MerahPutih.com - Temuan stupa di Desa Nepen, Kecamatan Teras, Boyolali kembali menegaskan kekayaan arkeologis Jawa Tengah.
Tim arkeolog dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Jawa Tengah menyebut struktur batuan tersebut diprediksi berasal dari era klasik Buddha abad ke-8 hingga abad ke-10 Masehi.
Baca juga:
Bikin Geger, Warga Desa Nepen Boyolali Jelaskan Penemuan Stupa saat Buka Akses Jalan
Pamong Budaya BPK Jawa Tengah, Wardiyah, menjelaskan hasil kajian fisik awal mengonfirmasi bangunan tersebut merupakan stupa candi.
“Objek purbakala yang ditemukan warga saat pembukaan jalan baru memiliki karakteristik morfologi arsitektur suci keagamaan Buddha yang sangat jelas,” kata Wardiyah, kepada awak media, dikutip Minggu (31/5)
Struktur dan Motif Stupa
Wardiyah menyebut stupa ini memiliki tiga komponen utama: Prasada (kaki/dasar), Anda (kubah utama berbentuk lonceng), serta Harmika (puncak berbentuk segi empat).
Baca juga:
Namun, lanjut dia, komponen Yasti atau tiang tongkat yang seharusnya berada di pucuk bangunan belum ditemukan. Menariknya, stupa terbaru ini dinilai lebih lengkap dibandingkan empat temuan sebelumnya di Desa Nepen.
Total ada lima stupa ditemukan di Desa Nepen, Boyolali. Secara estetika, stupa ini memiliki komponen struktural dan ragam hias yang jauh lebih kaya dibandingkan empat temuan terdahulu,
Pamong Budaya BPK Jawa Tengah, Wardiyah
Motif hiasan pada permukaan batu didominasi relief flora berupa sulur-suluran. Pada bagian Harmika, terdapat hiasan berbentuk Antefiks yang pengerjaannya terindikasi belum selesai.
Prediksi Usia Batu Stupa
Merujuk pada catatan sejarah di kawasan Merapi–Merbabu, Tim Arkelog memprediksi usia batuan diperkirakan berada pada rentang abad ke-8 hingga abad ke-10 Masehi.
Dari masa klasik Hindu-Buddha. Dan itu jelas latar belakangnya agama Buddha,
Pamong Budaya BPK Jawa Tengah, Wardiyah
Fungsi mendasar stupa pada masa itu adalah sebagai pusat peribadatan dan penghormatan setelah Sang Buddha mangkat. Bukti sejarah juga menunjukkan bahwa Desa Nepen pada masa itu merupakan pemukiman padat penduduk Buddha.
Baca juga:
Warga Kedung Ombo, Boyolali, Gugat Presiden Prabowo soal Gelar Pahlawan Nasional untuk Soeharto
“Jadi bisa diasumsikan memang sudah ada pendukung budayanya. Yang pasti mereka diwarnai dengan latar belakang agama Buddha,” tandas Wardiyah. (Ismail/Jawa Tengah)

