Cara Mudah Memahami Fenomena Rupiah Tembus Rp14.000

Wisnu CiptoWisnu Cipto - Selasa, 15 Mei 2018
Cara Mudah Memahami Fenomena Rupiah Tembus Rp14.000

Ilustrasi. Foto: ANTARA

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Tren nilai tukar rupiah terhadap dolar kembal melemah menembus angka Rp14.012 per dolar AS saat pembukaan transaksi Selasa (15/5) ini. Padahal, kemarin rupiah sempat menguat di bawah Rp14.000, ketika ditutup di angka Rp13.963.

Fenomena pergerakan rupiah yang menyentuh angka di atas Rp14.000 per dolar AS dalam dua pekan terakhir ini merupakan titik terendah dalam 2 tahun terakhir.

Fenomena ini dianggap publik sebagai lampu merah bagi perekonomian Indonesia. Namun, faktanya rupiah pernah menyentuh angka Rp14.600 pada 2016 lalu dan akhirnya bisa kembali stabil.

Ada dua faktor utama yang memicu lemahnya rupiah, yakni dari faktor global dan kondisi perekonomian di Indonesia sendiri. Faktor global dengan adanya kebijakan Bank Sentral AS The Fed lebih berpengaruh dalam melemahnya rupiah belakangan. Sedangkan faktor internal di Indonesia sendiri lebih merupakan efek donimo dari kondisi perekonomian global itu.

Untuk lebih mudah memahami penyebab fenomena melemahnya rupiah, berikut MerahPutih.com rangkum apa saja faktor-faktornya pemicunya:

1. Efek Donimo Kenaikan Suku Bunga The Fed

The FED
Bank Sentral AS The FED. Foto: Hindustan Times


Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo menjelaskan dalam setahun ini Bank Sentral AS telah tiga kali menaikkan suku bunga Fed Fund Rate (FFR). Faktor ini mempengaruhi ekspektasi pasar global yang akhirnya mendorong penguatan dolar terhadap mata uang lainnya termasuk rupiah. "Munculnya kembali ekspektasi kenaikan suku bunga Fed Fund Rate (FFR) sebanyak lebih dari tiga kali selama 2018,” kata Agus.

Dalam bahasa awam, ketika suku bunga The Fed naik investor akan lebih banyak menanamkan modal mereka ke AS. Akibatnya, peredaran dolar global berkurang dan terkonsentrasi di tangan pemerintah AS sehngga membuat mata uang negara Paman Sam itu lebih kuat.

Faktor ini ditambahkan perang dagang (trade war) antara Tiongkok dan Amerika Serikat, yang menimbulkan ketidakpastian. Para investor mencari instrumen investasi yang dianggap aman dengan menyimpan dolar. Akibatnya dolar yang beredar dalam perdagangan dunia semakin langka dan otomatis menjadi lebih kuat ketimbang mata uang negara lain.

Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) memprediksi tekanan terhadap rupiah dan mata uang negara lain akan terus semakin kuat karena ada ekspektasi The Fed akan kembali menaikan suku bunganya pada bulan Juni. Jika benar, investor semakin berspekulasi untuk menahan dolar dan baru dilepas setelah adanya kenaikan.

"Jadi kalau Juni suku bunga The Fed naik, otomatis imbal hasil surat hutang Amerika Serikat akan lebih menarik. Dan investor akan merombak portfolio mereka dan menarik dananya ke Amerika Serikat," kata Ekonom INDEF‎ Bhima Yudhistira Adhinegar.

2. Musim Bagi-Bagi Deviden

Bursa Efek
Bursa Efek Indonesia (BEI). Foto: ANTARA

Rupiah memang biasanya melemah selama triwulan II dari Maret-Juni. Tekanan dolar AS terhadap rupiah menguat karena pada periode itu merupakan momentum bagi banyak perusahaan emiten di Bursa Efek Indonesia untuk membagikan devidennya. Apalagi, porsi kepemilikan asing di perusahaan yang melantai di BEI cukup besar.

Bila investor akan membagikan deviden, mereka akan melakukan konversi ke mata uang dolar AS sebelum dikirim ke asal negaranya. Ambil contoh, Unilever Indonesia ketika akan mengirimkan profit yang dibagikan ke perusahaan asalnya di Belanda, tentu akan menukar rupiah dengan dolar. Artinya, tentu rupiah yang dikonversi ke dolar bukan jumlah yang sedikit.

