adang, upaya negara memulihkan aset hasil tindak pidana harus dibarengi dengan sistem pengelolaan yang jelas. Ia menilai aset bernilai ekonomi yang telah berada dalam penguasaan negara harus dijaga kondisinya selama proses hukum berlangsung. Hal itu disebabkan aset yang tidak dikelola secara tepat berpotensi mengalami penurunan nilai.
Jangan sampai aset yang seharusnya memberikan manfaat bagi negara justru kehilangan nilainya karena tidak dikelola dengan baik.

“Oleh karena itu, mekanisme pengelolaan, pengawasan, dan pertanggungjawabannya harus jelas,” ujar Adang kepada wartawan di Jakarta, Rabu (23/9).

Ia juga menekankan perlunya pembagian kewenangan yang tegas di antarlembaga-lembaga terkait. Kejelasan tersebut mencakup pihak yang menjalankan tindakan hukum, mengelola aset hingga melakukan pengawasan.

“Semua harus jelas kewenangannya. Siapa yang melakukan tindakan hukum, siapa yang mengelola aset, siapa yang melakukan pengawasan. Kalau semuanya jelas, ruang terjadinya penyalahgunaan kewenangan juga semakin kecil,” katanya.

Baca juga:

Kejagung Pamerkan Rp401 Miliar Hasil Sitaan Kasus Dugaan Korupsi Nikel


Menurut Adang, persoalan tata kelola menjadi bagian penting dalam penyusunan RUU Perampasan Aset. Regulasi tersebut tidak hanya perlu mengatur mekanisme pemulihan aset, tetapi juga memastikan aset yang telah dikuasai negara dapat dipertanggungjawabkan pengelolaannya.

Di sisi lain, Adang mengingatkan agar penguatan kewenangan negara dalam perampasan aset tetap disertai kepastian hukum dan perlindungan terhadap hak-hak yang dijamin hukum.
RUU ini penting, tapi karena menyangkut kewenangan negara terhadap aset seseorang, maka pembahasannya harus cermat.

“Kita harus memastikan ada keseimbangan antara kepentingan pemulihan aset, kepastian hukum, dan perlindungan hak,” tutur Adang yang juga mantan Wakapolri ini.


Ia mendorong agar pembahasan RUU tersebut melibatkan berbagai pihak, termasuk akademisi, praktisi hukum serta lembaga penegak hukum. Masukan dari berbagai kalangan dinilai diperlukan agar aturan yang dihasilkan dapat diterapkan secara jelas dan konsisten.
Adang menegaskan tujuan utama regulasi tersebut bukan semata-mata memberikan kewenangan kepada negara untuk mengambil alih aset.


Lebih jauh, aset yang berasal dari tindak pidana harus dapat dikembalikan manfaatnya kepada negara melalui proses yang memiliki dasar hukum dan mekanisme pertanggungjawaban yang jelas.

“Tujuan akhirnya tentu bukan sekadar merampas aset. Yang lebih penting adalah memastikan hasil tindak pidana dapat dipulihkan untuk negara melalui proses yang akuntabel dan sesuai hukum,” jelas Adang yang juga purnawirawan Polri berpangkat Komjen ini.(knu)


Baca juga:

