Home Leaderboard 1
Home Leaderboard 1

Cara Membantu Anak Pemalu untuk Bersosialisasi

Ananda Dimas PrasetyaAnanda Dimas Prasetya - Jumat, 04 Agustus 2023
Cara Membantu Anak Pemalu untuk Bersosialisasi

Hindari label 'pemalu', beri tahu mereka bahwa kamu tahu mereka perlu waktu dalam situasi sosial. (freepik/tonodiaz)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

PAKAR perkembangan anak dan guru sekolah banyak yang melaporkan banyak anak tampak lebih pemalu setelah pandemi. Orangtua pun mengungkapkan berbagai versi dari, "Anak saya setelah COVID jadi pemalu, berbeda dari sebelum pandemi".

Semua pendapat itu merujuk pada keengganan secara umum untuk 'bersosialisasi kembali' setelah pandemi.

"Saran terbaik saya adalah mendukung anak-anak dalam bersosialisasi kembali dengan kecepatan mereka sendiri. Dukungan adalah kata yang tepat di sini, bukan dorongan," ujar Clinical Professor of Child Psychiatry Kyle Pruett, MD dari the Yale School of Medicine.

Dia menyarankan untuk mengarahkan dukungan dalam membantu anak latihan bersosialisai. Namun, bagaimana jika anak memang 'pemalu' sebelum pandemi?

Dalam artikelnya di Psychology Today, Pruett menekankan kalau menjadi pemalu bukanlah kelemahan, kerentanan, penanda harga diri yang buruk, atau masalah yang melekat.

"Ini adalah kategori perilaku dan atau temperamen sosial normal yang dimiliki oleh sekitar sepertiga dari teman sebayanya," ujarnya.

Baca juga:

Cara Mudah Bangun Kepercayaan Diri Si Kecil

Pemalu bukanlah kelemahan, kerentanan, penanda harga diri yang buruk, atau masalah yang melekat. (freepik/wirestock)

Seringkali, menurutnya, perilaku itu disertai dengan kemampuan reflektif, kesabaran, dan kesopanan yang patut ditiru. Perilaku itu bisa membuat situasi sekolah menjadi rumit, mengingat pentingnya kompetensi sosial yang lebih ekstrovert.

Namun, guru dan anak-anak lain sering melihat anak-anak yang 'pemalu' lebih kooperatif dan memiliki pengendalian diri yang lebih baik daripada teman sebayanya yang lebih ramai.

"Saya diajari — secara tidak akurat, mengingat pengalaman saya selanjutnya dengan anak-anak dan keluarga — bahwa, karena rasa malu adalah temperamen, hal itu tidak banyak berubah selama masa hidup," kata Pruett.

Dia menambahkan, orangtuanya tidak dapat berbuat banyak untuk mengubah sifat kepribadian. "Namun, ini bukan dilema bawaan vs pengasuhan; tapi mengenai bagaimana kita mengasuh orang dengan bawaan semacam itulah yang penting," Pruett menjelaskan.

Baca juga:

Disiplinkan Anak Bukan Menghukumnya

Dengan memberikan bimbingan dan dukungan, orangtua dapat membantu anak merasa nyaman bersosialisasi. (Pexels/Tom Fisk)

Berikut adalah beberapa hal yang dapat dilakukan orangtua untuk membantu anak-anak yang 'pemalu' merasa lebih nyaman dengan diri mereka sendiri:

1. Hindari label 'pemalu'. 'Gugup' juga tidak membantu. Pendiam, bijaksana, sabar, berjiwa tua, menyendiri, dan merenung adalah gambaran yang lebih menghargai tanpa beban rasa malu, kecil hati, atau kekurangan. Beri tahu mereka bahwa kamu tahu mereka perlu meluangkan waktu dalam situasi sosial, dan itu tidak masalah.

2. Hindari dorongan untuk menghindari atau melindungi mereka dari situasi yang dapat menonjolkan 'rasa malu' mereka. Dukung mereka dengan pemahaman dan harapan bahwa mereka akan mengetahui kapan dan bagaimana cara 'ikut serta dalam permainan'. Menghindari 'permainan' mengirimkan pesan bahwa mereka, sebenarnya, membutuhkan perlindungan dan tidak mampu terlibat dalam 'permainan' tersebut.

3. Dengan menggandeng anak, contohkan diri sendiri untuk bergabung dengan kelompok di mana ada orang baru. Lakukan kontak mata, tersenyum, perkenalkan dirimu. Bisa dilakukan dengan mencari bantuan, misalnya menanyakan arah, dan katakan terima kasih.

