DPR Minta RUU Ketenagakerjaan Hapus Perbudakan Modern dan Outsourcing

Angga Yudha PratamaAngga Yudha Pratama - Minggu, 03 Mei 2026
DPR Minta RUU Ketenagakerjaan Hapus Perbudakan Modern dan Outsourcing

Gedung DPR RI. (Foto: MerahPutih.com/Dicke Prasetia)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

Merahputih.com - Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani Aher, menegaskan pentingnya urgensi RUU Ketenagakerjaan dalam menciptakan ekosistem kerja yang adil dan adaptif.

Langkah legislasi ini bertujuan memangkas ketimpangan struktural serta menjamin hak-hak dasar buruh di tengah dinamika ekonomi global.

Menurutnya, aturan baru ini harus melampaui isu upah minimum dengan menyentuh aspek kepastian status kerja dan perlindungan sosial yang komprehensif.

Baca juga:

Ribuan Buruh Datangi DPR hingga Monas Hari Ini, Tuntut Penghapusan Outsourcing

Memutus Rantai Outsourcing dan Ketimpangan

Pembahasan RUU di DPR menjadi momentum krusial untuk memperbaiki standar ketenagakerjaan nasional. Netty mendorong sejumlah poin strategis, mulai dari standarisasi upah layak, pembatasan sistem outsourcing, hingga kejelasan status bagi pekerja kontrak (PKWT).

Fokus ini bertujuan memberikan rasa aman bagi jutaan tenaga kerja di Indonesia yang selama ini terjebak dalam ketidakpastian regulasi.

“RUU ini harus mampu menjawab aspirasi pekerja sekaligus memberikan kepastian hukum bagi dunia usaha,” tegas Netty pada Minggu (3/5).

Selain pekerja formal, perlindungan bagi sektor informal dan ekonomi digital turut menjadi prioritas utama. Netty menyoroti nasib pengemudi ojek online hingga freelancer yang seringkali luput dari jaring pengaman sosial. Baginya, kehadiran negara merupakan harga mati dalam melindungi setiap warga negara yang mencari nafkah.

“Negara tidak boleh absen dalam melindungi buruh,” ujarnya dengan lugas.

Buruh Sebagai Mitra Strategis Perusahaan

Seiring perubahan dunia kerja yang masif, Netty mengajak para pekerja untuk proaktif meningkatkan kompetensi diri melalui program vokasi. Keterampilan yang mumpuni menjadi senjata utama agar tenaga kerja lokal mampu bersaing dengan tenaga kerja asing. Pemerintah perlu mengoptimalkan pelatihan kerja agar relevan dengan kebutuhan industri masa depan.

“Pekerja masa depan adalah mereka yang adaptif dan terus belajar,” tambahnya.

Di sisi lain, Netty mengingatkan para pelaku usaha agar mengubah paradigma lama yang memposisikan buruh sekadar sebagai faktor produksi. Kesuksesan sebuah korporasi sejatinya berpijak pada kesejahteraan sumber daya manusianya. Hubungan industrial yang harmonis akan tercipta jika perusahaan menempatkan pekerja sebagai mitra strategis dalam mencapai pertumbuhan ekonomi jangka panjang. (Pon)

