Peringatan Hari Kanker Dunia

Dekati Penyintas Kanker Dengan Hati Hapus Kesenjangan Perawatan

Yudi Anugrah NugrohoYudi Anugrah Nugroho - Jumat, 04 Februari 2022
Dekati Penyintas Kanker Dengan Hati Hapus Kesenjangan Perawatan

Hapus ketimpangan layanan kesehatan termasuk bagi penyintas kanker. (Unsplash- Angiola Harry)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

WORLD Cancer Day mengampanyekan Close The Care Gap para peringatan Hari Kanker Dunia (4/2). Kampanye tersebut berkaca pada data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Desember 2017, menaja setengah dari populasi dunia tidak beroleh layanan kesehatan esesnial.

Baca Juga:

Kenali Kanker Kulit Ganas Melanoma

Bahkan, lanjut data WHO, setiap tahunnya sejumlah besar rumah tangga semakin dalam terperosok jurang kemiskinan lantaran harus membayar perawatan kesehatan.

Setidaknya, ada 800 juta orang menhabiskan 10 persen anggaran tumah tangga untuk membayar biaya kesehatan, baik untuk dirinya, anaknya, atau anggota keluarga lainnya.

kanker
Penyintas kanker butuh banyak perhatian serius. (Unsplash-National Cancer Institute)

"Solusinya acakupan kesehatan universal (UHC) memungkinkan setiap orang untuk mendapatkan layanan kesehatan, kapan dan di mana mereka membutuhkannya, tanpa menghadapi kesulitan keuangan," kata Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO.

Dari data tersebut, lanjut World Cancer Day acap terjadi pada penyintas kanker. Banyak penyintas ditolak saat ingin mengakses perawatan medis esensial. "Ini merupakan kesenjangan ekuitas, dan hal tersebut mengorbankan nyawa," tulis World Cancer Day.

Penyintas kanker beroleh hambatan saat akan mengakses layanan kesehatan. Penyebabnya, ketimpangan pendapatan, pendidikan, lokasi deografis, dan diskriminasi berdasarkan etnis, ras, jenis kelamin, orientasi seksual, usia dan lainnya.

Baca Juga:

Kanker Prostat Terdeteksi Dini, Peluang Sembuh SBY Besar

"Kesenjangan menjadi kenyataan bagi semua negara di mana pun, baik berpenghasilan tinggi maupun rendah sehingga berdampak negatif pada orang-orang di semua lapisan".

Di Indonesia, implementasi hapus kesenjangan layanan kesehatan bagi penyintas kanker jadi sangat penting. Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Kementerian Kesehatan Maxi Rein Rondonuwu meminta seluruh fasilitas kesehatan dapat meningkatkan pemberian layanan deteksi dini bagi pasien penderita kanker.

kanker
Pelayanan kesehatan bagi penyintas kanker harus adil dan merata. (Unsplash-National Cancer Institute)

“Menurut saya, kita harus melakukan pencegahan di awal. Kita melakukan deteksi dini, kemudian melakukan pencegahan dengan menghilangkan faktor risiko,” kata Maxi, dalam media briefing Hari Kanker Sedunia 2022 bertajuk Close the Care Gap diikuti secara daring di Jakarta, Rabu (2/2) dikutip Antaranews.

Berdasarkan data Globocan Tahun 2020, jumlah penderita kanker di Indonesia sudah mencapai 65.858 pasien dan pada penderita kanker leher rahim (serviks) ada 36.633 pasien.

Total biaya dikeluarkan negara dalam penanganan kanker, menurut Maxi sudah mencapai Rp4,1 triliun pada Tahun 2019 dan Rp3,5 triliun pada Tahun 2020, karena banyak pasien datang ke fasilitas kesehatan dalam keadaan sudah memasuki stadium lanjut.

kanker
Kanker membutuhkan penanganan medis yang intensif. (Foto: Unsplash/National Cancer Institute)

Padahal dari 70 persen tersebut, lanjut Maxi, sepertiga sampai setengah jumlah pasien meninggal akibat kanker dapat terselamatkan dengan melakukan pencegahan melalui deteksi dini untuk menghindari terjadinya berbagai faktor risiko menyebabkan kanker.

“Tentu kita tidak melihat hanya pada masalah biaya itu, tapi masalah juga pada produktivitas kerja, karena kalau penyintas kanker ada sebanyak itu akan mengganggu produktivitas kerja,” ucap Maxi.

