Home Leaderboard 1
Home Leaderboard 1

Buku Wajib dan Perekrutan Acak Pelaku Teror Indonesia

Alwan Ridha RamdaniAlwan Ridha Ramdani - Jumat, 19 Maret 2021
Buku Wajib dan Perekrutan Acak Pelaku Teror Indonesia

Terduga pelalu teror di Jawa Timur. (Foto: Budi/Surabaya)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Perekrutan anggota teror masih marak di Indonesia. Terakhir, Densus 88 Polri mengamankan 22 terduga teroris di Jawa Timur. Selain itu, puluhan buku yang dinilai jadi pegangan sebagai paduan wajib dan cuci otak disita polisi.

Buku buku tersebut diantaranya karya 'Ali Ghufron (Mukhlas) dengan judul Mimpi Suci di Balik Jeruji Besi', lalu buku berjudul Sekuntum Rosela Pelipur Lara, karya Imam Samudra dan buku berjudul Tarbiyah Jihadiyah.

Mantan pentolan Jama'ah Islamiyah dan perekrut, Ali Fauzi yang juga adik kandung terpidana mati Bom Bali, Amrozi, mengataka buku Tarbiyah Jihadiyah adalah buku yang disusun berjilid-jilid oleh Abdullah Azzam saat konflik antara Afghanistan versus Uni Soviet dulu. Buku itu berisi panduan jihad secara tekstual.

Baca Juga:

Polresta Surakarta Waspadai Gerakan Terorisme

Di kalangan kelompok radikal-ekstrem, kata pendiri Yayasan Lingkar Perdamaian itu, buku Tarbiyah Jihadiyah Abdullah Azzam bukan merupakan buku pegangan wajib.

"Bukan buku wajib, tapi buku tersebut banyak jadi panduan mereka untuk memahami jihad secara tekstual. Tapi jangan salahkan bukunya. Tapi cara pandang orangnya terhadap buku itu. Kalau saya sudah khatam," lanjut Fauzi.

Disinggung mengenai pola perekrutan, Ali menyebut platform What's App adalah alat media sosial yang paling efektif untuk saat ini. Jelas berbeda dengan pola lama yang masih harus bertatap muka dalam merekrut orang.

Berdasarkan pengalamannya saat tergabung dengan kelompok teror, Ali Fauzi dan jaringannya masih menggunakan offline atau bertatap muka.

"Ada fase-fase yang harus dilewati, diantaranya pembinaan mental, pembinaan ideologi yang tidak bisa secara instan dan butuh proses. Apalagi sampai mau menjadi pelaku bom bunuh diri. Butuh waktu lama. Tidak bisa instan," sambungnya

Namun, pada generasi belasan tahun terakhir, sudah mulai berubah pola. Perekrutan dilakukan media sosial seperti facebook, instagram, telegram dan WhatsApp.

"Paham radikal disebar secara random. Sasaran yang paling kena adalah usia anak-anak atau remaja," kata Ali.

Pemahaman radikal melalui media sosial, kata Ali, muncul sejak ISIS global untuk merespon mengajak bergabung ke Suriah. Pada saat itu, pemahaman radikal disebar ke berbagai media sosial.

Hasilnya saat itu begitu efektif. Di situlah, masih kata Ali, data terimput dan tersaring. Selanjutnya, ada proses pendekatan, perekerutan lalu pembinaan.

"Nah, kalau dulu facebook. Sekarang yang paling efektif adalah whatsapp. Waktu dulu, pemahaman yang kita dapat adalah murni idiologi. Dan sekarang yang terjadi, seperti bom Surabaya beberapa waktu tahun kemarin, itu bukan murni idiologi saja. Tetapi, idiologi dan politik, kekuasaan," katanya.

Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Rusdi Hartono mengatakan, diketahui lokasi latihan ke-22 teroris asal Jatim ini di sekitar Gunung Bromo. Ke-22 teroris yang menamakan diri kelompok Fahim ini telah merencanakan sejumlah aksi terorisme dengan tujuann menebarkan rasa ketakutan di tengah masyarakat.

"Salah satu sasarannya adalah aparat keamanan, anggota Polri yang sedang bertugas di lapangan," ucap Rusdi di landasan Apron Terminal Kargo Bandara Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang, Banten, Kamis (18/3).

Ia menjelaskan, penangkapan terhadap 22 terduga teroris itu dilakukan dalam waktu yang berbeda-beda di lokasi yang berbeda-beda pula. Sejak tanggal 26 Februari sampai 2 Maret 2021 di Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, Kediri, Malang, dan Bojonegoro.

Barang Bukti Kasus Terorisme. (Foto: MP/Budi)
Barang Bukti Kasus Terorisme. (Foto: MP/Budi)

Densus 88 Antiteror juga turut mengamankan sejumlah senjata tajam dalam penangkapan para terduga teroris tersebut. Barang-barang yang disita di antaranya puluhan butir peluru, satu pistol rakitan jenis FN, pisau, dan busur panah.

Rusdi mengatakan sebelum ditangkap sejumlah anggota kelompok Fahim bertemu dengan Taufik Bulaga (TB) alias Upik Lawanga. Upik Lawanga merupakan dalang dari beberapa peristiwa teror bom, seperti Bom Pasar Tentena, Bom Pasar Maesa, Bom Gor Poso, Bom Pasar Sentral, Bom Termos Nasi Tengkura, Bom Senter Kawua, dan rangkaian aksi teror lainnya pada 2004 hingga 2006.

"Hasil keterangan mereka, beberapa kali sebelum Upik Lawanga dan kelompok ini ditangkap, mereka melakukan pertemuan," ungkap Rusdi.