Unilever itu baru contoh satu perusahaan. Bisa dibayangkan berapa banyak aliran dolar yang keluar dari Indonesia jika diakumulasi seluruh perusahaan di BEI yang membagikan deviden selama periode ini. Jumlah dolar yang beredar di Indonesia menjadi berkurang dan membuat nilainya lebih kuat dari rupiah. "Ini memang faktor seasonal yang terjadi di setiap triwulan II," tegas Bhima


3. Lesunya Ekonomi dan Telatnya Respons BI

Gedung Bank Indonesia
Gedung Bank Indonesia. Foto: ANTARA

INDEF juga melihat melemahnya rupiah dipengaruhi sentimen negatif terhadap pengumuman pertumbuhan ekonomi yang dilakukan BPS, Senin 7 Mei 2018 lalu. Dalam pengumuman itu pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan I tahun 2018 hanya sebesar 5,06 persen. Padahal target awal pertumbuhan dipatok 5,4 persen.

Artinya, ada jarak 0,4 persen. Menurut Bhima, angka ini cukup mengkhawatirkan karena pelaku bisnis memprediksi pertumbuhan ekonomi diharapkan paling rendah menimal mencapai 5,1 persen. Apalagi, capaian itu jauh di bawah negara tetangga Vietnam yang bisa mencapai 7,3 persen.

"Akhirnya investor asing melihat ada yang salah dengan fundamental ekonomi Indonesia. Ini yang sebabkan beberapa investor bisa pulang kembali ke Amerika Serikat atau beralih ke negara-negara ASEAN lainnya," ujar dia.

Respons BI yang tidak kunjung menaikkan suku bunga acuan dalam menyingkapi kebijakan The Fed juga menjadi faktor pemicu. Suku bunga BI tidak berubah tetap 4,25 persen sejak September 2017. Efeknya masyarakat enggan menginvestasikan uang mereka ke bank karena nilai bunga yang didapat rendah, sehingga orang lebih memilih berinvestasi menyimpan dolar dengan harapan nilainya semakin kuat sehingga untung besar saat dijual.

Akibatnya perputaran transaksi rupiah secara tunai semakin tinggi di masyakarat, berbanding terbalik dengan dolar yang kian langka, sehingga melemahkan nilai tukar mata uang Indonesia.

Tren ini kian diperparah dengan memasuki bulan Ramadan dan perayaan Idul Fitri yang otomotis membuat transaksi tunai karena masyarakat lebih konsumtif jelang hari raya. "Harusnya BI segera menaikkan suku bunganya sebesar 25 sampai 50 basis poin menjelang puasa dan lebaran," ujar dia. (*)

#Mata Uang Rupiah #Rupiah Melemah
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Wisnu Cipto

