MERAHPUTIH.COM - DINAS Lingkungan Hidup (LH) DKI Jakarta mengajak seluruh penyelenggara kurban menerapkan prinsip EcoQurban pada Idul Adha 1446 Hijriah. Melalui gerakan ini, pelaksanaan kurban diharapkan berlangsung lebih bersih, sehat, dan ramah lingkungan, sekaligus menekan timbulan limbah dan pencemaran di Jakarta.
Kepala Dinas LH DKI Jakarta Dudi Gardesi mengatakan EcoQurban merupakan praktik penyelenggaraan pemotongan hewan kurban yang memperhatikan kebersihan lingkungan sejak proses penyembelihan hingga distribusi daging kepada masyarakat.
EcoQurban ini selaras dengan Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 30 Tahun 2025 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pemotongan Hewan Kurban.
Prinsip EcoQurban tidak hanya dalam proses pelaksanaannya, tetapi hingga tahap distribusi daging kurban.
Kepala Dinas LH DKI Jakarta Dudi Gardesi
Ia menjelaskan sekitar 77.436 ekor hewan kurban diperkirakan akan disembelih di Jakarta tahun ini. Jumlah tersebut berpotensi menghasilkan limbah dalam jumlah besar, mulai dari darah hewan, sisa organ dan bagian tubuh yang tidak dimanfaatkan, hingga penggunaan air yang tinggi selama proses penyembelihan dan pembersihan.
Baca juga:
Pemprov DKI Pastikan Distribusikan Daging Hewan Kurban ke Masyarakat Aman dan Halal
Menurut Dudi, setiap ekor hewan kurban membutuhkan sekitar 500 hingga 1.000 liter air untuk proses pembersihan. Selain itu, produksi daging juga memiliki jejak penggunaan air yang tinggi atau water footprint, yakni sekitar 15 meter kubik air untuk menghasilkan 1 kilogram daging sapi.
Oleh karena itu, Dinas LH menekankan pentingnya pengelolaan limbah kurban secara benar agar tidak menimbulkan pencemaran maupun penumpukan sampah selama Idul Adha berlangsung. Ia menambahkan, sesuai Pasal 8 Ayat 3 Pergub Nomor 30 Tahun 2025, DLH juga bertanggung jawab melakukan pengawasan pengelolaan sampah dan limbah di lokasi penjualan hewan kurban maupun Rumah Pemotongan Hewan (RPH) di Jakarta.
Untuk limbah cair, masyarakat diimbau tidak membiarkan darah maupun air bekas pencucian berceceran di lingkungan sekitar. Darah hewan dapat ditampung menggunakan wadah kedap air, lalu diberi desinfektan seperti kapur atau klorin agar aman terhadap lingkungan.
Air bekas pencucian daging juga perlu dipastikan tidak lagi mengandung darah agar tidak mencemari saluran air dan masih dapat dimanfaatkan, misalnya untuk menyiram tanaman.
Kepala Dinas LH DKI Jakarta Dudi Gardesi
Sementara itu, sisa organ maupun bagian tubuh hewan yang tidak dimanfaatkan ia meminta masyarakat untuk tidak membuangnya sembarangan. Jika tersedia lahan, limbah organik dapat ditimbun di tanah dengan tambahan disinfektan. Pengolahan menggunakan maggot Black Soldier Fly (BSF) juga dapat menjadi alternatif untuk mengurangi sampah organik.
Dinas LH juga mengimbau masyarakat mengurangi food waste selama pelaksanaan kurban dengan memasak sesuai kebutuhan dan menerapkan konsep prasmanan agar makanan tidak terbuang sia-sia.
Selain pengelolaan limbah, Dinas LH turut mendorong pengurangan penggunaan plastik sekali pakai saat pembagian daging kurban. Masyarakat dianjurkan menggunakan wadah ramah lingkungan seperti besek bambu, daun pisang, daun jati, maupun wadah guna ulang lainnya.
"Melalui penerapan EcoQurban ini, kami berharap pelaksanaan ibadah kurban tidak hanya membawa manfaat sosial dan keagamaan, tetapi juga menjadi momentum untuk meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan serta mengurangi timbulan sampah di Jakarta," tutupnya.(Asp)
Baca juga:
Idul Adha 2026 di Masjid Istiqlal: Jadwal Salat, Area Parkir, hingga Distribusi Daging Kurban

