Home Leaderboard 1
Home Leaderboard 1
Pemilu 2019

Daripada Terus Menerus Dituduh Curang, Pengamat Sarankan KPU Buka-bukaan

Eddy FloEddy Flo - Senin, 06 Mei 2019
 Daripada Terus Menerus Dituduh Curang, Pengamat Sarankan KPU Buka-bukaan

Pengamat Politik Karyono Wibowo menyarankan KPU buka-bukaan data terkait tuduhan kecurangan Pemilu 2019 (Foto: antaranews.com)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.Com - Selama penyelenggaraan Pemilu 2019, Komisi Pemilihan Umum (KPU) seringkali dituduh curang oleh pihak-pihak yang berkompetisi dalam pesta demokrasi lima tahunan itu.

Teranyar KPU tampaknya jadi bulan-bulanan dituding curang oleh kubu Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi.

Lembaga penyelenggara pemilu itu mendapat serangan masif dengan tudingan melakukan manipulasi data yang menguntungkan pasangan capres-cawapres nomor urut 01 sehingga BPN Prabowo-Sandi mendesak untuk dilakukan audit forensik terhasim sistem IT dan Sistem Informasi Perhitungan (Situng) KPU.

Atas serangan dan tuduhan tersebut, pengamat politik Karyono Wibowo menyarankan agar KPU meladeni semua serangan BPN dengan membuka seluas-luasnya data serta sistem kerja KPU.

Sebab, menurut Direktur Eksekutif Indonesia Public Institute ini serangan ke KPU sudah masuk kategori upaya untuk mendelegitimasi penyelenggara pemilu.

“Saya justru mendorong KPU untuk terbuka berdebat dan untuk adu data dengan siapapun terutama dengan kubu 02 yang selalu menuduh KPU dan Bawaslu curang. Dan mereka yang getol mendelegitimasi pemilu,” kata Karyono Wibowo kepada wartawan di Jakarta, Senin (6/5).

Enrty data pada Situng KPU
Pekerja memasukkan data ke Sistem Informasi Penghitungan (Situng) (ANTARA FOTO/Reno Esnir/wsj.)

Salah satu yang harus disikapi oleh KPU menurut Karyono adalah ketika KPU selalu dianggap curang karena selalu salah melakukan data entri terhadap Situng KPU. Baginya, KPU sebagai lembaga negara yang ditunjuk untuk menyelenggarakan Pemilu secara jujur, adil dan transparan itu tidak perlu takut. Dan sebaiknya berani adu data dengan mereka.

“Saya kira perlu dilakukan oleh KPU untuk menantang mereka buka-bukaan. Misalkan mereka menemukan salah input dalam Situng, ini harus direspon lho kesalahannya dimana, berapa itu kesalahannya, atau justru mereka yang salah. Ini penting dan saya bisa memfasilitasi itu sebanarnya,” tuturnya.

Menurut Karyono, KPU seharusnya tidak perlu takut dengan serangan semacam itu dan sebaiknya berani adu data. Apalagi dalam catatannya sendiri sejauh ini data klaim kemenangan 62 persen yang menjadi dasar Prabowo Subianto melakukan sujur syukur kemenangan sejak 17 April 2019 malam hari di Kertanegara itu juga sangat lemah dan tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

“Saya kira KPU tidak perlu takut. Karena dari klaim 62 persen itu saya bisa buktikan bahwa angka itu sangat tidak proporsional dan tidak dapat dipertanggungjawabkan. Karena data-data yang masuk ke data center yang mereka olah dalam bentuk grafik itu saja tidak proporsional,” ujarnya.

Apalagi sejauh ini data 62 persen itu bukan merupakan data real count dimana seluruh data C1 di seluruh TPS yang menyelenggarakan pemungutan suara pemilu 2019 dikumpulkan dalam tabulasi data, melainkan hanya beberapa sample data saja. Dan ini kata Karyono data mereka sangat tidak berbanding dengan data KPU.

“Karena mereka juga mengambil sebagian perolehan suara yang ada di beberapa provinsi dan kabupaten, dan hampir sama dengan quick count ya, bukan real count. Kalau mereka klaim real count, ya berapa data mereka yang masuk silahkan dibandingkan dengan data di KPU,” paparnya.

Namun demikian yang perlu menjadi catatan bagi penyelenggara pemilu, adalah bagaimana di agenda pemilu selanjutnya potensi kecurangan bisa semakin diminimalisir.