#Outsourcing #Buruh #Hak Buruh #Aksi Buruh #DPR #DPR RI
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Indonesia
DPR Desak Pemerintah Tindak Lanjuti Rekomendasi Pencabutan Izin 23 Korporasi
Penanganan karhutla tidak cukup hanya melalui proses pidana, tetapi juga harus menyasar izin usaha dan kewajiban pemulihan lingkungan.
Dwi Astarini - Sabtu, 31 Oktober 2026
DPR Desak Pemerintah Tindak Lanjuti Rekomendasi Pencabutan Izin 23 Korporasi
Indonesia
DPR Desak Hukuman Maksimal bagi Tersangka Karhutla, 20 Korporasi yang Terlibat Harus Tanggung Jawab
Mendesak penegakan hukum dilakukan hingga tuntas dengan menjatuhkan hukuman maksimal kepada pihak yang terbukti bersalah.
Dwi Astarini - Sabtu, 31 Oktober 2026
DPR Desak Hukuman Maksimal bagi Tersangka Karhutla, 20 Korporasi yang Terlibat Harus Tanggung Jawab
Indonesia
RUU Perampasan Aset Sasar Investasi Bodong Untuk Pulihkan Kerugian Korban
Klausul itu, menjadi kunci utama agar hakim memiliki landasan hukum yang tegas dan imperatif untuk mendahulukan pemulihan hak korban di atas kepentingan kas negara.
Alwan Ridha Ramdani - Jumat, 30 Oktober 2026
RUU Perampasan Aset Sasar Investasi Bodong Untuk Pulihkan Kerugian Korban
Indonesia
Gatot Subroto Macet Parah, Imbas Tabrakan Tronton Depan Gedung DPR
Tabrakan truk tronton vs truk ringan patah as di depan DPR/MPR picu kemacetan panjang di Jalan Gatot Subroto arah Slipi. Cekkronologi resminya!
Wisnu Cipto - Kamis, 29 Oktober 2026
Gatot Subroto Macet Parah, Imbas Tabrakan Tronton Depan Gedung DPR
Indonesia
DPR Belum Susun Draf RUU Perampasan Aset, Subtansi Baru Akan Dibahas Awal November
Sejauh ini sudah ada sebanyak 86 narasumber yang hadir menyampaikan masukan untuk RUU itu
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 28 Oktober 2026
DPR Belum Susun Draf RUU Perampasan Aset, Subtansi Baru Akan Dibahas Awal November
Indonesia
DPR Khawatir Nilai Aset Rampasan Turun, Minta Pengelolaannya Dimaksimalkan
Pengelolaannya juga perlu diperhatikan agar nilai ekonominya tidak menyusut dan potensi penerimaan negara dapat dimaksimalkan.
Dwi Astarini - Selasa, 27 Oktober 2026
DPR Khawatir Nilai Aset Rampasan Turun, Minta Pengelolaannya Dimaksimalkan
Indonesia
DPR Wanti-Wanti Kepentingan Asing Menyusup dalam Pembahasan RUU Perampasan Aset
Pembahasan regulasi tersebut harus tetap berorientasi pada kepentingan nasional, terutama dalam memperbaiki penegakan hukum di Indonesia.
Dwi Astarini - Selasa, 27 Oktober 2026
DPR Wanti-Wanti Kepentingan Asing Menyusup dalam Pembahasan RUU Perampasan Aset
Berita Foto
RDPU Komisi III dengan Mahasiswa dan Advokat Bahas RUU Perampasan Aset
Ketua Komisi III DPR Habiburokhman (kanan) dan Anggota Komisi III DPR Soedeson Tandra memimpin RDPU di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (27/10/2026).
Didik Setiawan - Selasa, 27 Oktober 2026
RDPU Komisi III dengan Mahasiswa dan Advokat Bahas RUU Perampasan Aset
Indonesia
Komisi III DPR Sebut RUU Perampasan Aset Berpotensi Disahkan sebelum 15 Desember
Salah satu langkah yang ditempuh yakni memajukan jadwal rapat dengar pendapat umum (RDPU) untuk menyerap masukan dari masyarakat.
Dwi Astarini - Senin, 26 Oktober 2026
Komisi III DPR Sebut RUU Perampasan Aset Berpotensi Disahkan sebelum 15 Desember
Berita Foto
Dua Tahun Prabowo-Gibran Kebijakan Ekonomi dan Kemandirian Nasional Jadi Sorotan DPR
Anggota DPR dari Fraksi Gerindra Andre Rosiade dalam diskusi Dialektika Demokrasi, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (22/10/2026).
Didik Setiawan - Kamis, 22 Oktober 2026
Dua Tahun Prabowo-Gibran Kebijakan Ekonomi dan Kemandirian Nasional Jadi Sorotan DPR
Bagikan