Selain itu, Polisi masih mencari anggota MIT Poso berjumlah 11 orang itu. Anggota ini terbagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok berjumlah tujuh orang, dan satu kelompok lagi berjumlah empat orang. (Budi Lentara/Surabaya)

Baca Juga:

Densus 88 Perlu Gunakan Instrumen UU Terorisme Proses Dugaan Keterlibatan Oknum FPI

#Terorisme #Aksi Teror #Densus 88 #Polisi
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Alwan Ridha Ramdani

Alwan Ridha Ramdanu adalah Jurnalis kelahiran di Bandung, Jawa Barat. Sudah 20 tahun menjadi jurnalis dengan mayoritas fokus pada liputan atau menulis terkait ekonomi makro. Selain jurnalis, Alwan juga adalah pendamping petani sawit swadaya dan juga berpengalaman dalam communication dan community terkait isu keberlanjutan dan lingkungan hidup.
Show More

Berita Terkait

Indonesia
TNI AD Ngaku Belum Keluarkan Perintah Babinsa Urus Pajak Masyarakat
Surat edaran yang dikeluarkan DJP itu hanya bagian dari upaya koordinasi dan kolaborasi antarinstansi dalam menjalankan tugas negara.
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 22 Juli 2026
TNI AD Ngaku Belum Keluarkan Perintah Babinsa Urus Pajak Masyarakat
Indonesia
Ancaman Bom SDN 15 Pagi Jagakarsa di Mata Densus 88 Bukan Terorisme
Densus 88 menyatakan ancaman bom di SDN Srengseng Sawah 15 Pagi, Jagakarsa, Jakarta Selatan, tidak memenuhi unsur tindak pidana terorisme. Penanganan kasus dilimpahkan ke Polres Metro Jakarta Selatan.
Wisnu Cipto - Selasa, 14 Juli 2026
Ancaman Bom SDN 15 Pagi Jagakarsa di Mata Densus 88 Bukan Terorisme
Indonesia
Ledakan di MAN 3 Padang, Polisi Amankan Siswa Berinisial R dan Sejumlah Barang Bukti
Ledakan diduga bom rakitan terjadi di MAN 3 Padang, Sumatera Barat. Densus 88 menyebut pelaku merupakan siswa berinisial R (17).
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 14 Juli 2026
Ledakan di MAN 3 Padang, Polisi Amankan Siswa Berinisial R dan Sejumlah Barang Bukti
Indonesia
Bilang Motifnya Iseng, Pelaku Teror Bom SDN 15 Pagi Jagakarsa Akan Dites Kejiwaan
Polisi akan melakukan tes kejiwaan terhadap MY (34), pelaku teror bom SDN Srengseng Sawah 15 Jagakarsa, yang mengaku motifnya cuma iseng.
Wisnu Cipto - Senin, 13 Juli 2026
Bilang Motifnya Iseng, Pelaku Teror Bom SDN 15 Pagi Jagakarsa Akan Dites Kejiwaan
Indonesia
Teror Bom di SDN Srengseng Sawah Hoaks, Pelaku Terancam Pidana Terorisme
Penyidik kini menelusuri nomor telepon yang digunakan untuk mengirim pesan WhatsApp serta memeriksa rekaman CCTV di sekitar sekolah.
Dwi Astarini - Senin, 13 Juli 2026
Teror Bom di SDN Srengseng Sawah Hoaks, Pelaku Terancam Pidana Terorisme
Indonesia
Pelaku Teror Bom SDN Srengseng Sawah 15 Jagakarsa Ditangkap Tak Jauh dari Sekolah
Tim penyidik Polda Metro Jaya saat ini tengah memeriksa intensif terduga pelaku teror bom SDN Srengseng Sawah 15 Jagakarsa guna mengungkap motif asli tindakan tersebut
Angga Yudha Pratama - Senin, 13 Juli 2026
Pelaku Teror Bom SDN Srengseng Sawah 15 Jagakarsa Ditangkap Tak Jauh dari Sekolah
Indonesia
Polisi Periksa 3 Saksi, Kantongi Nomor Pengirim Teror Bom di SDN Srengseng Sawah 15
Polisi memeriksa tiga saksi dan telah mengantongi nomor pengirim ancaman bom ke SDN Srengseng Sawah 15, Jagakarsa.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 13 Juli 2026
Polisi Periksa 3 Saksi, Kantongi Nomor Pengirim Teror Bom di SDN Srengseng Sawah 15
Indonesia
Teror Bom di SDN Srengseng Sawah 15, Polisi Telusuri Pengirim Pesan WhatsApp
Ancaman bom melalui WhatsApp menggegerkan SDN Srengseng Sawah 15 di hari pertama sekolah. Polisi kini memburu pengirim pesan.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 13 Juli 2026
Teror Bom di SDN Srengseng Sawah 15, Polisi Telusuri Pengirim Pesan WhatsApp
Berita Foto
Petugas Polisi Berjaga Pasca Teror Bom di SDN Srengseng Sawah 15 Jakarta
Personel Polisi membawa anjing pelacak saat proses penyisiran di SDN Srengseng Sawah 15 Pagi, Jagakarsa, Jakarta, Senin (13/7/2026).
Didik Setiawan - Senin, 13 Juli 2026
Petugas Polisi Berjaga Pasca Teror Bom di SDN Srengseng Sawah 15 Jakarta
Indonesia
SDN Srengseng Sawah 15 Pagi Dapat Teror Bom, Polda Metro Jaya Minta Warga Tidak Termakan Hoaks
Warga agar tidak turut menyebarkan informasi yang belum dapat diverifikasi kebenarannya guna mencegah timbulnya keresahan di ruang publik.
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 13 Juli 2026
SDN Srengseng Sawah 15 Pagi Dapat Teror Bom, Polda Metro Jaya Minta Warga Tidak Termakan Hoaks
Bagikan