Merahputih.com - RUU Sisdiknas, kesehatan mental siswa, dan pendidikan spiritual menjadi sorotan utama Anggota Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih dalam upaya memperbaiki sistem pendidikan nasional.
Fikri mendesak pemerintah agar mengintegrasikan peran psikolog dan guru agama secara lebih mendalam untuk menjamin keseimbangan batiniah peserta didik di sekolah.
Baca juga:
Komisi X DPR RI Hapus Istilah Upah Minimum di RUU Sisdiknas, Gaji Guru Berpotensi Meroket
Darurat Kesehatan Mental di Lingkungan Sekolah
Kekhawatiran terhadap meningkatnya kasus gangguan mental dan fenomena bunuh diri di kalangan pelajar memicu desakan ini. Fikri menilai orientasi pendidikan saat ini masih terjebak pada aspek fisik dan intelektual semata, sehingga mengabaikan ketahanan jiwa siswa. Langkah penguatan ini merespons masukan Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) mengenai urgensi mental well-being dalam ekosistem pendidikan.
Penambahan tenaga psikolog profesional di sekolah berfungsi sebagai sistem pendukung untuk mendeteksi dini masalah psikis. Sementara itu, penguatan materi agama berperan sebagai fondasi moral dan ketenangan spiritual bagi para siswa di tengah tekanan zaman.
Melampaui Program Makan Bergizi Gratis
Fikri menekankan bahwa pendidikan nasional semestinya mengadopsi tiga dimensi nutrisi utama: Ghidzaul Jasdi (fisik), Ghidzaul Aqli (akal), dan Ghidzaul Ruhi (ruhani).
Ia mengkritik kebijakan pemerintah yang saat ini terlalu fokus pada program Makan Bergizi Gratis (MBG), namun tampak abai terhadap asupan batiniah anak didik yang jauh lebih krusial untuk mencegah tindakan fatal.
Baca juga:
"Apa gunanya dikasih makan dan pendidikan tapi siswa malah bunuh diri? Itu berarti mentalnya tidak sehat. Pendidikan itu harus mencakup tiga nutrisi: gizi fisik, gizi akal, dan gizi ruhani. Jangan hanya ribut di makanan fisik, tapi lupa siapa yang memberi makan akal dan ruh mereka," tegas Fikri.
Integrasi psikolog dan guru agama dalam RUU Sisdiknas diharapkan menjadi solusi permanen. Visi ini bertujuan menciptakan lingkungan belajar holistik yang tidak hanya mencetak manusia cerdas secara akademik, tetapi juga religius dan tangguh secara mental dalam menghadapi tantangan masa depan.