Banyak Yatim Piatu di Tengah Pandemi, Kak Seto: Jangan Sampai Dibiarkan
Seto Mulyadi saat di wawancarai tim Merahputih.com di restoran QQ Kopitiam Pejaten Jakarta, Minggu, (16/3). Merahputih.com / Rizki Fitrianto
MerahPutih.com - Ribuan anak di Indonesia banyak yang menjadi yatim piatu lantaran kedua orang tua mereka meninggal karena COVID-19.
Di Jawa Timur misalnya, ada 6.000 lebih anak yang ditinggal orang tua mereka akibat virus corona.
Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia Seto Mulyadi atau Kak Seto mengatakan, berbagai pihak harus ikut bahu membahu menangani masalah ini. Jangan sampai membiarkan.
Baca Juga:
Kemensos Usulkan Rp 11 Triliun Dana Untuk Perlindungan Anak Yatim Piatu
"Peran negara dan masyarakat khususnya lingkungan RT sangat dibutuhkan," ujar Kak Seto saat dikonfirmasi Merahputih.com melalui selulernya, Jumat (27/8).
Dijelaskannya, anak yatim setelah ditinggal kedua orang tua tentu ada perubahan secara psikologis.
Lebih-lebih pada saat pandemi, banyak orang tua asuh secara dadakan. Ada orang kaya yang mengangkat sebagai anak dan menjadi orang tua asuh. Ada polisi yang menjadi orang tua asuh, ada pula kerabatnya yang terpaksa menjadi orang tua asuh dari keponakan.
Di antara banyak orang tua asuh, lanjut Kak Seto, paling bagus adalah diasuh oleh kerabat atau keluarga terdekat. Sebab, anak tersebut tidak memulai dari awal untuk saling mengenal. Apalagi, keluarga terdekat tentu sudah mengetahui karakter anak yang baru saja ditinggal oleh orang tuanya itu.
"Bagaimana pola cara mengasuh anak yang baru ditinggal orang tuanya? Sebenarnya sama saja dengan mengasuh anak sendiri. Lebih-lebih jangan membedakan, jangan ada diskriminasi antara anak asuh dengan anak kandung," lanjutnya.
Memang, masih kata Kak Seto, tidak semua kerabat atau keluarga terdekat mempunyai finansial atau kecukupan ekonomi untuk membantu saudaranya. Maka dari itu, di situ peran negara melalui dinas terkait dibutuhkan. Mereka harus memenuhi kebutuhan yang belum terselesaikan.
Kak Seto juga menjelaskan, lingkungan rukun tetangga, rukun warga juga wajib membantu, dan tidak membiarkan begitu saja.
"Pihak swasta juga harus mau membantu. Peran pemerintah juga tidak boleh diam. Pemerintah juga harus memantau anak-anak yatim itu yang diasuh oleh keluarga terdekatnya. Turunkan psikolog, lindungi anak-anak dengan kebutuhan ekonominya, pendidikannya, karena masalah anak seperti mereka adalah tanggung jawab kita semua," sambungnya.
Baca Juga:
Pemprov DKI Jakarta Izinkan Sekolah Laksanakan PTM Hingga Januari 2022
Selain masalah anak yatim piatu di masa pandemi, pemerintah dan lingkungan rukun tetangga diharapkan tidak lupa dengan kondisi anak yang ditinggal orang tuanya menjalani isolasi.
"Orang tua yang menjalani isolasi, anak-anaknya harus mendapat perhatian. Ini terutama di lingkungan RT. Mereka tidak boleh dikucilkan. Kalau memang ada rasa takut karena kuatir COVID-19, berkoordinasi saja dengan satgas setempat. Pasti ada solusinya, tidak boleh dibiarkan," tutup Kak Seto. (Budi Lentera/ Surabaya)
Baca Juga:
Kemenpora Dukung Anak Muda Buka Lapangan Kerja Baru
Bagikan
Berita Terkait
Penanganan Penyakit Tuberculosis Bakal Contoh Pola Pandemi COVID-19
Kasus ISPA di Jakarta Naik Gara-Gara Cuaca, Warga Diminta Langsung ke Faskes Jika Ada Gejala
Ciri-Ciri dan Risiko Warga Yang Alami Long COVID
Kak Seto Yakin LPAI Jakarta Bakal Jadi Penyelamat Anak-Anak di Tengah Maraknya Kasus Kekerasan
Kemenkes Temukan 1 Kasus Positif COVID dari 32 Spesimen Pemeriksa
178 Orang Positif COVID-19 di RI, Jemaah Haji Pulang Batuk Pilek Wajib Cek ke Faskes Terdekat
Semua Pasien COVID-19 di Jakarta Dinyatakan Sembuh, Tren Kasus Juga Terus Menurun Drastis
Jakarta Tetap Waspada: Mengungkap Rahasia Pengendalian COVID-19 di Ibu Kota Mei 2025
KPK Minta Tolong BRI Bantu Usut Kasus Korupsi Bansos Presiden Era COVID-19
KPK Periksa 4 Orang Terkait Korupsi Bansos Presiden Era COVID-19, Ada Staf BRI