Jurnalis dan penulis profesional selama dua dekade di industri media, mulai dari koran, televisi, hingga konten digital. Lulusan FISIP UI terlatih merangkai kata-kata terkait isu sosial-budaya-politik-hukum secara akurat dan relevan bagi pembaca, dengan kiblat kode etik jurnalistik dan verifikasi-verifikasi-verifikasi ... Pemegang sertifikasi kompetensi dari Lembaga Pers Dr.Soetomo (LPDS), yang coba terus belajar berkarya dengan 'hati'.
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Indonesia
Nilai Tukar Rupiah Hari Ini Tertekan Hebat, Imbas Ngerinya Kenaikan Inflasi AS di Luar Prediksi
Pantau pergerakan nilai tukar rupiah hari ini! Kurs rupiah anjlok ke Rp17.948 per dolar AS imbas melonjaknya data inflasi CPI Amerika dan ancaman suku bunga The Fed.
Angga Yudha Pratama - Kamis, 15 Oktober 2026
Nilai Tukar Rupiah Hari Ini Tertekan Hebat, Imbas Ngerinya Kenaikan Inflasi AS di Luar Prediksi
Indonesia
Akhirnya Dolar AS Keok ke Rp17.894, Simak Jurus Intervensi BI dan Efek Jatuhnya Harga Minyak Dunia
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sukses menguat tajam ke level Rp17.894! Simak faktor utamanya, mulai dari manuver berani Bank Indonesia hingga anjloknya harga minyak dunia.
Angga Yudha Pratama - Rabu, 30 September 2026
Akhirnya Dolar AS Keok ke Rp17.894, Simak Jurus Intervensi BI dan Efek Jatuhnya Harga Minyak Dunia
Indonesia
Rupiah Hari Ini Loyo ke Rp17.981, Ancaman The Fed & Harga Minyak Jadi Biang Keroknya
Nilai tukar rupiah hari ini ditutup melemah ke level Rp17.981 per dolar AS gara-gara ancaman pengetatan kebijakan The Fed dan naiknya harga minyak. Cek analisis kurs selengkapnya di sini!
Angga Yudha Pratama - Selasa, 29 September 2026
Rupiah Hari Ini Loyo ke Rp17.981, Ancaman The Fed & Harga Minyak Jadi Biang Keroknya
Indonesia
Rupiah Anjlok ke Rp18.000 per Dolar AS, Skenario Intervensi BI dan Pemicu Utamanya
Nilai tukar Rupiah hari ini tembus Rp18.000 per dolar AS. Simak penjelasan lengkap Bank Indonesia (BI) soal penyebab dolar naik tajam dan strategi intervensi pasarnya di sini!
Angga Yudha Pratama - Selasa, 29 September 2026
Rupiah Anjlok ke Rp18.000 per Dolar AS, Skenario Intervensi BI dan Pemicu Utamanya
Indonesia
Nilai Tukar Rupiah Hari Ini Melemah Tersengat Harga Minyak dan Agresivitas The Fed
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hari ini ditutup melemah imbas tingginya harga minyak dunia dan sikap hawkish The Fed. Cek analisis lengkap dan proyeksinya di sini!
Angga Yudha Pratama - Jumat, 18 September 2026
Nilai Tukar Rupiah Hari Ini Melemah Tersengat Harga Minyak dan Agresivitas The Fed
Indonesia
Efek Domino The Fed Meluas, Nilai Tukar Rupiah Hari Ini Makin Loyo
Penasaran kenapa nilai tukar rupiah hari ini kembali anjlok terhadap dolar AS? Cek analisis lengkap efek suku bunga The Fed dan prediksi pergerakan kurs rupiah di sini!
Angga Yudha Pratama - Kamis, 17 September 2026
Efek Domino The Fed Meluas, Nilai Tukar Rupiah Hari Ini Makin Loyo
Indonesia
Analisis Loyonya Rupiah Hari Ini: Dolar AS Makin Garang, Harga Minyak Bikin Mata Uang Garuda Tergelincir
Pergerakan nilai tukar rupiah hari ini kembali melemah terhadap dolar AS imbas ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan meroketnya harga minyak dunia. Cek prediksi dan analisis lengkapnya di sini!
Angga Yudha Pratama - Senin, 14 September 2026
Analisis Loyonya Rupiah Hari Ini: Dolar AS Makin Garang, Harga Minyak Bikin Mata Uang Garuda Tergelincir
Indonesia
Cek Kurs Rupiah Terhadap Dolar dan Pergerakan IHSG Hari Ini, Loyo di Awal Pekan
Cari tahu info terbaru nilai tukar rupiah hari ini terhadap dolar AS dan pergerakan IHSG yang kompak dibuka melemah di awal pekan. Cek detail kurs dan saham di sini!
Angga Yudha Pratama - Senin, 14 September 2026
Cek Kurs Rupiah Terhadap Dolar dan Pergerakan IHSG Hari Ini, Loyo di Awal Pekan
Indonesia
Pergerakan IHSG Hari Ini dan Rupiah Kompak Menghijau pada Perdagangan Rabu (9/9)
Penasaran dengan pergerakan IHSG hari ini? Kabar baik, IHSG Rabu pagi sukses menembus level 6.700 dan nilai tukar Rupiah menguat tajam menekan Dolar AS. Cek rangkuman pasarnya di sini
Angga Yudha Pratama - Rabu, 09 September 2026
Pergerakan IHSG Hari Ini dan Rupiah Kompak Menghijau pada Perdagangan Rabu (9/9)
Indonesia
Indonesia-Singapura Sepakati Transaksi Pakai Mata Uang Lokal
Pengumuman ini merupakan tindak lanjut dari Nota Kesepahaman yang ditandatangani pada Agustus 2022 dan Pedoman Operasional yang disepakati kedua bank sentral pada April 2026.
Dwi Astarini - Rabu, 02 September 2026
Indonesia-Singapura Sepakati Transaksi Pakai Mata Uang Lokal
Bagikan