DPR Dorong Kepastian Kerja PPPK, Sebut Jadi Aset Negara Bukan Beban Anggaran

#DPR RI #RUU Perampasan Aset #Adang Daradjatun
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Indonesia
DPR Desak Pemerintah Tindak Lanjuti Rekomendasi Pencabutan Izin 23 Korporasi
Penanganan karhutla tidak cukup hanya melalui proses pidana, tetapi juga harus menyasar izin usaha dan kewajiban pemulihan lingkungan.
Dwi Astarini - Sabtu, 31 Oktober 2026
DPR Desak Pemerintah Tindak Lanjuti Rekomendasi Pencabutan Izin 23 Korporasi
Indonesia
DPR Desak Hukuman Maksimal bagi Tersangka Karhutla, 20 Korporasi yang Terlibat Harus Tanggung Jawab
Mendesak penegakan hukum dilakukan hingga tuntas dengan menjatuhkan hukuman maksimal kepada pihak yang terbukti bersalah.
Dwi Astarini - Sabtu, 31 Oktober 2026
DPR Desak Hukuman Maksimal bagi Tersangka Karhutla, 20 Korporasi yang Terlibat Harus Tanggung Jawab
Indonesia
RUU Perampasan Aset Sasar Investasi Bodong Untuk Pulihkan Kerugian Korban
Klausul itu, menjadi kunci utama agar hakim memiliki landasan hukum yang tegas dan imperatif untuk mendahulukan pemulihan hak korban di atas kepentingan kas negara.
Alwan Ridha Ramdani - Jumat, 30 Oktober 2026
RUU Perampasan Aset Sasar Investasi Bodong Untuk Pulihkan Kerugian Korban
Indonesia
RUU Perampasan Aset Disiapkan untuk Kembalikan Uang Korban Investasi Bodong
Aset hasil tindak pidana investasi bodong diharapkan dapat dirampas dan dikembalikan kepada korban, bukan justru masuk ke kas negara.
Dwi Astarini - Jumat, 30 Oktober 2026
RUU Perampasan Aset Disiapkan untuk Kembalikan Uang Korban Investasi Bodong
Indonesia
Gatot Subroto Macet Parah, Imbas Tabrakan Tronton Depan Gedung DPR
Tabrakan truk tronton vs truk ringan patah as di depan DPR/MPR picu kemacetan panjang di Jalan Gatot Subroto arah Slipi. Cekkronologi resminya!
Wisnu Cipto - Kamis, 29 Oktober 2026
Gatot Subroto Macet Parah, Imbas Tabrakan Tronton Depan Gedung DPR
Indonesia
DPR Belum Susun Draf RUU Perampasan Aset, Subtansi Baru Akan Dibahas Awal November
Sejauh ini sudah ada sebanyak 86 narasumber yang hadir menyampaikan masukan untuk RUU itu
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 28 Oktober 2026
DPR Belum Susun Draf RUU Perampasan Aset, Subtansi Baru Akan Dibahas Awal November
Indonesia
DPR Khawatir Nilai Aset Rampasan Turun, Minta Pengelolaannya Dimaksimalkan
Pengelolaannya juga perlu diperhatikan agar nilai ekonominya tidak menyusut dan potensi penerimaan negara dapat dimaksimalkan.
Dwi Astarini - Selasa, 27 Oktober 2026
DPR Khawatir Nilai Aset Rampasan Turun, Minta Pengelolaannya Dimaksimalkan
Indonesia
DPR Wanti-Wanti Kepentingan Asing Menyusup dalam Pembahasan RUU Perampasan Aset
Pembahasan regulasi tersebut harus tetap berorientasi pada kepentingan nasional, terutama dalam memperbaiki penegakan hukum di Indonesia.
Dwi Astarini - Selasa, 27 Oktober 2026
DPR Wanti-Wanti Kepentingan Asing Menyusup dalam Pembahasan RUU Perampasan Aset
Berita Foto
RDPU Komisi III dengan Mahasiswa dan Advokat Bahas RUU Perampasan Aset
Ketua Komisi III DPR Habiburokhman (kanan) dan Anggota Komisi III DPR Soedeson Tandra memimpin RDPU di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (27/10/2026).
Didik Setiawan - Selasa, 27 Oktober 2026
RDPU Komisi III dengan Mahasiswa dan Advokat Bahas RUU Perampasan Aset
Indonesia
Usul Cerdas KPK di RUU Perampasan Aset: Harta Pejabat di Luar LHKPN Bisa Dirampas Negara
KPK mengusulkan RUU Perampasan Aset agar berwenang menyita harta pejabat yang tidak dilaporkan di LHKPN. Simak ulasan dan fakta hukum lengkapnya di sini!
Wisnu Cipto - Selasa, 27 Oktober 2026
Usul Cerdas KPK di RUU Perampasan Aset: Harta Pejabat di Luar LHKPN Bisa Dirampas Negara
Bagikan