Dengan memberikan bimbingan dan dukungan, orangtua dapat membantu anak mereka yang 'pemalu' tetap nyaman dan akhirnya menemukan jalan mereka di dunia pasca pandemi. (aru)

Baca juga:

Tiongkok Usulkan Batas Dua Jam per Hari Akses Internet bagi Anak di Bawah Umur

#Parenting
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Ananda Dimas Prasetya

Penulis, editor, dan praktisi konten digital dengan latar belakang akademis di bidang jurnalistik serta pengalaman dalam penyusunan artikel berita, konten informatif, dan optimasi mesin pencari (SEO). Lulusan Fakultas Ilmu Komunikasi, Jurusan Jurnalistik, Universitas Padjadjaran (2007–2014) dengan pemahaman mendalam mengenai kaidah jurnalistik, etika media, verifikasi informasi, dan teknik penulisan profesional. Berfokus pada pengembangan konten yang mengutamakan akurasi, relevansi, dan nilai informasi bagi pembaca. Memastikan artikel disusun melalui proses riset, verifikasi sumber, dan pengolahan data cermat guna menjamin kualitas informasi yang disajikan. Berbagai topik yang menjadi perhatian meliputi pemerintahan, ekonomi, pendidikan, teknologi, budaya, hiburan (musik & film), gaya hidup, motorsports, hingga isu-isu sosial yang berkembang di masyarakat.
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Lifestyle
AIMI Ingatkan Risiko Mitos Menyusui yang tidak Berbasis Bukti
Masyarakat diharapkan lebih kritis dalam menerima informasi, terutama yang disampaikan key opinion leader (KOL) atau figur publik.
Dwi Astarini - Jumat, 31 Juli 2026
AIMI Ingatkan Risiko Mitos Menyusui yang tidak Berbasis Bukti
Indonesia
DPR Nilai Penggunaan Gawai Anak sudah Lampaui Batas, Minta Sekolah Punya Aturan Jelas
Penggunaan perangkat digital yang berlebihan dapat mengurangi interaksi sosial hingga memengaruhi kesehatan mental peserta didik.
Dwi Astarini - Rabu, 29 Juli 2026
DPR Nilai Penggunaan Gawai Anak sudah Lampaui Batas, Minta Sekolah Punya Aturan Jelas
Lifestyle
Cara Batasi Waktu Bermain Roblox Anak: Panduan Parental Control dan Blokir Jaringan
Langkah sistematis ini memastikan batas waktu bermain berjalan otomatis tanpa perlu penyitaan perangkat secara fisik
Angga Yudha Pratama - Selasa, 28 Juli 2026
Cara Batasi Waktu Bermain Roblox Anak: Panduan Parental Control dan Blokir Jaringan
Fun
S-26 Exceptional Journey Hadir di Jakarta, Ajak Orang Tua Pahami Perkembangan Otak Anak
S-26 Exceptional Journey: Journey Inside The Brain menghadirkan pengalaman edukatif imersif yang mengajak orang tua memahami perkembangan anak.
Ananda Dimas Prasetya - Sabtu, 25 Juli 2026
S-26 Exceptional Journey Hadir di Jakarta, Ajak Orang Tua Pahami Perkembangan Otak Anak
Fun
Popok Tipis Anti Bocor Bantu Dorong Kebebasan Gerak dan Tumbuh Kembang Anak
MAKUKU perkenalkan popok comfort fit. Hadirkan teknologi SAP dan 360 Leak Protection, dirancang mendukung kebebasan gerak anak.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 12 Februari 2026
Popok Tipis Anti Bocor Bantu Dorong Kebebasan Gerak dan Tumbuh Kembang Anak
Lifestyle
Bunda, Coba deh Lavender & Chamomile untuk Tenangkan Bayi Rewel secara Alami
Lavender dan chamomile kerap menjadi pilihan utama dalam praktik mindful parenting.
Dwi Astarini - Minggu, 07 September 2025
Bunda, Coba deh Lavender & Chamomile untuk Tenangkan Bayi Rewel secara Alami
Fun
Liburan Bersama Anak di Kolam Renang: Seru, Sehat, dan Penuh Manfaat
Periode libur long weekend di Agustus ini jadi saat yang tepat untuk mengunjungi kolam renang.
Ananda Dimas Prasetya - Minggu, 17 Agustus 2025
Liburan Bersama Anak di Kolam Renang: Seru, Sehat, dan Penuh Manfaat
Indonesia
Tak hanya Melarang Roblox, Pemerintah Dituntut Lakukan Reformasi Literasi Digital untuk Anak-Anak
Perlu diiringi dengan edukasi yang mencakup tiga elemen kunci yakni anak, orangtua, dan tenaga pendidik.
Dwi Astarini - Jumat, 08 Agustus 2025
Tak hanya Melarang Roblox, Pemerintah Dituntut Lakukan Reformasi Literasi Digital untuk Anak-Anak
Lifestyle
Tak Melulu Negatif, Roblox Tawarkan Manfaat Pengembangan Kreavitas untuk Pemain
Orangtua juga perlu tahu bahwa ada sisi positif dari gim daring ini.
Dwi Astarini - Jumat, 08 Agustus 2025
 Tak Melulu Negatif, Roblox Tawarkan Manfaat Pengembangan Kreavitas untuk Pemain
Lifestyle
Susu Soya, Jawaban Tepat untuk Anak dengan Intoleransi Laktosa
Ini merupakan pilihan yang bijak dan menyehatkan bagi anak-anak yang tidak bisa menoleransi susu sapi.
Dwi Astarini - Jumat, 04 Juli 2025
Susu Soya, Jawaban Tepat untuk Anak dengan Intoleransi Laktosa
Bagikan