Konglomerat Besar Korsel Dorong Karyawan untuk Memiliki Anak, Janjikan Banyak Insentif hingga Bonus Tunai

Dwi AstariniDwi Astarini - Rabu, 26 Februari 2025
 Konglomerat Besar Korsel Dorong Karyawan untuk Memiliki Anak, Janjikan Banyak Insentif hingga Bonus Tunai

Ilustrasi bayi. Foto : pexels.com (Daniel Reche)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MERAHPUTIH.COM - KOREA Selatan dalam usaha meningkatkan populasi. Sebagai bagian dari usaha itu, perusahaan-perusahaan besar Korsel semakin meningkatkan upaya mereka dalam merancang langkah-langkah dukungan yang lebih menarik bagi karyawan untuk memiliki anak. Hal itu dilatari tingkat kesuburan total negara tersebut selama beberapa tahun terakhir tetap di bawah 0,8. Itu merupakan yang terendah di antara negara-negara anggota OECD.

Selain pembayaran bonus tunai untuk karyawan yang memiliki anak, persahaan juga menawarkan berbagai manfaat kesejahteraan lainnya. Semua itu demi membantu orangtua yang bekerja merawat anak-anak mereka tanpa kesulitan.

Seperti dilansir The Korea Times, Samsung Electronics mengumumkan pada Senin (24/2) bahwa pihak manajemen dan serikat pekerja mencapai kesepakatan sementara untuk merevisi perjanjian kolektif mereka. Perjanjian baru itu memungkinkan karyawan dengan lebih dari tiga anak untuk kembali bekerja setelah mencapai usia pensiun reguler 60 tahun.

Kesepakatan terbaru ini datang setelah anggota dewan Kim Wi-sang dari Partai Kekuatan Rakyat yang berkuasa mengusulkan revisi Undang-Undang Promosi Pekerjaan untuk Lansia pada Agustus 2024. Revisi itu mendorong sektor swasta agar berupaya mempekerjakan kembali pensiunan yang memiliki keluarga besar jika mereka ingin kembali bekerja.

Jika pekerja yang tergabung dalam serikat perusahaan menerima kesepakatan sementara ini melalui pemungutan suara mendatang, Samsung Electronics akan mulai berdiskusi tentang bagaimana memperkenalkan manfaat kesejahteraan baru ini.

Baca juga:

Angka Kelahiran Korea Selatan Kembali Meningkat dalam 9 Tahun Terakhir



Perusahaan teknologi raksasa ini telah memberikan bonus tunai kepada karyawan yang memiliki anak, termasuk cuti orangtua selama dua tahun, yang lebih lama daripada minimum yang diatur hukum. Di Korea, setiap orangtua yang bekerja dapat mengambil cuti orangtua hingga 18 bulan, jika baik ayah maupun ibu mengambil setidaknya tiga bulan cuti orangtua.

Sehari sebelumnya, Doosan Group mengumumkan mereka mulai memberikan hingga 500.000 won (sekira Rp 5,7 juta) untuk setiap rekan kerja dari karyawan yang mengambil cuti orangtua lebih dari enam bulan. Konglomerat yang bergerak di bidang energi dan industri berat ini juga memutuskan untuk memungkinkan karyawan mereka mengambil cuti orangtua tambahan selama satu tahun, di luar cuti orangtua yang diwajibkan undang-undang.

Selain itu, mereka juga meningkatkan jumlah bonus tunai bagi karyawan yang memiliki anak sehingga setiap karyawan dapat menerima 3 juta won atau Rp 34 juta untuk anak pertama mereka dan tambahan 5 juta won (Rp 57 juta) untuk anak kedua. Mereka yang melahirkan anak ketiga bahkan dapat menerima tambahan 10 juta won sekitar Rp 113,5 juta. "Kami berharap langkah-langkah dukungan kami akan bermanfaat untuk daya saing perusahaan kami dalam jangka panjang," kata seorang pejabat Doosan.

Tahun lalu, Booyoung Group menarik perhatian ketika mereka mulai memberikan 100 juta won sekira Rp 1,1 miliar per kelahiran kepada karyawan mereka. Setelah pemerintah menerima permintaan Ketua Booyoung Group, Lee Joong-keun, untuk membebaskan pajak atas sumbangan perusahaan yang membantu menaikkan tingkat kelahiran, Kumho Petrochemical, Krafton, dan beberapa perusahaan lainnya juga mulai memberikan bonus tunai besar kepada karyawan mereka yang melahirkan.

