Begini Kelemahan Sosialisasi Kebijakan Publik Oleh Buzzer
Ilustrasi Buzzer. (Foto: www.langitamaravati.com).
MerahPutih.com - Penggunaan influencer dan artis atau bahkan buzzer yang hanya bermodal pengikut di media sosial, untuk kampanyekan kebijakan pemerintah atau kebijakan publik dinilai kurang tepat. Penggunaan influencer mengandung lebih banyak sisi kelemahan atau lebih banyak cost daripada benefit.
Influencer dinilai kurang memahami kebijakan yang mereka sampaikan. Selain itu, penggunaan influencer untuk sosialisasi kebijakan publik hanya untuk menarik minat dan daya tarik masyarakat dan masyarakat tidak benar-benar memahami kebijakan yang disampaikan.
"Masyarakat lupa bahwa apa yang disampaikan (kebijakan) itu, malah warga nanti jadi menonton artisnya. Melihat pakaiannya, penampilannya, seksinya, tampannya, (dan) bukan persoalan kebijakannya. Padahal yang seharusnya disampaikan kan kebijakannya," ungkap Pengamat kebijakan publik, Trubus Rahadiansyah.
Baca Juga:
Pakai Influencer Sosialisasikan Programnya, Pemerintah Dinilai Tak Percaya Diri
Ia menegaskan, kondisi tersebut, menyebabkan banyak informasi yang menjadi tidak jelas dan tidak komprehensif karena tidak disampaikan oleh pihak yang tepat.
"Jadi kalau kebijakan, ini memang membutuhkan orang-orang yang punya kapasitas di situ, (misalnya) RT, RW, Lurah, kemudian tokoh-tokoh agama, tokoh-tokoh kemasyarakatan, kemudian akademisi, mahasiswa. Itu karena tentu akan lebih menguntungkan," jelas Trubus kepada wartawan yang dikutip di Jakarta, Minggu (23/8).
Ia juga merasa efektif sosialisasi oleh influencer yang tidak memiliki kapasitas cukup mengkampanyekan kebijakan publik pemerintah, malah informasi yang disampaikan menjadi menyesatkan dan akhirnya tentunya pemborosan anggaran.
"Tidak efektif juga untuk menginformasikan atau melakukan sosialisasi terkait kebijakan-kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah. Itu masalahnya," ujar pengajar dari Universitas Trisakti ini.
Trubus meminta pemerintah transparan dalam penggunaan influencer, karena selama ini, tidak ada penjelasan secara terbuka terkait siapa-siapa saja influencer yang digunakan oleh pemerintah untuk sosialisasi.
"Hal ini perlu diungkap karena uang yang digunakan untuk membayar influencer merupakan uang negara," katanya. (Knu)
Baca Juga:
Media dan Aktivis Diretas, Polisi Harus Usut Tanpa Diskriminasi
Bagikan
Alwan Ridha Ramdani
Berita Terkait
Begini Perkembangan Kasus Teror ke Konten Kreator dan Influencer DJ Donny
Teror Influencer Jadi Sorotan, Mensesneg Ingatkan Etika Menyampaikan Kritik
DPR Ingatkan Kritik Dijamin Konstitusi, Teror Influencer Harus Diusut
Teror ke Influencer Harus Diusut Tuntas, Jangan Buru-buru Salahkan Pemerintah, Minta Menteri HAM Natalius Pigai
Rumah DJ Donny Dilempari Bom Molotov, Teror Berlanjut Usai Ancaman Bangkai Ayam
Jelang Penetapan UMP 2026, DPR Tekankan Keseimbangan Kepentingan Pekerja dan Pengusaha
DPR Usul Buzzer Bisa Langsung Diusut Tanpa Aduan, Revisi UU ITE Kembali Diungkapkan
Aturan Ketat dan Sertifikat Profensi Influencer di China, DPR: Indonesia Perlu Langkah Serupa untuk Lindungi Publik
Presiden Prabowo Berencana Pangkas Jumlah BUMN Jadi 200, Targetkan Standar Bisnis Internasional
Jerome Polin Bongkar Praktik Buzzer Berbayar Fantastis dan Misi Rahasia untuk Redam Demo Tunjangan DPR 2025