“Yang paling penting adalah bagaimana penyelenggara pemilu (KPU) mengambil tindakan terhadap pelanggaran-pelanggaran tersebut. Diharapkan pemilu ke depan tingkat kecurangannya bisa diminimalisir,” tutup Karyono Wibowo.(Knu)

#Komisi Pemilihan Umum #Pengamat Politik #Karyono Wibowo #Pemilu 2019
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Eddy Flo

Simple, logic, traveler wanna be, LFC and proud to be Indonesian
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Indonesia
Pengamat: Pola Komunikasi Pemerintahan Prabowo Kini Makin Terpusat di Lingkaran Inti Presiden
Direktur Eksekutif Citra Institute Yusak Farchan menilai pola komunikasi pemerintahan Prabowo semakin terpusat pada figur-figur di lingkaran inti Presiden.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 01 Juli 2026
Pengamat: Pola Komunikasi Pemerintahan Prabowo Kini Makin Terpusat di Lingkaran Inti Presiden
Indonesia
DPR Soroti Fenomena 'Inflasi Pengamat', Kritik Dinilai Bisa Jadi Propaganda
DPR menilai fenomena 'inflasi pengamat' relevan. Habiburokhman menyebut sebagian kritik bersifat provokatif hingga berpotensi jadi propaganda politik.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 13 April 2026
DPR Soroti Fenomena 'Inflasi Pengamat', Kritik Dinilai Bisa Jadi Propaganda
Indonesia
Perang AS-Israel vs Iran, Pengamat Minta Indonesia Tetap Netral dan Dorong Perdamaian
Perang AS-Israel vs Iran kini makin memanas. Pengamat pun meminta Indonesia agar tetap netral dan mendorong perdamaian.
Soffi Amira - Jumat, 06 Maret 2026
Perang AS-Israel vs Iran, Pengamat Minta Indonesia Tetap Netral dan Dorong Perdamaian
Indonesia
Pengamat Sebut Konflik AS-Israel vs Iran Berpotensi Jadi Krisis Global, jika Rusia dan China Terlibat
Perang antara AS-Israel vs Iran bisa menjadi krisis global, jika Rusia dan China ikut terlibat.
Soffi Amira - Kamis, 05 Maret 2026
Pengamat Sebut Konflik AS-Israel vs Iran Berpotensi Jadi Krisis Global, jika Rusia dan China Terlibat
Indonesia
Pengamat Nilai Polri di Bawah Kementerian Bisa Buka Ruang Politisasi Hukum
Wacana penempatan Polri di bawah Kementerian menjadi perdebatan. Pengamat menilai, hal itu bisa menimbulkan ruang politisasi hukum.
Soffi Amira - Rabu, 28 Januari 2026
Pengamat Nilai Polri di Bawah Kementerian Bisa Buka Ruang Politisasi Hukum
Indonesia
Soroti Putusan PTUN, Pakar Hukum Tata Negara Sebut Kepemimpinan Ketua MK Suhartoyo Ilegal
Pakar Hukum Tata Negara, Muhammad Rullyandi menyebutkan, bahwa kepimpinan Ketua Mahkamah Konstitusi, Suhartoyo, dianggap ilegal.
Soffi Amira - Kamis, 08 Januari 2026
Soroti Putusan PTUN, Pakar Hukum Tata Negara Sebut Kepemimpinan Ketua MK Suhartoyo Ilegal
Indonesia
Pengamat Nilai Candaan Prabowo soal PKB Bukan Guyonan, Ada Pesan untuk Cak Imin
Presiden RI, Prabowo Subianto, sempat bercanda soal mengawasi gerak-gerik PKB. Menurut pengamat, hal itu bukanlah guyonan semata.
Soffi Amira - Rabu, 07 Januari 2026
Pengamat Nilai Candaan Prabowo soal PKB Bukan Guyonan, Ada Pesan untuk Cak Imin
Indonesia
Nicolas Maduro Ditangkap AS, Jerry Massie Ungkap 2 Alasan Utama di Baliknya
Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, ditangkap oleh otoritas AS. Pengamat politik, Jerry Massie mengatakan, bahwa ini menjadi bukti dominasi politik dan militer AS.
Soffi Amira - Senin, 05 Januari 2026
Nicolas Maduro Ditangkap AS, Jerry Massie Ungkap 2 Alasan Utama di Baliknya
Indonesia
Pemilih Indonesia Tembus 211 Juta, KPU RI Ketok Palu Data Paling Update Semester II 2025
KPU juga menggandeng Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) untuk memvalidasi pemilih di mancanegara menggunakan Nomor Induk Kependudukan
Angga Yudha Pratama - Kamis, 18 Desember 2025
Pemilih Indonesia Tembus 211 Juta, KPU RI Ketok Palu Data Paling Update Semester II 2025
Indonesia
Publik Figur Dinilai Hiasi Bencana Sumatra dengan Narasi Menyesatkan, Pengamat: Hanya Memperpanjang Penderitaan Korban
Publik figur kini diminta untuk tidak menyebarkan narasi menyesatkan soal bencana Sumatra. Pengamat menilai, hal itu hanya memperpanjang penderitaan.
Soffi Amira - Senin, 08 Desember 2025
Publik Figur Dinilai Hiasi Bencana Sumatra dengan Narasi Menyesatkan, Pengamat: Hanya Memperpanjang Penderitaan Korban
Bagikan