"Jika tingkat kelahiran Korea tetap rendah, negara ini akan menghadapi krisis kepunahan dalam 20 tahun," kata Joong-keun pada upacara Tahun Baru Booyoung bulan ini, setelah sekali lagi menawarkan 100 juta won tahun ini kepada setiap karyawan perusahaan yang melahirkan tahun lalu.(dwi)

Baca juga:

Cegah Insiden Daejeon Terulang, Pemerintah Korea Selatan Usulkan Undang-Undang Haneul, Wajibkan Cuti bagi Pengajar dengan Gangguan Kesehatan Mental

#Korea Selatan #Populasi #Parenting #Bisnis
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Lifestyle
Karya Raya 2026, ketika Karya Bertumbuh, Anak Ikut Bertumbuh
Dengan membawa tema Garden of Kindness: Where Creativity Grows on You, Karya Raya menegaskan pertumbuhan bukan hanya tentang banyaknya karya yang dihasilkan.
Dwi Astarini - Kamis, 24 September 2026
Karya Raya 2026, ketika Karya Bertumbuh, Anak Ikut Bertumbuh
Olahraga
Nama Pelatih Persija Shin Tae-yong Terancam Dicopot dari Fasilitas Publik di Yeongdeok, Ada Apa?
Nama Shin Tae-yong di Taman Sepak Bola Shin Tae-yong, Yeongdeok, Korea Selatan, terancam diubah setelah muncul permintaan peninjauan menyusul sanksi KFA.
Frengky Aruan - Kamis, 24 September 2026
Nama Pelatih Persija Shin Tae-yong Terancam Dicopot dari Fasilitas Publik di Yeongdeok, Ada Apa?
ShowBiz
Calo Tiket BTS Mendadak Tajir Hasilkan Rp 30 Miliar, Beli Apartemen dan Dua Properti Komersial
Sang calo membeli 8.967 tiket pertunjukan dan acara olahraga populer pada September 2018 hingga April tahun ini.
Dwi Astarini - Jumat, 18 September 2026
Calo Tiket BTS Mendadak Tajir Hasilkan Rp 30 Miliar, Beli Apartemen dan Dua Properti Komersial
Dunia
Remaja China Ditangkap di Jeju, Sadap Komunikasi Menara Kontrol Bandara
Remaja itu membawa perangkat radio yang diduga digunakan untuk mendengarkan komunikasi penerbangan.
Dwi Astarini - Selasa, 15 September 2026
  Remaja China Ditangkap di Jeju, Sadap Komunikasi Menara Kontrol Bandara
Kuliner
Hoki Banget nih, Pencari Obat Temukan Ginseng Liar Senilai Rp 1,3 Miliar di Gunung Jiri
Akar-akar tersebut diidentifikasi sebagai ‘cheonjong’, ginseng liar yang tumbuh secara alami selama setidaknya 50 tahun dengan sedikit campur tangan manusia.
Dwi Astarini - Rabu, 09 September 2026
Hoki Banget nih, Pencari Obat Temukan Ginseng Liar Senilai Rp 1,3 Miliar di Gunung Jiri
Lifestyle
8 Cara Keluarga Cegah Anak Terpapar Pemahaman Kekerasan dan Radikalisme
Regulasi penggunaan sosial media pada anak di Indonesia belum seketat negara maju lainnya.
Dwi Astarini - Senin, 07 September 2026
8 Cara Keluarga Cegah Anak Terpapar Pemahaman Kekerasan dan Radikalisme
Lifestyle
JIPREMIUM 2026 Hadirkan K-Halal Pavilion kembali, Bawa Makeup Korea Besertifikat Halal
Halal Pavilion kembali hadir dalam JIPREMIUM 2026 dengan menghadirkan produk-produk asal Korea Selatan, termasuk makeup yang telah tesertifikasi halal.
Dwi Astarini - Jumat, 04 September 2026
JIPREMIUM 2026 Hadirkan K-Halal Pavilion kembali, Bawa Makeup Korea Besertifikat Halal
Indonesia
Kapal Berbobot 268 Ton Terbalik di Busan Korea Selatan, ABK WNI Ikut Hilang
Kapal tunda terbalik di Busan, Korea Selatan, menewaskan satu awak. Dua ABK WNI ikut jadi korban, satu selamat, satu masih hilang.
Wisnu Cipto - Kamis, 03 September 2026
Kapal  Berbobot 268 Ton Terbalik di Busan Korea Selatan, ABK WNI Ikut Hilang
Kuliner
Warga Korea Selatan makin Jarang Makan Kimchi, Gen Z Ternyata Kurang Doyan
Studi bersama yang dilakukan peneliti dari Chung-Ang University, Jeju National University, dan World Institute of Kimchi menunjukkan bahwa proporsi warga Korea yang mengaku tidak makan kimchi dalam 24 jam terakhir meningkat hampir dua kali lipat.
Dwi Astarini - Selasa, 25 Agustus 2026
Warga Korea Selatan makin Jarang Makan Kimchi, Gen Z Ternyata Kurang Doyan
Kuliner
Skandal Sawi Putih Berformaldehida di China Picu Kewaspadaan Korea Selatan, Parno Kimchi Beracun
Kasus ini mendorong Korea Selatan memperketat pemeriksaan terhadap impor sawi putih dari China.
Dwi Astarini - Senin, 24 Agustus 2026
Skandal Sawi Putih Berformaldehida di China Picu Kewaspadaan Korea Selatan, Parno Kimchi Beracun
Bagikan