Deteksi Tongue-tie pada Newborn
Masalah tongue kerap tak terdeteksi dini. (Foto: Pixabay/Pexels)
MASALAH yang umum terjadi pada bayi baru lahir ternyata bukan hanya penyakit bayi kuning saja. Ada satu kasus yang sering terjadi tapi belum banyak orang tua yang menyadari gejala umumnya, yaitu tongue-tie atau yang biasa disebut dengan kelainan lidah bayi terlalu pendek, sehingga sulit menyusu pada puting atau dot.
Lidah bayi yang terlalu pendek tidak bisa bergerak secara fleksibel dan sangat membatasi jangkauan lidah selama proses menyusu baik itu langsung maupun melalui botol susu. Kondisi tongue-tie ini akhirnya membuat bayi berisiko mengalami kurang gizi kata.
Baca Juga:
Meski demikian, sebenarnya tongue-tie tidak akan berlanjut menjadi masalah serius jika segera terdeteksi sejak bayi baru lahir. Apalagi dengan dunia medis yang semakin canggih dan modern, tongue-tie bisa diatasi dengan dua prosedur sesuai dengan tingkat keparahannya.
Selain itu, moms juga perlu mengetahui beberapa hal seputar tongue-tie. Berikut selengkapnya seperti yang ditulis oleh Mayoclinic.
1. Diagnosa dini
Untuk mengetahui apakah si kecil mengalami masalah tongue-tie, orang tua bisa memerhatikan dari gerak-gerik mulut dan lidah saat menyusu pada puting atau dot. Jika ASI atau susu formula terus menerus keluar dari sudut bibir bayi dan tubuh bayi mulai menguning serta berat badannya tak kunjung naik, sebaiknya segera periksa apakah ada kelainan pada bentuk lidah.
2. Kurang gizi
Kebanyakan bayi baru lahir mengalami kondisi kuning atau menumpuknya bilirubin dalam darah akibat kurangnya asupan ASI atau sufor. Hal ini bisa disebabkan oleh tongue-tie. Karena kesulitan menyusu, akhirnya bayi mengalami kuning dan tentu saja kurang gizi serta dehidrasi. Hati-hati ayah bunda, kurang gizi pada bayi menyebabkan angka berat badan berada di garis merah, sehingga anak berisiko mengalami stunting.
Baca Juga:
Nutrisi Tambahan Bantu Anak Bermasalah Makan Tumbuh Maksimal
3. Mengalami speech delay
Karena keterbatasan gerakan dan jangkauan lidah, tongue-tie juga berisiko menyebabkan anak mengalami speech delay atau keterlambatan bicara. Berlatih berbicara tentu saja membutuhkan fleksibilitas lidah yang bisa terangkat ke atas dan ke bawah agar bisa menyebutkan berbagai kata dengan jelas.
4. Bisa sembuh
Tenang saja, jika masalah tongue-tie segera terdeteksi, dokter akan segera memberikan solusi berupa dua pilihan prosedur sesuai dengan tingkat keparahan tongue-tie pada si kecil. Yang pertama ada prosedur frenotomi, yaitu prosedur ringan dengan memotong bagian frenulum atau lipatan mukus di bagian bawah mulut yang terhubung hingga ke bagian tengah bawah lidah.
Cara kedua adalah frenuloptosi yang memiliki prosedur hampir sama dengan frenotomi. Perbedaannya terletak pada pemberian anestesi karena bagian yang perlu dipotong lebih tebal dan membutuhkan prosedur penjahitan luka setelah operasi pemotongan selesai. Tongue-tie bukan masalah besar jika orang tua tak terlambat menyadari kondisi si kecil. (mar)
Baca Juga:
Bagikan
Berita Terkait
Program Keluarga SIGAP Dorong Perubahan Perilaku Lewat Layanan Kesehatan Primer
Usai Banjir Bandang, Warga Aceh Tamiang Banyak Alami Gangguan Kesehatan
AS Kurangi Jumlah Vaksin Wajib untuk Anak-Anak, Timbulkan Kekhawatiran Peningkatan Risiko Penyakit
Gubernur Pramono Tegaskan belum Ditemukan Super Flu di Jakarta
DPR Minta Pemerintah Gerak Cepat Antisipasi Ancaman Super Flu, Dorong Kemenkes Terbitkan Vaksin Pencegah
Waspada Super Flu, 62 Kasus Terkonfirmasi di Indonesia Terbanyak di Jawa Timur
Super Flu Masuk ke Indonesia, Kemenkes Imbau Kenali Gejala dan Terapkan Protokol Kesehatan
Teknologi Bedah Robotik Memungkinkan Tindakan Presisi untuk Kenyamanan Pasien, kini Hadir di Siloam Hospitals Kebon Jeruk
SDM Dokter belum Terpenuhi, Kemenkes Tunda Serahkan RS Kardiologi Emirate ke Pemkot Solo
Program Pemutihan BPJS Kesehatan Berlangsung di 2025, ini Cara Ikut dan Tahapannya