Headline

Bidang Ekonomi Masih Jadi Tantangan Terbesar Pemerintahan Jokowi-Ma'ruf

Eddy FloEddy Flo - Jumat, 26 Juli 2019
 Bidang Ekonomi Masih Jadi Tantangan Terbesar Pemerintahan Jokowi-Ma'ruf

Presiden terpilih Jokowi dan Wapres terpilih KH Ma'ruf Amin (Foto: antaranews)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.Com - Pemerintahan Jokowi-Ma'ruf bakal mendapat tantangan yang lumayan besar dalam bidang ekonomi. Meski dalam pidato Visi Indonesia, Presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) menegaskan akan menitikberatkan pada kemudahan investasi, namun hal itu bukan solusi efektif dalam meningkatkan perekonomian nasional.

Pengamat ekonomi Adhitya Wardhono PhD menyatakan tantangan ekonomi pemerintahan Jokowi-Ma'ruf masih dalam skala tinggi. Sebab, ke depan pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak dapat dipisahkan dalam pembangunan politik dalam negeri yang terpolarisasi.

Baca Juga: Pengamat Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tahun 2019 Hanya Berkisar 4,9 Persen

"Jokowi kembali sebagai presiden untuk kedua kalinya yang didampingi Ma'ruf Amin, namun tantangan ekonomi tentu akan sangat berbeda dibandingkan periode sebelumnya," ujar Adhitya di Jember, Jawa Timur, Kamis (25/7).

Pengamat ekonomi Adhitya Wardhono PhD
Pengamat ekonomi Adhitya Wardhono PhD menyebut ekonomi masih jadi tantangan terbesar pemerintahan Jokowi-Ma'ruf (Foto: antaranews)

Selama ini, lanjut pengajar Universitas Jember itu, kebijakan ekonomi Jokowi terkesan tidak populis, namun cukup meredam gonjangan eksternal dan global yang terus menerpa selama kepemimpinannya.

"Target utama pertumbuhan ekonomi akan tetap menjadi variabel penting mengingat target 7 persen belum tercapai, meskipun kondisi itu dapat dimaklumi karena faktor eksternal yaitu ekonomi global yang tidak stabil selama ini," tuturnya.

Jika dimaknai secara fair, katanya, pemerintah Jokowi mampu menghela ekonomi dengan selamat ditengah turbulensi ekonomi dunia meski hanya dikisaran pertumbuhan 5 persen.

"Tentunya kedepan tantangan ekonomi masih dalam skala tinggi yang di sebabkan perekonomian global belum menujukkan keseimbangan dan stabilitasnya," ucap pakar moneter ini.

Selain itu, kata Adhitya, di dalam negeri sendiri polarisasi yang sudah demikian dalam mengakibatkan aspek demokrasi menjadi kunci untuk diwaspadai dalam arti kondisi itu berimbas pada implementasi kebijakan-kebijakan perekonomian yang berorientasi pertumbuhan ekonomi.

"Dan tentunya pilihan kabinet yang tepat perlu dilakukan dengan selektif dalam aras yang dilematis. Artinya nuansa kabinet yang menekankan tokoh profesional di dalamnya (kabinet zaken) untuk mengejar ketinggalan ekonomi dan menerabas tantangan yang ada," ujarnya.

Atau Jokowi-Ma'ruf akomodatif terhadap polarisasi yang terjadi, sehingga diharapkan dapat meredam situasi dan lebih tenang dan ekonomi dapat berjalan meskipun mungkin tidak melaju dengan cepat.

Adhitya menjelaskan sektor internasional (ekspor-impor) harus menjadi perhatian utama Jokowi-Ma'ruf ke depan karena fluktuasi sektor itu masih rentan bagi ekonomi ke depan yang ditunjukkan transaksi neraca berjalan yang cenderung defisit dan artinya itu terus menekan akumulasi produk domestik bruto (PDB) selama ini.

Pakar moneter Universitas Jember Adhitya Wardhono
Pakar moneter Universitas Jember, Adhitya Wardhono (Foto: Antaranews)

"Terlebih belum ada kejelasan menurunnya perang dagang AS dan China, serta penolakan beberapa produk Indonesia ke Eropa," ucap dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Jember itu.

Baca Juga: Gubernur BI Perry Warjiyo Optimistis Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tahun 2019 Sesuai Target

Menurutnya seharusnya bisa dipastikan bahwa salah satu cara meredam itu adalah optimalisasi pembangunan infrastuktur yang sudah secara masif dibangun selama ini. Efisiensi ekonomi dan rendahnya high-cost economy sektor manufaktur Indonesia dapat membalikkan situasi sektor perdagangan internasional Indonesia.

"Pemerintah Jokowi-Amin juga harus memastikan inflasi tetap terjaga dan tetap rendah sehingga daya beli tetap stabil. Sinkronisasi kebjakan antara pemerintah dan pemangku moneter yaitu Bank Indonesia perlu ditingkatkan untuk memastikan fluktuasi harga terjaga sesuai yang ditargetkan," katanya.

Adhitya Wardhono sebagaimana dilansir Antara menjelaskan investasi harus terus digenjot untuk memastikan kualitas pertumbuhan ekonomi karena pertumbuhan ekonomi Indonesia masih mengandalkan sektor konsumsi dan investasi, sehingga ke depan investasi akan menjadi tumpuan.

