MerahPutih Nasional- Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo baru saja mengumumkan kenaikan harga BBM pada Senin 17/11 kemarin. Hal ini mendapatkan kritikan pedas dari rakyat kecil seperti, tukang becak, supir taksi dan pedagang bensin eceran serta karyawan SPBU. Inilah liputan MerahPutih.com.
Sebelum dan sesudah diumumkannya harga kenaikan BBM, terlihat antrean panjang di jalan raya Bogor KM 29, Yonif 201. Para pengemudi roda empat dan penunggang motor rela mengantre sepanjang satu kilometer demi mendapatkan Premium dengan harga sebelum kenaikan, Rp 6.500.
Tony (35) pengendara mobil pribadi mengatakan, lumayan bedanya Rp 2.000. Malam itu ia mengantre untuk mengisi tangki bensinnya hingga full. “Bisa hemat Rp 50 ribu," jelas pria yang baru pulang kantor ini.
Keluhan yang sama juga dirasakan Andi (24) supir angkot 37 jurusan Kp Rambutan-Citeureup. Menurutnya kebijakan pemerintah menaikan harga BBM ini terlalu mendadak. Akibatnya, akan berpengaruh pada setoran dan penghasilan para sopir angkot seperti dirinya. "Kalau pegawai mah enak bang bisa naik gajinya. Lah kalau saya bagaimana? Mau giat narik dari pagi sampai malam sama aja bang,” ujar pria yang baru menikah ini.
Begitu juga dengan supir taksi, Sunarmo (54). Ia sangat menyayangkan harga BBM harus naik lagi. “Sekarang saja saya sudah susah cari nafkah, apalagi harga premium naik Rp 2.000 tambah sulit saja deh,” celetuknya dengan nada keras.
Hal yang sama juga dipahitkan Marmo (58), seorang pengayuh becak. Ia merasa aneh dengan kebijakan ini. “Kan pak Jokowi baru saja dipilih rakyat, kenapa beliau menaikkan bensin ya. Mana pembelaan beliau kepada saya, yang rakyat kecil ini,” kata bapak beranak tiga itu.
BBM Naik, Gaji Karyawan SPBU Tak Naik
Menurut Manda, Kepala SPBU Gandaria Yonif 201, pihaknya sudah menerima kabar akan adanya kenaikan BBM. Karenanya ia menjamin stok BBM tidak akan kurang. Saat itu karyawan yang ditugaskan delapan orang dengan dua orang Kepala Shift.
“Tidak kerepotan kok mas melihat antrean panjang seperti ini. Sudah biasa bagi saya. Harga BBM naik tetapi gaji saya tidak naik. Saya yakin, besoknya harga sembako akan naik pula, ”kata karyawan yang tidak ingin disebutkan namanya.
Lalu, bagaimanakah dengan pedagang eceran Premium? Ridwan, seorang pedagang eceran yang ditemui di kawasan Jakarta Timur mengatakan, ia sangat bingung dengan bensin yang akan dijualnya lagi kepada konsumen. “Sebelum naik saja saya sudah menjual bensin Rp 8.500 apalagi sekarang setelah naik, berapa yang harus saya jual? Mungkin Rp 9.500 hingga Rp 10 ribu,” katanya sambil menggelengkan kepala.