Namun, menurutnya, masih banyak fasilitas kesehatan belum menyediakan pelayanan deteksi dini secara maksimal. Sebagai contoh, apabila pasien berasal dari provinsi bagian Indonesia Timur ingin melakukan radioterapi, maka pasien harus datang ke Surabaya terlebih dahulu.

Bahkan, katanya, pasien harus mengantre lagi selama satu sampai dua tahun untuk benar-benar bisa mengakses layanan tersebut.

kanker
Pemerataan layanan kesehatan terhadap penyintas kanker jadi pekerjaan rumah bagi Indonesia. (Unsplash-Angiola Harry)

“Antreannya sendiri saja bisa satu sampai dua tahun. Pasien meninggal baru dapat pelayanan, tentu ini tidak boleh terjadi lagi dan harus merata penanganannya, baik kemoterapi, radioterapi ataupun yang sekarang ini dilakukan melalui imunologi bagi penanganan kanker di masa depan,” ujar dia.

Oleh sebab itu, pada peringatan Hari Kanker Sedunia pada 4 Februari 2022 bertemakan "Close the Care Gap", Maxi sangat berharap semua penderita kanker bisa mendapatkan pelayanan lebih baik, terlebih pada layanan melakukan deteksi dini.

“Saya harap momentum peringatan Hari Kanker Sedunia ini, tentu dapat meningkatkan komitmen kita bersama,” katanya. (*)

Baca Juga:

Penting, Deteksi Dini Kanker Payudara

#Pacuan Kuda Pulomas #Kesehatan #Kanker
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Dunia
Dokter Nyatakan Paus Leo tak Butuh Perawatan Lanjutan, Kanker Paru-Paru Bersifat Terlokalisasi
Hasil tes pada jaringan yang diangkat selama operasi Paus mengonfirmasi diagnosis awal dan menunjukkan bahwa kanker tersebut belum menyebar.
Dwi Astarini - Kamis, 22 Oktober 2026
Dokter Nyatakan Paus Leo tak Butuh Perawatan Lanjutan, Kanker Paru-Paru Bersifat Terlokalisasi
Indonesia
Rabu Pagi, Kualitas Udara Jakarta tidak Sehat
Kualitas udara Jakarta berada pada poin 162 dengan tingkat konsentrasi polutan PM 2,5 sebesar 71 mikrogram per meter kubik.
Dwi Astarini - Rabu, 21 Oktober 2026
Rabu Pagi, Kualitas Udara Jakarta tidak Sehat
Fun
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
We Pause We Rise menggelar Rose & Bloom untuk mengedukasi perempuan tentang perimenopause dan menopause, termasuk brain fog, kesehatan tulang, dan hipertensi.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 19 Oktober 2026
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
Indonesia
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Secara kumulatif, jumlah kasus selama Januari hingga Oktober 2026 juga lebih rendah jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Dwi Astarini - Sabtu, 17 Oktober 2026
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Lifestyle
Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Inovasi F1 telah memberikan dampak yang jauh melampaui lintasan balap.
Dwi Astarini - Kamis, 15 Oktober 2026
 Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Berita Foto
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
SPG menunjukkan tampilan antarmuka (user interface/UI) aplikasi U-Buddy saat peluncurannya di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Didik Setiawan - Rabu, 07 Oktober 2026
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
Indonesia
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
bandara dan pelabuhan internasional di Bali menerapkan peningkatan pengawasan pelaku perjalanan melalui pengawasan deklarasi kesehatan (All Indonesia - SSHP).
Dwi Astarini - Selasa, 06 Oktober 2026
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
Lifestyle
Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Berapa kali celupan yang dibutuhkan untuk memindahkan jumlah bakteri yang kira-kira sama banyaknya dengan ciuman berdurasi 10 detik?
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
 Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Indonesia
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Anak demam tinggi dan sesak napas? Peringatkan bahaya virus influenza tipe A pada anak. Segera bawa ke faskes rujukan terdekat!
Wisnu Cipto - Jumat, 02 Oktober 2026
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Lifestyle
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Dokter Paskah ungkap tiga tantangan pengobatan gagal jantung lanjut di Indonesia, mulai dari literasi masyarakat, keterbatasan dokter hingga mahalnya teknologi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Bagikan