"Pekerjaan rumah Jokowi-Ma'ruf di bidang ekonomi juga terkait rendahnya tax ratio menjadi masalah dalam penerimaan APBN karena pajak masih menjadi andalan, namun tax ratio-nya masih dalam kisaran 10-11 persen, padahal idealnya pada posisi 16 persen seperti target RPJMN 2019," tutupnya.(*)

Baca Juga: Genjot Pertumbuhan Ekonomi, Menkeu Sri Mulyani Tantang Jateng Lampaui Target Nasional

#Pertumbuhan Ekonomi #Pertumbuhan Ekonomi Indonesia #Joko Widodo #KH Ma'ruf Amin
Bagikan
Ditulis Oleh

Eddy Flo

Simple, logic, traveler wanna be, LFC and proud to be Indonesian

Berita Terkait

Indonesia
Porsi Pekerja Berpendidikan Tinggi di Jakarta Masih Relatif Terbatas
Pemerintah DKI Jakarta berkomitmen untuk terus memantau dan mengimplementasikan strategi yang mendukung pertumbuhan inklusif
Alwan Ridha Ramdani - Minggu, 08 Februari 2026
Porsi Pekerja Berpendidikan Tinggi di Jakarta Masih Relatif Terbatas
Indonesia
Ekonomi Jakarta 2025 Tumbuh 5,21 Persen, Pramono: Insentif dan Kolaborasi Jaga Daya Beli
BPS mencatat ekonomi Jakarta tumbuh 5,21 persen sepanjang 2025, melampaui rata-rata nasional. Konsumsi rumah tangga, sektor pariwisata, dan insentif pajak menjadi pendorong utama.
Ananda Dimas Prasetya - Sabtu, 07 Februari 2026
Ekonomi Jakarta 2025 Tumbuh 5,21 Persen, Pramono: Insentif dan Kolaborasi Jaga Daya Beli
Indonesia
Menteri Purbaya Yakin Pertumbuhan Ekonomi Capai 6 Persen di 2026, Ini Yang Bakal Dilakukan
Purbaya menilai kinerja pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV-2025 menunjukkan perbaikan yang cukup jelas dibandingkan periode sebelumnya.
Alwan Ridha Ramdani - Jumat, 06 Februari 2026
Menteri Purbaya Yakin Pertumbuhan Ekonomi Capai 6 Persen di 2026, Ini Yang Bakal Dilakukan
Indonesia
BPS Catat Pertumbuhan Ekonomi 5,39 Persen di Kuartal IV 2025, Konsumsi Rumah Tangga Dominan
BPS mencatat konsumsi rumah tangga tumbuh 5,11 persen pada kuartal IV 2025 dan menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 05 Februari 2026
BPS Catat Pertumbuhan Ekonomi 5,39 Persen di Kuartal IV 2025, Konsumsi Rumah Tangga Dominan
Indonesia
Sepanjang 2025 Ekonomi Tumbuh 5,11 Persen, Jawa Masih Mendominasi
Lapangan Usaha Transportasi dan Pergudangan mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 8,98 persen.
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 05 Februari 2026
Sepanjang 2025 Ekonomi Tumbuh 5,11 Persen, Jawa Masih Mendominasi
Indonesia
Dikaitkan Kasus Korupsi Kuota Haji, Jokowi: Kerja Menteri Pasti dari Kebijakan Presiden
Jokowi mengatakan, "Tetapi tidak ada yang namanya perintah, tidak ada yang namanya arahan (menteri) untuk korupsi, nggak ada".
Frengky Aruan - Sabtu, 31 Januari 2026
Dikaitkan Kasus Korupsi Kuota Haji, Jokowi: Kerja Menteri Pasti dari Kebijakan Presiden
Indonesia
Target Purbaya Pertumbuhan Ekonomi 6 Persen Bakal Sulit Tercapai, Ini Alasanya
Centre for Strategic and International Studies (CSIS) mewanti-wanti target pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen tahun 2026 berisiko tidak tercapai apabila persoalan fiskal tidak segera dibenahi
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 21 Januari 2026
Target Purbaya Pertumbuhan Ekonomi 6 Persen Bakal Sulit Tercapai, Ini Alasanya
Indonesia
Defisit Anggaran Capai Rp 695 Triliun, Airlangga Yakin Ekonomi Kuartal 4 Tumbuh Tinggi
Airlangga optimistis pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV 2025 akan menjadi yang tertinggi dibandingkan kuartal sebelumnya.
Alwan Ridha Ramdani - Jumat, 09 Januari 2026
Defisit Anggaran Capai Rp 695 Triliun, Airlangga Yakin Ekonomi Kuartal 4 Tumbuh Tinggi
Indonesia
[HOAKS atau FAKTA]: Anwar Usman Vonis Jokowi Bersalah karena Palsukan Ijazahnya
Beredar informasi yang menyebut Jokowi divonis bersalah oleh Hakim MK Anwar Usman karena telah melakukan pemalsuan ijazah.
Ananda Dimas Prasetya - Sabtu, 03 Januari 2026
[HOAKS atau FAKTA]: Anwar Usman Vonis Jokowi Bersalah karena Palsukan Ijazahnya
Indonesia
[HOAKS atau FAKTA]: Jokowi Ditetapkan sebagai Bencana Nasional oleh Pemerintah
Beredar unggahan yang menyebut pemerintah telah menetapkan Jokowi sebagai bencana nasional. Cek fakta dan keaslian informasinya.
Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 19 Desember 2025
[HOAKS atau FAKTA]: Jokowi Ditetapkan sebagai Bencana Nasional oleh Pemerintah
Bagikan